Lectio Divina 06.12.2020 – Persiapkan Jalan bagi Tuhan

0
300 views
Yohanes Pembaptis. (Ist)

Minggu. Hari Minggu Adven II (U)

  • Yes. 40:1-5,9-11
  • Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14
  • 2Ptr. 3:8-14
  • Mrk. 1:1-8

Lectio

1 Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. 2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; 3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya,”

4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” 5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di Sungai Yordan.

6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. 7 Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. 8  Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Meditatio-Exegese

Lihat, itu Allahmu

Allah tak pernah meninggalkan umat-Nya. Bahkan, ketika memberontak melawan-Nya dan dalam pengasingan, Ia mengutus para nabi untuk menemani dan menuntun mereka untuk tidak berputus harapan. Sang nabi diutus untuk menghibur umat yang berserakan di Asyur dan Babel.

Asyur menghancurkan Kerajaan Utara dan membuang sepuluh suku Israel pada 722 sebelum Masehi. Ketika Kerajaan Selatan tidak mau bertobat dari kejahatan mereka, laskar Babel memaksa dua suku di selatan, Yehuda dan Benyamin, bertekuk lutut dan dibuang ke Babel pada tahun 587/6 sebelum Masehi. Yerusalem dan Bait Allah diluluh lantakkan, rata dengan tanah.

Mereka melakukan kelaliman dan berpaling pada ilah-ilah asing. Pemberontakan itu dihukum dengan pembuangan ke Babel (Yes. 2:6). Tetapi Tuhan mengutus nabi-Nya untuk menghibur umat. Ia menjanjikan pembebasan, karena mereka telah mengalami penghukuman atas  dosa ‘dua kali lipat’ (Yes. 40:2).

Pembebasan mereka telah diumumkan. Allah, Raja alam semesta, telah memilih Koresy, maharaja Persia yang mengalahkan Babel, mengijinkan umat-Nya pulang ke Yerusalem dan membiayai pembangunan Bait Allah di puncak Moria. Raja Persia itu diberi gelar ‘mesias’, yang diurapi, karena berjasa membebaskan umat-Nya dari pembuangan (Yes. 44:24-45:25).

Nabi tidak mengidentifikasi siapa yang bersuara di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Seruan itu mengundang mereka untuk segera pulang dan memenuhi hati para buangan dengan harapan.

Untuk berjumpa dengan Allah, semua penghalang harus dimusnahkan. Jalan yang bekelok-kelok harus diluruskan; lobang dan jurang harus ditimbun; gunung dan bukit harus ratakan (bdk. Yes. 40:3-5).  

Pewarta kabar gembira terus menggemakan seruan untuk mengimani Allah. Karena Ia tidak akan menunda untuk melindungi dan merawat seperti gembala melindungi kawanan domba. Dan pada perikop ini untuk pertama kali disingkapkan identifikasi umat Allah sebagai kawanan domba.

Sabda-Nya melalui nabi (Yes. 40:11), “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.”, Sicut pastor gregem suum pascit, in brachio suo congregat agnos et in sinu suo levat; fetas ipse portat.

Ungkapan gembala dan kawanan domba kemudian menjadi tradisi suci yang melukiskan perhatian Allah kepada umat-Nya (bdk. Yer. 23:3; Yeh. 34:1ff; Mzm. 23:4). Para bapa Konsili Vatikan II pun menggunakan tradisi ini untuk melukiskan dan menjelaskan misteri Gereja, “Adapun Gereja itu kandang, dan satu-satunya pintunya yang harus dilalui ialah Kristus (lih. Yoh. 10:1-10). Gereja juga kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan akan digembalakan oleh Allah sendiri (lih. Yes. 40:11; Yeh. 34:11 dsl.).

Domba-dombanya, meskipun dipimpin oleh gembala-gembala manusiawi, namun tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri, Sang  Gembala baik dan Pemimpin para gembala (bdk. Yoh. 10:11; 1Ptr.5:4), yang telah merelakan hidup-Nya demi domba-domba (lih. Yoh. 10:11-15).” (dikutip dari Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja Lumen Gentium, 6).  

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah

Tantangan iman menghadang komunitas yang bina Santo Markus pada tahun 70-an. Mereka tak hanya dikejar-kejar oleh Kekaisan Romawi. Tetapi juga, iman mereka digoyang oleh sekelompok penyesat.

Mereka menyebarkan ajaran bahwa Yohanes Pembaptis setara dengan Yesus (bdk. Kis 18:26, 19:3). Yang lain ingin tahu bagaimana awal mula Kabar Suka Cita tentang Yesus Kristus.

Santo Markus memulai Injil dengan menjawab bagaimana Yesus memulai karya pewartaan-Nya dan tempat Yohanes Pembaptis dalam rencana keselamatan Allah. Santo Markus menggemakan kata-kata penulis suci dalam Kitab Kejadian, αρχη, arche, awal, permulaan; “Pada mulanya.”  (bdk. Mrk. 1:1; Kej. 1.1).

Seperti Kitab Kejadian melukiskan bahwa ”Penciptaan adalah “awal tata keselamatan”, “awal sejarah keselamatan” yang berpuncak pada Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 280), Injil ini melukiskan karya keselamatan yang dipenuhi oleh dan dalam diri Yesus Kristus.

Injil, ευαγγελιου, euangelion, judul kitab yang ditulis Santo Markus menekankan bahwa Yesus adalah Mesias atau Kristus yang dinubuatkan para nabi. Ia juga Anak Allah yang tunggal, sehakikat dengan Bapa. Melalui judul ini Santo Markus meringkas seluruh isi perwartaannya: Yesus Kristus, sungguh Allah, sungguh Manusia.   

Santo Markus bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah dalam permulaan Injilnya (Mrk. 1:1). Pada bagian tengah, dikisahkan dalam kesaksian tentang saat Yesus berubah rupa (Mrk. 9:2-13), diperdengarkan pernyataan Allah akan peran dan tugas perutusan Yesus, “Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7).

Selanjutnya, Santo Markus menyingkapkan tugas perutusan yang harus diselesaikan-Nya di Yerusalem. Tentang Diri-Nya sendiri Yesus menyatakan, “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10:45).

Dan di bagian akhir kitabnya, disingkapkan jati diri Yesus sebagai “Anak Allah” (Mrk. 1:1). Memang, sepanjang kisah pelayanan Yesus, roh najis atau setan sering memberitahu tahu orang banyak tentang jati diri Yesus.

Mereka dibungkam, karena bertujuan untuk menyesatkan. Dan Ia selalu berperang melawan mereka dan seluruh kuasa jahat yang bersekutu dengan sang pangeran kegelapan.

Sama seperti ketika “langit terkoyak” (Mrk. 1:10) saat Ia dibaptis Yohanes, “tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah” (Mrk. 15:38), di bawah salib, diperdengarkan kesaksian manusia dari kata-kata perwira Romawi, dari bangsa kafir (Mrk. 15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”, Vere homo hic Filius Dei erat.

Injil, ευαγγελιου, euangelion, bermakna kabar suka cita  yang disampaikan Allah kepada manusia melalui Anak-Nya. Isi dan inti Kabar Suka Cita adalah Yesus Kristus, sabda dan karya-Nya. Paus Paulus VI mengajarkan, “Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri, Kabar Baik Allah (Mrk 1:1; Rom 1:13) merupakan penginjil Pertama dan Terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai bersedia mengorbankan hidup duniawi-Nya. (dikutip dari himbauan apostolik Evangelii Nuntiandi, 7).

Para Rasul, yang dipilih Yesus untuk menjadi batu sendi Gereja, memenuhi perintah-Nya untuk mewartakan Kabar Baik Allah, Yesus Kristus sendiri, melalui pewartaan lisan, kesaksian akan apa yang mereka lihat dan dengarkan.

Mereka mewartakan kepenuhuhan seluruh nubuat para nabi Perjanjian Lama dalam diri Yesus, pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak Allah dan janji Allah untuk mengundang semua manusia ke dalam surga. Atas alasan ini kata ‘Injil’ dapat digunakan untuk pengajaran para Rasul.

Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu

Santo Markus menunjuk nubuat Nabi Yesaya saat menulis, “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu.” (Mrk. 1:2). Penginjil sebenarnya menggabungkan nubuat Nabi Maleakhi dari abad ke6 sebelum Masehi dan dan Nabi Yesaya dari abad ke-8 sebelum Masehi (bdk. Mal 3:1 dan Yes. 40:3).

Penggabungan ini bertujuan untuk memulai kisah dan kesaksian akan kedatangan Tuhan, κυριος, kurios, kata yang digunakan dalam Septuaginta, Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani, untuk menrjemahkan Nama YHWH (Yahwe). Kata  οδους, hodos,  ‘jalan’,  (Mrk. 1:3) akan berperan penting dalam kisah komunitas iman yang didirikan Yesus. “Jalan Tuhan” akan menjadi nama diri komunitas para murid Yesus (Kis. 9:2; 18:25-26; 19:9, 23; 22:4; 24:14, 22) sebelum disebut sebagai orang Kristen di Antiokhia (Kis. 11:26).

Nabi Maleakhi adalah nabi terakhir dalam kitab Perjanjian Lama dan orang terakhir yang mewartakan kedatangan Mesias. Ia diutus untuk mendamping umat yang kembali dari pembuangan Babel pada akhir abad ke-6 sebelum Masehi. Ia menubuatkan bahwa Allah akan mengutus seorang utusan yang akan datang kepada umat dalam roh Nabi Elia untuk mewartakan kedatangan Mesias (Mal. :1, 23-24). 

Sedangkan Nabi Yesaya, yang hidup pada abad ke-8 sebelum Masehi, menubuatkan pengadilan Allah terhadap umat yang berdosa dan suka memberontak melawan Allah dan akan berakhir dalam pembuangan.

Tetapi nabi juga menubuatkan bahwa Allah tetap menyertai dan akan memulihkan umat-Nya. “Jalan untuk Tuhan” (Yes. 40:3) menunjukkan makna bahwa pembuangan Babel telah berakhir; Ia memulihkan umat-Nya dan Mesias akan datang.

Santo Markus menunjukkan bahwa suara profetis yang berseru-seru dalam nubuat Nabi Yesaya berasal dari Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis adalah utusan-Nya. Ia mempersiapkan jalan bagi Yesus.

Santo Eusebius dari Kaisarea mengajarkan, “Suara itu memerintahkan bahwa jalan harus dibuka untuk Sabda Allah. Jalan harus diratakan dan semua hambatan harus disingkirkan.

Ketika Allah kira datang, Ia harus berjalan tanpa hambatan. Persiapkanlah jalan bagi Tuhan. Ini berarti kita harus mewartakan Injil dan menawarkan penghiburan pada umat-Nya, agar keselamatan dari Allah merangkul semua manusia.” (dikutip dari Commentana In Isaiam, 40, 366).

Gereja mengajarkan, “Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”.

Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia. Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23; bdk. Yes. 40:1-3). (Katekismus Gereja Katolik, 719).

Yesus pun sangat menghormati Yohanes, ketika Ia bersabda bahwa di antara yang dilahirkan rahim perempuan “tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis”, namun ditambahkan-Nya, “yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar dari padanya.” (Mat. 11:11; bdk. Luk. 7:24-30).

Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu

Yohanes Pembaptis tampil di hadapan orang banyak setelah tinggal di gurun selama lima tahun. Ia mengundang Israel untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Musia dengan menyucikan diri – mengaku dosa dan dibaptis.

Yohanes menunjukkan hubungan yang berkelanjutan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia adalah nabi terakhir dan orang pertama yang bersaksi tentang Yesus. Sementara nabi-nabi lain mewartakan Yesus dari kejauhan, baik tempat maupun waktu, Yohanes Pembaptis dianugerahi untuk langsung menunjuk Sang Mesias (bdk. Yoh. 1:29; Mat. 11:9-11).

Baptisan Yohanes bukanlah baptisan Kristiani. Baptis itu merupakan ritus atau ibadat pertobatan, tetapi menjadi pralambang akan sikap batin yang diperlukan seseorang ketika menerima baptisan Kristiani, yakni iman akan Yesus, Sang Mesias, sumber rahmat dan ketetapan hati untuk melepaskan diri dari keterikatan pada dosa.

Pengakuan dosa juga tidak sama dengan Sakramen Pengakuan Dosa yang ditetapkan Yesus. Tetapi sikap batin itu menyenangkan hati Allah, karena menjadi tanda batin yang menyesal dan harus menunjukkan sikap tobat untuk menghasilkan buah-buah pertobatan (Mat. 3:7-10; Luk. 3:7-9).

Tentang Sakramen Tobat dan Rekonsiliasi, Paus Fransiskus mengajar, “Sakramen Tobat dan Rekonsiliasi mengalir dari Misteri Paskah. Pada malam Paskan Tuhan menampakkan diri pada para murid, yang mengunci diri di Ruang Atas, dan setelah menyapa dengan salam, “Damai sejahtera bagi kamu!”.

Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” (Yoh. 20:21-23). Pada kita disingkapkan daya yang terdalam dalam Sakramen ini.

Pertama, benar bahwa pengampunan dosa bukan sesuatu yang dapat kita berikan pada diri sendiri. Saya tak bisa berkata: aku mengampuni dosaku. Pengampunan selalu diminta, diminta dari orang lain. Dan dalam Sakramen Tobat kita memohon pengampunan dari Yesus.

Pengampunan bukan buah dari usaha kita, tetapi merupakan anugerah. Anugerah itu diberikan oleh Roh Kudus yang memenuhi hati kita dengan sumber belas kasih dan rahmat yang mengalir tiada henti dari Hati Dia Yang Disalib dan Kristus Yang Bangkit.

Kedua, sakramen ini mengingatkan kita bahwa kita mengalami damai sejahtera hanya hika kita membuka diri untuk didamaikan, dalam Tuhan Yesus, dengan Bapa dan dengan saudara-saudari kita.

Kita sudah merasakan semua ini di dalam hati kita, ketika kita mengaku dosa dengan jiwa yang menanggung beban berat dan hati yang berduka. Dan ketika kita menerima pengampunan dari Yesus, kita merasa damai. Damai di hati sungguh sangat indah. Dan hanya Yesus dapat memberi damai itu. Hanya Dia.” (dikutip dari General Audience, Saint Peter’s Square, Wednesday, 19 February 2014)  

Katekese

Suara yang berseru-seru di padang gurun. Theodoret dari Cyr, 393-466:   

“Penghiburan yang benar, kelegaan hati, dan pembebasan sejati dari seluruh kemalangan yang dialami manusia hanya berasal dari inkarnasi Allah dan Juruselamat kita. Nah, orang pertama yang menjadi utusan untuk peristiwa penyelamatan ini dalah Yohanes Pembaptis yang dinaungi Roh Kudus.

Maka, nubuat kenabian mewartakan kebenaran yang terkaitan dengannya telah diberitahukan kepada kita. Tiga penulis Injil telah mengajarkan kepada dan Markus yang diberkati dan dinaungi Roh telah menyebut karya Yohanes di pembukaan Injilnya.  

Saat Yohanes, yang dipenuhi Roh, ditanyai orang Farisi apakah dia sendiri adalah Kristus, ia menerangkan bagaian perannya sendiri, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!” (Yoh. 1:23; Yes. 40:30). Aku bukanlah Sabda Allah, tetapi hanya suara, karena itulah sebagai utusan aku mewartakan Sabda Allah, yang menjelma menjadi manusia.

Terlebih, ia menunjukkan pada bangsa-bangsa lain sebagai ‘wilayah yang belum diolah’ karena wilayah-wilayah itu belum pernah menerima meterai kenabian.” (dikutip dari  Commentary on Iasiah 12.40.3)

Oratio-Missio

  • Tuhan, nyalakanlah dalam hatiku suka cita dan kemerdekaan. Penuhilah aku dengan Roh Kudus dan bantulah aku untuk menjadi saksi Injil dan senantiasa bekerja untuk menghantar sesama pada Yesus Kristus. Amin. 
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk menghantar sesama pada Yesus?

Vox clamantis in deserto: “Parate viam Domini, rectas facite semitas eius” – Marcum 1:3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here