Lectio Divina 04.05.2023 – Menerima yang Diutus, Menerima yang Mengutus

0
220 views
Tidak ada hamba yang lebih tinggi dari tuannya, by Vatican News

Kamis. Hari Biasa Pekan Paskah IV (P)

  • Kis. 13:13-25
  • Mzm. 89:2-3.21-22.25.27
  • Yoh. 13:16-20

Lectio

16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau pun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.

20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

Meditatio-Exegese

Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya

Yesus selesai membasuh kaki para murid. Petrus merasa kurang enak. Ia tidak ingin Yesus membasuh kakinya.  “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (Yoh. 13:8). “Bila seseorang telah mandi, tidak perlulah ia membasuh diri lagi, cukuplah dengan membasuh kaki.” (Yoh. 13:10).

Tata gerak tubuh Yesus yang membasuh kaki menjadi tanda bahwa Ia mengambil peran seorang hamba atau budak. Kata yang digunakan adalah δουλος, doulos.

Menerima Yesus sebagai budak berarti menerima Yesus sebagai Mesias dan Hamba Tuhan yang memberikan diri seutuhnya bagi penebusan manusia (bdk. Yoh. 19:28-37; Yes. 42:1-17; 49:1-7).

Menerima Yesus sebagai Mesias dan Hamba Tuhan juga bermakna menolak apa yang dipikirkan orang pada masa itu tentang mesias yang akan datang sebagai panglima perang/raja agung/hakim/imam agung; mesias palsu datang membawa kembali kejayaan masa lalu Israel.

Para murid ditantang untuk menerima Yesus seperti yang Dia wartakan dan lakukan. Maka, menerima Yesus juga bermakna menerima Bapa, yang mengutus-Nya. Inilah kunci kebahagiaan: merendahkan diri dan menjadi abdi Yesus dan Dia yang mengutus Yesus.

Maka, Ia bersabda (Yoh. 13:17), “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”, Si haec scitis, beati estis, si facitis ea.

Yang harus dilakukan mereka yang menerima Yesus dan Bapa-Nya adalah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Yesus. Tiap murid memberikan seluruh diri kepada sesama, menjadi abdi dari para abdi Tuhan, servus servorum Domini.

Pemberian seluruh diri dan menjadi abdi dari dari seluruh abdi Tuhan menuntun pada sikap seperti yang dilakukan hamba  yang melayani tuannya, “Sesungguhnya, hambamu ini ingin menjadi budak yang membasuh kaki para hamba tuanku itu.” (1Sam. 25:41).

Santo Paulus menulis dengan begitu indah tentang teladan Yesus, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:5-8).

Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku

Kembali Yesus berkata terus terang dan langsung pada para murid yang percaya pada-Nya (Yoh. 13:10; bdk.  Yoh. 6:71; 12:4; 13:2). Sebab Ia menghendaki para murid mengingat sabda-Nya dan tidak berpikir bahwa Ia membuat kesalahan tentang Yudas Iskariot.

Pengkhianatan dilakukan atas inisiatif manusia atau Yudas Iskariot sendiri. Pengalaman akan pengkhianatan oleh sahabat terdekat juga dialami oleh pemazmur, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (Mzm. 41:9).

Pengalaman pengkhianatan dari seorang sahabat juga dialami oleh anak Daud, Absalom. Ia dikhianati Ahitofel, yang juga melakukan bunuh diri (2Sam. 15:12; 16:15-23; 17:3-4, 14, 23).

Akulah Dia

Sebelum  rentetan pengkhianatan, penangkapan, pengadilan, penyiksaan dan pembunuhan atas diriNya, Yesus meminta para murid percaya (Yoh. 13:20), “Akulah Dia”,εγω ειμι, ego eimi, Ego sum

Sebelum pembebasan dari perbudakan Mesir, Allah menyatakan  kepada Musa di kaki Gunung Sinai dan memperkenalkan Dirinya sebagai : “Aku menyertai engkau.” (Kel. 3:13), εγω ειμι, ego eimi, “Aku Adalah Aku.” (Kel. 3:14), “Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.” (Kel. 3:14).

Nama Tuhan, Yahwe, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub (Kel. 3:15) mengungkapkan keyakinan iman akan Allah. Ia menyertai, mendekati, dan membebaskan manusia.

Yesus menyingkapkan diri sebagai Akulah Dia dalam pelbagai kesempatan (Yoh. 8:24.28.58; Yoh. 6:20; Yoh. 18:5.8; Mrk. 14:62; Luk. 22:70). Yesus hadir di tengah pergolakan hidup pribadi dan komunitas iman. Ia hadir sebagai Wajah Allah yang berbelas kasih dan membebaskan.

Katekese

Tuhan menghendaki hamba-hamba-Nya mengembangkan seluruh kemampuan. Origenes, 185-254 :

“Juruselamat, yang adalah Tuhan, bertindak mengatasi segala tuan, yang tidak memiliki keinginan untuk menyaksikan para hamba mereka mengembangkan seluruh kemampuan terbaik. Ia adalah Putera Bapa yang penuh kebaikan dan kasih.

Walau Dia adalah Tuhan, Ia membimbing para hamba-Nya agar mampu menjadi seperti Dia, Tuhan mereka, yang tak memiliki roh perhambaan. Mentalitas itu berasal dari ketakutan, bukan roh yang dimiliki seorang anak angkat yang mampu berseru, “Abba, ya Bapa”.

Maka, sebelum menjadi seperti guru dan tuan, mereka harus saling membasuh kaki. Mereka masih belum layak menjadi murid karena masih memiliki mentalitas perbudakan hingga ketakutan.

Tetapi, ketika mereka memperoleh kedudukan sebagai guru dan tuan… mereka akan mampu meneladan Guru mereka dan membasuh kaki para murid, seperti yang dilakukan Sang Guru.” (Commentary On The Gospel Of John 32.120–22)

Oratio-Missio

Allah yang kekal, yang menjadi Terang jiwa yang mengenal Engkau, suka cita hati yang mengasihi Engkau, dan kekuatan dari kehendak yang melayani Engkau. Anugerahilah kami pengenalan akan Dikau.

Dengan demikian, kami sungguh mengasihi-Mu; dan dengan mengasihi-Mu, kami benar-benar melayaniMu, yang kami layani dengan penuh kemerdekaan. Dalam Yesus, Tuhan kami. Amin.  (Doa Santo Augustinus, terjemahan bebas). 

  • Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi pelayan bagi sesamaku?

Qui accipit, si quem misero, me accipit; qui autem me accipit, accipit eum, qui me misit – Ioannem 13:20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here