Home BERITA Jejak Sabda 28 Juli 2026: Kebaikan yang Terus Diperjuangkan

Jejak Sabda 28 Juli 2026: Kebaikan yang Terus Diperjuangkan

0
245 views
Ilustrasi - Berjuang untuk kebaikan. (Ist)

Mat 13: 36-43

PERNAH seorang anak bertanya kepada kakeknya, “Kek, mengapa ada orang yang begitu baik, tetapi kadang bisa berbuat jahat? Dan mengapa ada orang yang tampaknya jahat, tetapi masih mampu melakukan kebaikan?”

Sang kakek tersenyum lalu menjawab, “Di dalam hati setiap manusia ada dua serigala yang sedang bertarung.

Yang satu adalah serigala kebaikan: penuh kasih, rendah hati, jujur, dan suka mengampuni. Yang lain adalah serigala kejahatan: penuh iri hati, kesombongan, kebencian, dan nafsu menguasai.”

Anak itu bertanya lagi, “Lalu, serigala mana yang menang?”

Kakek itu menjawab singkat, “Yang kamu beri makan setiap hari.”

Kisah sederhana ini mengingatkan kita bahwa pergulatan antara terang dan gelap bukan hanya terjadi di dunia, tetapi juga di dalam hati setiap orang.

Bahkan mereka yang rajin berdoa, aktif di Gereja, atau melayani di altar pun tidak luput dari pergulatan itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.”

Yesus menjelaskan bahwa benih yang baik berasal dari Allah, sedangkan lalang ditaburkan oleh si jahat. Namun yang menarik, ketika para hamba ingin segera mencabut lalang, tuan ladang melarang mereka. Sebab jika lalang dicabut terlalu cepat, gandum pun dapat ikut tercabut. Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu panen.

Perumpamaan ini pertama-tama berbicara tentang hati kita sendiri. Di dalam diri setiap orang ada benih-benih gandum: kasih, kesabaran, kerendahan hati, dan kejujuran.

Namun ada pula benih lalang: iri hati, egoisme, kesombongan, kemarahan, dan keinginan untuk menguasai. Setiap hari keduanya bergulat dalam diri kita.

Pertanyaannya bukan apakah lalang itu ada, melainkan benih mana yang kita rawat setiap hari.

Allah tidak pernah berhenti menaburkan benih kebaikan dalam hidup kita. Ia juga sabar menghadapi kelemahan kita, memberi kesempatan untuk bertobat dan berubah.

Kesabaran Allah menjadi undangan agar kita pun tekun merawat benih-benih kebaikan melalui doa, Sabda Tuhan, Ekaristi, dan tindakan kasih kepada sesama.

Bagaimana dengan diriku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo