Kamboja Sekarang dan 16 Tahun Lalu: Battambang, Provinsi di Perbatasan Thailand (7)

2
3,839 views

Kota Battambang 4BEGITU masuk kota Battambang, kita akan disambut oleh patung orang tua besar hitam sedang berlutut. Kedua belah tangannya di atas perut membopong sebuah tongkat. Patung itu mengingatkan cerita asal muasal kota ini. Bat berarti hilang, dombung berarti tongkat. Jadi, Battambang (Baca: Batdombung)  berarti “tongkat yang hilang”.

Kakek Tongkat

Cerita lengkapnya sebagai berikut.

Pada zaman dahulu Kamboja terlibat perang dengan negara tetangga. Banyak musuh masuk ke desa-desa di sebelah barat Kamboja. Musuh membunuh banyak orang, bahkan wanita dan anak-anak. Ada seorang wanita hamil yang perutnya ditikam pisau oleh musuh tetapi masih mampu melarikan diri. Anak laki-laki yang dilahirkannya cacat akibat tikaman pisau tersebut. Kemana pun anak lelaki itu pergi, ia harus merangkak karena tidak dapat menggunakan kakinya untuk berjalan seperti orang kebanyakan.

Ketika sudah beranjak dewasa, ia mendengar ada seorang suci yang mempunyai tongkat. Banyak orang memanggilnya “Ta Dambang” (Kakek Tongkat). Pada suatu hari kakek ini mengunjungi desa dimana lelaki difabel ini tinggal sejak lahir. Banyak orang datang menyambut kakek ini. Lelaki difabel ini juga sangat ingin melihatnya tetapi ia mempunyai keterbatasan.

Ketika lelaki ini sedang beristirahat, seorang malaikat yang berpura-pura sebagai orang biasa membawa sebuah kuda dan baju. Malaikat ini ingin menitipkan keduanya kepadanya. Matahari sudah mulai tenggelam tetapi pemilik barang ini belum kembali. Lelaki difabel ini tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena ia takut tidak dapat melihat orang suci ini.Kota Battambang 2

Ia pun memutuskan memakai baju itu dan menaiki kuda tersebut. Ajaib, begitu ia menaiki kuda, kuda ini melintas sangat cepat menuju kerumunan orang yang menyambut “Kakek tongkat”. Ketika kuda melihat kerumunan itu, kuda terbang di atas kerumunan orang tersebut, bahkan di atas “Kakek tongkat” yang suci tersebut. Orang-orang pun mengalihkan perhatian kepada orang yang menunggang kuda tersebut. Orang-orang berteriak,”Lihat, ada orang suci yang lain lagi!”.

Kakek tongkat sangat marah ketika popularitasnya hilang karena penampakan lelaki difabel itu. Ia mengambil tongkatnya dan melempar kuda tersebut supaya lelaki difabel itu jatuh.  Lemparan itu tidak berhasil. Bahkan Kakek ini harus kehilangan tongkat. Ia memerintahkan banyak orang untuk mencari tongkat ini tetapi tidak berhasil ditemukan. Maka orang-orang menamakan tempat itu Battambang, atau tongkat yang hilang.

Tempat itu menjadi propinsi paling barat Kamboja.

Patung “Kakek tongkat” ini dibuat di bagian selatan kota, dekat Universitas Battambang, untuk menyambut para tamu yang datang dari arah Phnom Penh, Kompong Chnang, dan Pursat.

Markas Khmer Merah

Menurut sejarahnya kota Battambang didirikan pada abad 11 oleh Kerajaan Khmer. Tercatat sebagai kota perdagangan yang penting pada abad 18, Battambang dikenal sebagai lumbung padi Kamboja.

Pada tahun 1795 Thailand menguasai daerah barat laut Kamboja termasuk Propinsi Battambang dan Siem Reap. Thailand menguasai sampai tahun 1907 saat Perancis mengambil alih dan memasukkannya sebagai daerah Koloni Indochina. Bangunan bergaya Perancis masih dapat dilihat di Battambang, misalnya Kantor Gubernur Battambang. Pada saat Perang Dunia kedua, Battambang jatuh lagi ke tangan Thailand namun kembali lagi setelah kemerdekaan Kamboja pada tahun 1953.

Munculnya kekuasaan Khmer Merah pada tahun 1975 telah mengubah sejarah.

Sebagaimana terjadi di kota-kota lain di Kamboja, semua penduduk Battambang diperintahkan meninggalkan kota. Banyak yang meninggal, entah dibunuh, kelaparan, kerja paksa, dsb di bawah rezim Khmer Merah. Ketika Vietnam masuk ke Kamboja pada tahun 1979, Khmer Merah didesak mundur. Namun demikian, Khmer Merah masih mengadakan perlawanan dari Propinsi Battambang. Battambang menjadi markas pertahanan Khmer Merah sampai mereka menyerah ke tangan Pemerintah pada tahun 1996.

Saat saya tinggal dan bekerja di Battambang tahun 1996-1997, Khmer Merah masih berkuasa di luar kota Battambang;  namun kota Battambang sendiri sudah dikuasai  pemerintah. Pada saat itu suasana perang masih terasa. Setiap saya ke luar kota Battambang, misalnya ke arah Pailin, saya masih menyaksikan truk-truk tentara dan cerita tentang pertempuran malam sebelumnya. Ketika saya kembali tahun lalu, cerita dan pemandangan tersebut sudah tidak bisa saya saksikan.

Battambang sudah relatif aman dan damai.

Kota Battambang 3Infrastruktur juga jauh lebih maju. Selain bangunan dan jalan, listrik juga sudah menjangkau 24 jam. Saat saya tinggal di kota ini enam belas taun lalu, listrik hanya menyala antara pukul 17.00-21.00. Pada pagi hari sampai jam 17.00 dan seteah jam 21.00 tidak ada listrik.

Sebagai ibu kota propinsi, kota Battambang kira-kira seluas kota Ungaran, Kabupaten Semarang. Keramaian terpusat di sekitar Psa Thmei (Pasar Baru) di pusat kota Battambang.

Kota ini menghubungkan Kamboja dengan Thailand, baik lewat Pailin di sebelah barat, dan lewat Poipet di sebelah barat daya. Dibutuhkan 2-3 jam untuk menyeberang ke Thailand lewat jalur darat. Kota ini juga menghubungkan Siem Reap, kota yang terkenal dengan candi-candi indahnya, antara lain Angkor Watt dan Bayon.

Battambang–Siem Reap ditempuh sekitar 3-4 jam dengan bis umum.

Photo credit: Suasana kota Battambang, provinsi perbatasan Kamboja-Thailand (Mispan Indarjo)

Artikel terkait:

 

2 COMMENTS

  1. selamat malam.
    cerita yg menarik sekali bapak, kebetulan tahun lalu tepatnya July 2013 saya jg brkesempatan mengunjungi Battambang sbg mahasiswa student Exchange selama 2 bln.
    Battambang menurut sy sdah relatif aman pak, jg tdk terasa suasana perang, pdahal sbelum nya jg sy sempat was was..
    mhon maaf sbelum nya sy mau tanya, bpak bkerja disana dulu sbgai apa dan brapa lama ? Sy penasaran krna bpak blang ditulisan bpak bhwa bpak bsa brbahasa khmer..
    sekian terima kasih. selamat malam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here