Lectio Divina 25.11.2020 – Gagah Berani Menjadi Saksi

0
194 views
Menjadi saksi iman by Vatican News.

Rabu (H)

  • Why. 15:1-4
  • Mzm. 98:1,2-3ab,7-8,9
  • Luk. 21:12-19

Lectio

12 Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. 13 Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.

14 Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. 15 Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. 16 Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh

17  dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. 18  Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. 19  Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Meditatio-Exegese

Ditangkap dan dianiaya; diserahkan dan dihadapkan

Dalam Luk. 21:5-11, Yesus menyingkapkan 5 tanda yang menenandai akhir jaman: mesias palsu (Luk. 21:8); perang dan pemberontakan (Luk. 21:9); bangsa bangkit melawan bangsa, kerajaan melawan kerajaan (Luk. 21:10; gempa bumi di mana-mana (Luk 21:11); dan kelaparan, penyakit sampar serta tanda-tanda langit (Luk. 21:11). 

Tanda-tanda ini memang terjadi di jaman akhir (Ibr. 1:2), “tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera” (Luk. 21:9). Dan sekarang tanda keenam: pengejaran pada para murid Yesus (Luk. 21:12-19).

Selama waktu antara kedatangan-Nya yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua, para murid dipanggil untuk “sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.” (Yer. 7:5-7).

Panggilan itu bermakna bahwa mereka hanya tunduk pada Yesus Kristus, bukan setan dan seluruh anak buahnya. Konsekuensinya (Luk. 21:12):

“Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.”, inicient vobis manus suas et persequentur tradentes in synagogas et custodias, et trahemini ad reges et praesides propter nomen meum.

Pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan dan pembunuhan sepertinya menjadi akhir iman akan Yesus Kristus. Tetapi, ternyata, inilah menjadi kesempatan untuk bersaksi bahwa kuasa apa pun akan tunduk pada Yesus Kristus.

Jaman yang begitu berat ini diumpamakan seperti ibu yang akan melahirkan. Kesakitannya luar biasa, bahkan hampir menyentuh maut. Tetapi setelah kelahiran, semua duka-derita hilang dan diganti suka cita, karena seorang manusia telah dilahirkan ke dunia (Yoh. 16:21) .    

Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang

Ketika harus bersaksi, para murid Yesus tidak boleh gentar. Ia terus menyertainya. Ia juga mengutus Roh-Nya untuk berbicara atas nama-Nya, “… kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu.

Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” (Luk. 21:14-15).

Penyertaan Yesus dan Roh Kudus membuat gentar para musuh, karena mereka ternyata berperang melawan Allah, seperti seruan para ahli itu kepada Firaun (Kel. 8:19): “Inilah tangan Allah”, digitus Dei.

Para murid mungkin dibenci semua oran dan dikhianati oleh orang-orang terdekat – sanak saudara, adik atau kakak, bahkan orang tua. Namun, apabila ia berpegang teguh pada-Nya, ia tidak akan kehilangan nyawanya.

Tertullianus, ahli hukum abad kedua yang bertobat ketika melihat orang-orang Kristen bernyanyi menjelang kematian di hadapan para algojo, berseru, “Darah para martin merupakan benih!” Darah mereka adalah benih yang menumbuhkan pengikut Kristus yang baru, benih bagi Gereja. 

Santo Cyprianus, uskup pada abad ketiga berkata, “Ketika pengejaran tiba, tentara Allah dimasukkan dalam ujian, dan sorga terbuka bagi para martir. Kita belum terdaftar dalam pasukan itu untuk mempertimbangkan damai dan menghentikan perang, karena kita sadar bahwa Tuhan  telah menempatkan pertama-tama dalam perselisihan.”

Martir yang benar hidup dan mati sebagai saksi Injil. Mereka mengalahkan musuh melalui penyebar luasan harapan dan keberanian, kasih yang tak terkalahkan dan kesabaran, kebaikan hati, kejujuran dan belas kasih.

Katekese

Orang Kristiani yang setia dikenal melalui kepercayaan akan kebangkitan badan. Santo Augustinus dari Hippo, 354-430:

“Kita harus tidak ragu bahwa tubuh kita yang fana akan bangkit lagi di hari kiamat … Inilah iman Kristiani. Inilah iman Katolik. Inilah iman yang diwariskan para rasul. Percayalah pada Kristus ketika Ia bersabda, “Tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang”.

Abaikan segala hal yang tak dapat dipercaya.

Renungkan betapa engkau sungguh bernilai. Bagaimana mungkin Penebus kita mengabaikan setiap pribadi karena Ia pasti tidak pernah mengabaikan selembar rambut di kepala manusia? Bagaimana mungkin kita akan ragu bahwa Ia hendak menganugerahkan hidup kekal kepada jiwa dan tubuh kita?

Ia menjelma menjadi manusia dengan jiwa dan tubuh sama seperti kita dan mati demi kita. Ia mempertaruhkan tubuh dan jiwa-Nya demi kita ketika Ia wafat. Dan Ia bangkit lagi agar kita tidak lagi takut pada maut” (dikutip dari Sermon 214.11-12).

Oratio-Missio

  • Tuhan, penuhilah aku dengan harapan, ketekunan dan keberanian untuk menjadi saksi kebenaran. Kobarkanlah hatiku untuk berani memerangi dosa dan kuasa kematian. Amin.   
  • Apakah aku siap menyerahkan hidup bagi Kristus dan menjadi saksi Kabar Suka Cita-Nya?

continget autem vobis in testimonium – Lucam 21: 13 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here