Kunjungi Pastor-pastor Rahib Trappist Indonesia di Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven Belanda

4
131 views
Para peziarah Indonesia datang berkunung ke Biara Trappist Abdij Koeningshoeven di Tilburg, Belanda, dan bertemu dua imam rahib Trappist Indonesia: Romo Gonzaga OCSO dan Romo Mikael OCSO. Dua imam Trappist Indonesia lainnya tidak tampak dalam foto ini. (Imelda Hidayat)

BEBERAPA hari lalu, bersama sejumlah rekan dan sahabat, saya datang mengunjungi Biara Trappist Abdij Onze Lieve van Koeningshoeven di Tilburg, Negeri Belanda.

Di biara yang dibangun tahun 1800 ini, kami berjumpa dengan empat rahib Trappist Indonesia. Dua di antaranya memang tinggal menetap di sini.

Kami di sini adalah Julia Breemer, Sisca dan Ronald Holtrop, Imelda Hidayat, dan Sr. Miranda SCMM.

Tiga imam Trappist alumnus Seminari Mertoyudan

Keduanya adalah Romo Thomas Ketut Switra OCSO, alumnus Seminari Mertoyudan angkatan tahun 1978 dan berasal dari Gumbrih, Bali. Ia sudah puluhan tahun tinggal di Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven ini.

Sedangkan yang lain adalah Romo Paulus Didik Wirasmohadi Soerjo OCSO, juga alumnus Seminari Mertoyudan angkatan tahun 1981. Sebelum memutuskan bergabung dengan Biara Trappist di Belanda ini, Romo Didik adalah imam diosesan Keuskupan Bandung.

Dua imam Indonesia jalani masa sabatikal di Biara Trappist Belanda

Dua lainnya adalah tamu istimewa dari Indonesia. Yakni, Romo Gonzaga OCSO yang kini menjadi Abbas Pertapaan Trappist Santa Maria Rawaseneng. Lalu juga ada Romo Mikael OCSO, sebelumnya menjadi Prior Pertapaan Trappist Lamanabi di Flores, NTT.

Romo Mikael OCSO juga alumnus KPA Seminari Mertoyudan tahun 1965. Selepas lulus SMA, Romo Mikael OCSO belajar setahun di Mertoyudan;baru setahun kemudian memutuskan bergabung masuk Pertapaan Santa Maria Ordo Cisterciensis (OCSO) Rawaseneng tahun 1966. Sedangkan, Romo Gonzaga OCSO berada di Biara Trappist Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven di Tilburg dalam rangka perjalanan dinas.

Berikut ini adalah rekaman peristiwa perjumpaan kami dengan keempat imam Trappist Indonesia tersebut.

Papan nama berisi ucapan “Selamat Datang” di Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven di Tilburg, Negeri Belanda di mana ada tiga orang rahib Trappist asal Indonesia yang tinggal menetap di sini. Keduanya adalah Romo Thomas Ketut Switra OCSO asal Gumbrih, Bali. Juga Romo Didik Wirasmohadi Soerjo OCSO, mantan imam diosesan Keuskupan Bandung. Keduanya alumni Seminari Mertoyudan Magelang, Jateng. Lalu Romo Mikael OCSO yang pernah menjadi Prior Pertapaan Trappist di Lamanabi, Flores, NTT.
Kami, para tamu WNI yang tinggal di Belanda, datang kunjungi Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven di kawasan Tilburg, Belanda. (Julia Breemer)
Jalan panjang menuju pintu akses masuk ke Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven di Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Kalau ingin mencari keheningan untuk sekedar rileksasi, berdoa, berkontemplasi, dan undur diri sejenak dari kesibukan harian, maka datanglah ke Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven yang indah, arstistik, dan tenang. Di sini ada beberapa kamar tamu dan oara tamu pendatang boleh menginap. (Julia Breemer)
Tempat duduk dan meja-meja panjang dari kayu di mana para pengunjung bisa menikmati keindahan alam dan sejumlah kudapan khas buatan Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven ini. (Jullia Breemer)
Banyak rumput hijau disertai pepohonan yang rindang – semuanya menjadikan tempat Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven ini sangat indah dan nyaman untuk rileksasi hati dan perasaan. (Julia Breemer)
Sejauh mata memandang, yang saya lihat adalah hijaunya lanskap Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven di mana tumbuh banyak pepohonan besar. (Julia Breemer)
Indahnya bangunan Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven yang dibangun tahun 1800 di wilayah Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Salib di areal lapangan maha luas Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven di bulan April 2024, ketika hawa di luar masih terasa sangat dingin. Salib Ini terletak di jalan menuju biara. Kami merasa suasana jalan menuju biara itu spesial, karena ada salib di pinggir jalan. Menjadi sangat berkesan, karena sekarang ini begitu banyak orang di Belanda sudah tidak mau lagi datang ke gereja. (Julia Breemer)
Betapa indah dan anggunnya Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven yang dibangun tahun 1800 silam. Dari sinilah sejumlah rahib Trappist Belanda pergi bermisi menjadi misionaris ke Indonesia dan kemudian merintis berdirinya Pertapaan Trappist Santa Maria Rawaseneng. Dari Rawaseneng kemudian tumbuh Biara Rubiah Trappistin Gedono di kaki lereng Gunung Merbabu dan kemudian Biara Trappist Lamanabi di Flores Timur. Kini tengah dikembangkan sebuah biara trappist baru di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Julia Breemer)
Patung artistik di lahan maha luas di kompleks Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven, Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Sebuah kelokan di tepi taman maha luas di kompleks Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven, Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Lorong panjang menuju bagian dalam Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven, Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Dua imam religius rahib Trappist asal Indonesia di Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Negeri Belanda. Ki-ka: Romo Paulus Didik Wirasmohadi OCSO dan Romo Thomas Ketut Switra OCSO. Keduanya alumni Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang, Jateng. (Julia Breemer)
Romo Paulus Didik Wirasmohadi Soerjo OCSO tengah berjalan menyusuri lorong panjang menuju kapel biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven di wilayah Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Seorang rahib Trappist di Biara La Trappe Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven menyalakan lilin di kapel sebelum doa ibadat harian dimulai. (Julia Breemer)
Satu sudut doa di kapel Biara Trappist La Trappe Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Kapel di mana para rabih Trappist di Biara Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven ini setiap harinya menggelar rangkaian doa dan ibadat pagi, siang, sore, dan perayaan ekaristi. (Julia Breemer)
Pintu masuk ke kapel Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Tilburg, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Pintu masuk kapel Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven di Tilburg, Negeri Belanda. Di kapel inilah kegiatan doa dan ibadat harian berlangsung. (Julia Breemer)
Altar bangunan gereja besar, namun kapel besar ini jarang digunakan, kecuali kalau ada peristiwa besar. Di musim dingin, perlu menghidupkan mesin pemanas di kape besar, namun dengan risiko butuh ongkos sangat besar untuk biaya operasional. Makanya, doa harian berlangsung di kapel kecil saja. (Imelda Hidayat)
Sudut doa di mana ada patung Bunda Maria membopong Yesus ada di lorong panjang Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Negeri Belanda. (Julia Breemer)
Sebuah lukisan ikon Yesus dan bangku-bangku tempat duduk para rahib saat mereka melantukan serangkaian doa-doa liturgis ibadat harian di kapel Biara Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Negeri Belanda. Posisinya terletak di samping altar kapel doa. Ada bunga hasil rangkaian Romo Didik Wirasmohadi Soerjo OCSO. (Julia Breemer)
Para rahib Trappist tengah menjalani ibadat doa di kapel Biara Abdij Onze Lieve Vrouw van Koenigshoeven, Belanda. Mereka duduk samping-menyamping dalam posisi saling berhadapan. (Julia Breemer)
Pada suatu momen tertentu dalam rangkaian liturgi doa ibadat harian, para rahib Trappist ini bangkit dari posisi duduk; kemudian berdiri tegak dan langsung menghadap ke arah altar dari sebelumnya duduk saling berhadapan. (Julia Breemer)
Di Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven Belanda ini tidak hanya ada kapel dan lapangan indah. Tapi juga sebuah toko di mana para tetamu dari mana saja yang datang dan menginap bisa membeli banyak hal. Apakah itu bir khas buatan para rahib, aneka jenis kue, dan barang-barang cinderamata lainnya. (Julia Breemer)
Mari bersulang minum dan menikmati bir buatan para rahib Trappist Biara Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven, Negeri Belanda ini. Ratusan ribu krat berisi bir-bir dengan merek dagang “La Trappe” ini setiap tahunnya diekspor ke luar negeri di antaranya ke Amerika Serikat. (Julia Breemer)
Bir dengan mereka dagang “La Trappe” dijual di toko depan Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven Belanda. (Julia Breemer)
Aneka jenis bir produksi Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven di Tilburg, Belanda. Diproduksi dengan merek dagang “La Trappe” yang dalam bahasa Indonesia berarti bir Trappist. (Ist)
Kami bertamu di Biara Trappist Abdij Onze Lieve Vrouw van Koeningshoeven di Tilburg, Belanda, dan bertemu dengan empat imam Trappist asal Indonesia. Mereka adalah Romo Mikael OCSO (tengah) yang sedang menjalani masa sabatikal dan Romo Paulus Didik Wirasmohadi Soerjo OCSO yang masih menjalani masa pembinaan di sana. Tidak tampak dalam foto ini adalah Romo Thomas Ketut Switra OCSO dan Romo Gonzaga OCSO. (Ist)

Kredit foto: Julia Breemer, Imelda Hidayat.

4 COMMENTS

  1. Julia dan pak Mathias,
    Wooow keren tulisannya.
    Menarik untuk dibaca ⚘👍🙏⚘

    Beberapa koreksi:
    *Rm abas Gonzaga datang ke Belanda dalam rangka mengunjungi 6 anggota di Koningshoeven dan 1 anggota di Perancis* Bukan tahun sabatical.

    *Romo Mikael pensiun sebagai Prior dari biara Trapist Lamanabi* bukan abas. Rm akan tinggal minimal 1 tahun di Koningshoeven dan bisa lebih lama dapat ijin tinggal 3 tahun.

    Penulisan Biara *Koningshoeven* yang benar.

    Terimakasih untuk kebersamaan juga bersama Fr. Amadeus,OCSO

    Terimakasih,
    Sisca & Ronald

  2. Bu Julia Breemer, Bu Sisca dan Pak Ronald H., Bu Imelda, dan Sr. Miranda SCMM, terima kasih kunjungannya. Ada beberapa koreksi yang perlu saya sampaikan:

    1. Rm Mikael OCSO juga alumnus Seminari Mertoyudan (KPA 1965), beliau masuk Rawaseneng tahun 1966. Sewaktu di Mertoyudan angkatan Pak Joseph Hardjana walau bersama hanya 1 tahun karena Rm Mikael lulusan SMA baru masuk Seminari Mertoyudan.
    2. ⁠Rm Mikael OCSO dulu Prior, bukan Abbas di Pertapaan Lamanabi, Flores. Pertapaan Lamanabi tingkat priorat belum keabasan.
    3. ⁠Rm. Abbas Gonzaga OCSO datang ke Abdij Koningshoeven untuk tugas, bukan untuk Sabbatical.
    4. ⁠Penulisan Konigshoeven mestinya Koningshoeven, kalau lengkapnya Abdij Onze Lieve Vrouw van Koningshoeven.
    5. Nama saya Paulus Wirasmohadi Soerjo dengan nama panggilan Didiek 😊.

    Terima kasih sekali lagi atas kunjungan yang dilengkapi dengan foto2 indah dan berita yang menarik.
    Tuhan memberkati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here