Home BERITA Lectio Divina 25.7.2025 –Cawan, Pelayanan Dan Mati Untuk-Nya

Lectio Divina 25.7.2025 –Cawan, Pelayanan Dan Mati Untuk-Nya

0
47 views
Yesus memanggil Simon, Andreas dan Yakobus, by James Tissot

Sabtu. Pesta Santo Yakobus, Rasul (M)

  • 2Kor. 4:7-15
  • Mzm. 126:1-2ab.2c-3.4-5.6
  • Mat. 20:20-28

Lectio

20 kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21 Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Nyatakanlah supaya kedua anakku ini duduk di dalam Kerajaan-Mu, seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

22 Namun, Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” 23 Yesus berkata kepada mereka, “ “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Tempat itu akan diberikan kepada orang-orang yang ditentukan oleh Bapa-Ku.”

24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 25 Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka.

26 Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 27 Siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. 28 Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Meditatio-Exegese

Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?

Siapa yang tidak menghendaki menjadi yang pertama atau dipuja atau dihormati orang lain? Nampaknya manusia memiliki dahaga akan ketenaran, kuasa dan wibawa untuk mengatur hidup sekehendaknya sendiri.

Kisah dua orang anak Zebedeus menjadi cermin untuk bermenung tentang ketenaran, kuasa dan wibawa. Mereka menggunakan cara unik – menyuruh ibu mereka untuk berunding dengan Yesus untuk memperoleh tempat pertama dan utama dekat denganNya. 

Ungkapan ‘meminum cawan’  bermakna menderita persekusi, pengejaran, pemenjaraan dan kemartiran karena mengikuti Yesus. “Kami dapat,” jawab mereka kepada Yesus dengan berani.  Jawaban ini seolah mengungkapkan kehendak hati mereka untuk menjadi yang pertama dan utama, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung.

Akan tetapi, bila direfleksikan setelah kebangkitan Yesus, jawaban mereka mengingatkan akan Santo Paulus saat menulis (Flp 4: 13), “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”, omnia possum in eo qui me confortat.

Anak-anak Zebedeus dan Salome memang akan melayani Tuhan mereka dengan dedikasi yang luar biasa. Yakobus dibunuh dengan pedang sebagai martir atas perintah Herodes Agripa di Yerusalem pada tahun 44 (bdk. Kis 12: 1-2).

Yohanes, setelah menjalani  hukuman dan penyiksaan di Yerusalem (bdk Kis. 4:3; 5:40-41), menghabisan sisa hidupnya yang panjang di pembuangan di Pulau Patmos (Why. 1: 9). Mereka menanggung apa yang dikatakan Tuhan, “Cawan-Ku memang akan kamu minum.”

Barangsiapa ingin menjadi…

Ketika Yesus memanggil kedua belas rasul untuk menjadi murid yang terdekat dengan-Nya, Ia mengajar mereka tentang kuasa rohani yang harus dilaksanakan atas nama-Nya. Ia mendidik mereka dengan cara yang tak terbayangkan. Yesus mengajar dengan cara pikir yang berkebalikan dengan cara pikir dunia.

Saat dunia mementingkan kuasa, wewenang dan jabatan, Ia membalikkan cara pikir itu dengan mengganti: tuan dengan pelayan, terkemuka dengan hamba, pertama dengan terakhir. Yesus menyemai cara menjalankan kuasa dengan kasih, jabatan dengan pengorbanan dan pelayanan dengan kerendahan hati.

Kuasa tanpa kasih pasti pasti menjajah dan kejam. Jabatan tanpa penghormatan atas martabat manusia pasti menakutkan  dan kasar. Pelayanan tanpa kemurahan hati pasti murahan dan memicu permusuhan.

Mereka yang menghendaki untuk melayani Tuhan dalam kerajaan-Nya haruslah mempersiapkan diri untuk mengorbankan diri. Bukan hanya waktu, biaya dan sumber daya lain, tetapi juga seluruh hidup dan harta milik. Yesus menggunakan ungkapan lugas untuk menjelaskan makna pengorbanan yang ada di benak-Nya.

Sabda-Nya, “Cawan-Ku memang akan kamu minum … Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.  Mereka akan minum dari piala berisi anggur asam” (Mat. 20:23.28; Yoh. 19:29).

Piala identik dengan penderitaan dan meneteskan darah kemartiran. Tetapi juga bermakna perjuangan menghayati hidup biasa sehari-hari seturut kehendak-Nya, penuh perjuangan, pengorbanan, putus asa, jatuh-bangun, dan pencobaan. 

Melayani Tuhan berarti juga menjadi pelayan dan harus rela mengorbankan seluruh hidup bagi banyak orang, seperti yang dilakukan-Nya (Mat. 20:28), “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”,sicut Filius hominis non venit ministrari sed ministrare et dare animam suam redemptionem pro multis.

Para bapa Konsili Vatikan II mengajarkan tentang makna pelayanan dalam Gereja, “Konsili menawarkan kepada umat manusia kerja sama Gereja yang tulus, untuk membangun persaudaraan semua orang, yang menanggapi panggilan itu.

Gereja tidak sedikit pun tergerak oleh ambisi duniawi; melainkan hanya satulah maksudnya: yakni, dengan bimbingan Roh Penghibur melangsungkan karya Kristus sendiri, yang datang ke dunia untuk memberi kesaksian akan kebenaran; untuk menyelamatkan, bukan untuk mengadili; untuk melayani, bukan untuk dilayani.” (Gaudium et Spes,3; bdk.  Lumen Gentium, 32; Ad Gentes, 12; Unitatis Redintegratio, 7).

Yakobus Besar

Tentang Santo Yakobus Besar, Bapa Suci Benediktus XVI mengajar, “Nama Yakobus berasal dari kata Iakobos, bentuk kata Yunani untuk nama Bapa Bangsa yang ternama, Yakub. Rasul yang menyandang nama ini adalah saudara dari Yohanes dan dalam daftar para rasul di atas berada dalam urutan kedua setelah Petrus seperti dalam Injil Markus (Mrk. 3:17).

Namun Injil Matius (Mat. 10:2) dan Lukas (Luk. 6:14) menempatkannya pada urutan ketiga setelah Petrus dan Andreas. Sedangkan dalam Kisah Para Rasul, ia di urutan ketiga setelah Petrus dan Yohanes (Kis. 1:13).

Yakobus, bersama Petrus dan Yohanes, termasuk dalam kelompok murid istimewa. Mereka menyaksikan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus.

Di saat yang terik matahari sekarang, saya akan meringkas dan menyebutkan hanya dua peristiwa penting itu. Yakobus, bersama Petrus dan Yohanes, ambil bagin dalam penderitaan Yesus di Taman Getsemani dan peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Maka, peristiwa yang dialaminya menunjukkan dua situasi yang sangat kontrastif.

Di satu sisi, Yakobus, bersama kedua Rasul lain, mengalami kemuliaan Tuhan dan menyaksikan Dia sedang berbicara pada Musa dan Elia; ia menyaksikan kemuliaan ilahi memancar keluar dari Yesus. 

Pada kesempatan lain, ia menghadapi sendiri penderitaan dan penghinaan. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Anak Allah merendahkan Diri-Nya sendiri, taat hingga kematian menjemput-Nya.

Pengalaman terakhir pasti menjadi kesempatan baginya untuk tumbuh dalam iman, menyesuaikan pengalaman pribadi dan mulia dari pengalaman sebelumnya. Ia harus memahami bahwa Mesias, yang diharapkan bangsa Yahudi sebagai sang pemenang ternyata tidak hanya dikelilingi oleh kehormatan dan kemuliaan, tetapi juga oleh penderitaan dan kelemahan. Kemuliaan Kristus dipenuhi dengan tepat di Kayu Salib, dalam partisipasi-Nya dalam penderitaan kita.

Pertumbuhan iman ini disempurnakan oleh Roh Kudus pada Hari Raya Pentekosta, sehingga Yakobus, pada saat puncak kesaksiannya, tidak mundur sejengkal pun, tidak mengingkari imannya. Awal abad ke-4, pada tahun 40-an, Raja Herodes Agrippa, cucu Herodes Agung, Santo Lukas mencatat, “Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.” (Kis. 12:1-2). […]

Maka, kita dapat belajar banya dari kisah Santo Yakobus: sikap batin untuk segera mengikuti panggilan Tuhan, termasuk ketika Ia meminta kita meninggalkan perahu kenyamanan kita; semangat dan gairah untuk mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya pada kita, suatu jalan yang mengatasi praanggapan kita yang menipu; dan kesediaan untuk bersaksi dengan sepenuh keberanian demi Dia, jika perlu hingga titik tertinggi, yaitu mengurbankan nyawa.

Dengan demikian, Yakobus Besar menjadi teladan bagi kita dengan sikap ketaatan yang meluap dari hatinya pada Kristus. Ia, yang semula melalui ibunya meminta untuk duduk bersama saudaranya di sisi kanan dan kiri Sang Guru di Kerajaan-Nya, menjadi orang pertama yang minum piala penderitaan dan ambil bagian bersama para Rasul dalam kemartiran.

Demikianlah Yakobus Agung berdiri di hadapan kita sebagai contoh yang fasih tentang ketaatan yang murah hati kepada Kristus. Ia, yang awalnya meminta, melalui ibunya, untuk duduk bersama saudaranya di samping Sang Guru di Kerajaan-Nya, justru adalah orang pertama yang meminum cawan penderitaan dan berbagi kemartiran dengan para Rasul.” (Audiensi Umum, Rabu, 21 Juni 2006).

Katekese

Tidak untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Santo Yohanes Chrusostomus, 344-407:

“Yesus bersabda, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Sabda itu bermakna seolah-olah Ia bersabda, “Aku menghendaki tidak akan berhenti walau harus mati. Walau Aku mati, hidup-Ku menjadi tebusan bagi banyak orang. Untuk siapa? Untuk musuh. Untukmu. Bila kamu dilecehkan, hidup-Ku Kuberikan padamu. Aku untukmu”. 

Maka, kamu tidak perlu terlalu cemas bila kamu menderita karena tidak dihormati. Tak peduli seberapa rendah kamu direndahkan, kamu tidak akan direndahkan sejauh Tuhanmu direndahkan. Dan, walau sedalam apapun ia direndahkan, ia akan ditinggikan.

Karena sebelum Ia menjelma menjadi manusia dan disalibkan, ia tak pernah kehilangan kemuliaan-Nya. Terlebih, Ia  memperoleh kemuliaan lebih lanjut dari pengetahuan yang dialamiNya selama di dunia.

“Maka, janganlah takut, karena kehormatanmu dirindahkan. Lebih baik, bersiaplah untuk merendahkan dirimu sendiri. Karena dengan cara ini kau akan lebih dimuliakan dan diagungkan. Inilah pintu menuju Kerajaan.

Marilah kita tidak beranjak ke arah yang berlawanan. Marilah kita tidak berperang melawan diri sendiri. Karena bila kita menghendaki untuk nampak besar, kita tidak akan menjadi besar, tetapi justru akan menjadi yang terhina.

Apakah kau tahu bagaimana Yesus di mana-mana mendorong murid-Nya untuk tidak memberhalakan barang dunia? Ia memberikan pada mereka apa yang mereka kehendaki tetapi dengan cara yang tidak mereka sangka-sangka.” (The Gospel Of Matthew, Homily 65.4.25 ).

Oratio-Missio

Tuhan, jadikan aku pelayan kasihMu demi KerajaanMu, agar aku selalu memilih untuk melayani daripada dilayani. Kobarkanlah hatiku dengan kasihMu agar aku memberi dengan murah hati dan melayani dengan suka cita demi Engkau. Amin.

  • Apa perlu kulakukan bila enggan melayani Tuhan?

Sicut Filius hominis non venit ministrari sed ministrare et dare animam suam redemptionem pro multis – Matthaeum 20:28

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo