Markus 10:28-31.
KADANG ketika mengikuti Tuhan, kita tidak langsung menerima upah berupa kemudahan hidup, kekayaan, atau penghargaan dari banyak orang.
Justru ada lelah, air mata, pengorbanan, dan proses panjang yang harus dijalani. Namun di tengah semua itu, Tuhan menghadirkan upah yang jauh lebih dalam: hati yang penuh sukacita karena boleh ambil bagian dalam karya kasih-Nya.
Upah mengikuti Tuhan yang paling indah bukan selalu apa yang masuk ke tangan kita, melainkan apa yang tumbuh di dalam hati kita.
Ada kebahagiaan ketika melihat orang yang dilayani mulai bangkit. Ada damai ketika seseorang yang dahulu kehilangan arah kini menemukan harapan hidupnya. Ada rasa syukur ketika orang yang pernah ditopang akhirnya mampu berjalan dengan mandiri dan menemukan sukacitanya sendiri.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau.”
Petrus mengungkapkan isi hati seorang murid yang telah berkorban banyak. Mengikuti Tuhan memang tidak murah. Ada yang meninggalkan kenyamanan, impian, kebiasaan lama, bahkan relasi tertentu demi berjalan bersama-Nya.
Namun kadang muncul pertanyaan di dalam hati: “Tuhan, apakah semua pengorbanan ini sungguh berarti?”
Ada seorang gadis yang memilih menjadi Katolik setelah pacaran cukup lama dengan pria Katolik.
Awalnya ia berpikir bahwa dengan mengikuti iman pacarnya, perjalanan cintanya akan dipenuhi kedamaian dan kasih.
Ia belajar berdoa, mengikuti misa, dan perlahan membuka hati untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Tetapi perjalanan hidup ternyata tidak seindah yang dibayangkan.
Pacarnya yang diharapkan menjadi pendamping justru kurang bertanggung jawab. Bahkan kemudian rajutan cinta mereka putus.
Dalam kepedihan itu, dia berbisik seperti Petrus: “Tuhan, aku sudah meninggalkan banyak hal untuk mengikuti-Mu.”
Ada airmata karena merasa sudah berusaha setia, tetapi dikecewakan, namun dia tidak mau meninggalkan Yesus.
Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap pengorbanan yang tersembunyi. Mengikuti Yesus bukan jaminan hidup tanpa salib, tetapi jaminan bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Justru di tengah luka dan kekecewaan, Tuhan bekerja membentuk hati yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih mengenal kasih-Nya.
Bagaimana dengan diriku?
Mampukah aku melihat bahwa Tuhan sedang bekerja membentuk hatiku melalui perjuangan hidup ini?









































