Home BERITA Paroki Lumajang, Jatim: Memotivasi Kaum Lansia Eksis di Komunitasnya

Paroki Lumajang, Jatim: Memotivasi Kaum Lansia Eksis di Komunitasnya

0
103 views
Peringatan Hari Kakek, Nenek, dan Lansia Sedunia di Paroki Maria Ratu Damai Lumajang diisi dengan sarasehan bertema "Aku Tidak Akan Melupakan Engkau" dengan tiga narsum dari Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) Malang. (Panitia)

PERINGATAN Hari Kakek, Nenek, dan Lansia Sedunia di Paroki Maria Ratu Damai Lumajang diisi dengan sebuah sarasehan bertema “Aku Tidak Akan Melupakan Engkau”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Paguyuban Paroki. Mengambil inspirasi dari Yesaya 49:15, kegiatan ini mengajak umat memandang lansia bukan sebagai kelompok yang berada di pinggir kehidupan, melainkan sebagai bagian penting dari perjalanan iman dan kehidupan menggereja.

Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) Malang

Hadir sebagai narasumber Tim Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) Malang, yaitu Caecilia Lilik Muharwati, Supriyadi, dan Tengsoe Tjahjono. Ketiganya menyampaikan perspektif yang saling melengkapi mengenai panggilan lansia dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Caecilia Lilik Muharwati membuka sarasehan dengan memperkenalkan KLTH, sebuah komunitas yang lahir pada tahun 2023 sebagai ruang persaudaraan bagi para lansia.

Ia menjelaskan bahwa KLTH tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk saling menguatkan, berziarah, berolahraga, berbagi kasih kepada panti asuhan dan panti jompo, serta terus bertumbuh dalam iman.

Menurut Lilik, komunitas membuat para lansia menemukan kembali semangat hidup karena setiap orang merasa diterima, dibutuhkan, dan memiliki kesempatan untuk terus melayani.

Supriyadi dari Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) Malang memberi paparannya kepada audiens kakek-nenek dan kaum lansia umat Paroki Lumajang, Jatim. (Panitia)

Selanjutnya, Supriyadi mengangkat keteladanan Santo Yoakim dan Santa Anna, kakek dan nenek Yesus. Berangkat dari tema “Aku Tidak Akan Melupakan Engkau”, ia mengajak peserta merenungkan kesetiaan Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan ketika manusia merasa sendiri.

Santo Yoakim dan Santa Anna dikenang sebagai pribadi yang sabar, setia dalam doa, serta menjadi pendidik pertama dalam keluarga. Dari merekalah lahir Maria, yang kemudian mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Keteladanan mereka mengingatkan bahwa para kakek dan nenek tetap memiliki peran besar dalam mewariskan iman kepada generasi berikutnya.

Pada sesi berikutnya, Tengsoe Tjahjono mengajak peserta melihat masa lanjut usia sebagai musim kehidupan yang tetap penuh harapan. Mengutip semangat Mazmur bahwa orang benar “masih berbuah pada masa tua”, ia menegaskan bahwa lansia tidak berhenti bertumbuh ketika rambut memutih.

Dalam rangkulan komunitas, lansia justru dapat tetap segar, bertunas, dan berbuah melalui pengalaman hidup, kebijaksanaan, doa, pelayanan, serta kesediaan mendampingi generasi muda. Komunitas menjadi tanah yang subur agar benih-benih harapan itu terus hidup.

Tengsoe Tjahjono dari Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) Malang tengah menjadi narsum dalam sarasehan bersama kaum lansia, kakek-nenek umat Paroki Lumajang, Keuskupan Malang, Jatim. (Panitia)

Semangat positif

Sarasehan berlangsung hangat dan dialogis. Para peserta tidak hanya mendengarkan paparan narasumber, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi pada usia lanjut, mulai dari kesehatan, kesepian, hingga kerinduan untuk tetap memiliki ruang berkarya.

Suasana kekeluargaan yang terbangun menunjukkan bahwa perhatian terhadap lansia bukan sekadar program sesaat, melainkan panggilan seluruh umat untuk membangun Gereja yang semakin inklusif.

Melalui kegiatan ini, Paroki Maria Ratu Damai Lumajang menegaskan bahwa komunitas iman adalah rumah bersama bagi semua usia. Lansia bukan sekadar dikenang atas jasa masa lalunya, melainkan dihargai sebagai pribadi yang terus menghadirkan buah-buah kehidupan.

Ketika Gereja merangkul mereka, janji Tuhan dalam Yesaya menemukan wujudnya: “Aku tidak akan melupakan engkau.”

Dalam pelukan komunitas, para lansia tetap menjadi saksi harapan, sumber kebijaksanaan, dan berkat yang terus mengalir bagi Gereja dan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo