Lectio Divina 28.02.2021 – Inilah Anak-Ku, Dengarkanlah Dia

1
233 views
Ilustrasi - Yesus menampakkan kemuliaan-Nya by Francesco Zuccarelli, 1788.

Minggu. Pekan Prapaskah II (U)

  • Kej. 22:1-2.9a.10-13.15-18.
  • Mzm.116:10.15.16-17.18-19.
  • Rm. 8:31b-34.
  • Mrk.9:2-10.

Lectio

2  Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, 3  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. 5 Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. 7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. 9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.

10 Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati.”

Meditatio-Exegese

Engkau mendengarkan firman-Ku

Allah memegang teguh janji-Nya dan menepati pada Abraham. Ia telah mengaruniakan seorang anak melalui Sara. Kini, Abraham dituntut untuk membuktikan kesetiaannya pada Allah dengan cara mengorbankan anaknya yang tunggal. Ia harus membuktikan bahwa anak itu bukan miliknya, tetapi milik Allah.

Perintah-Nya, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej 22:2). 

Tuntutan Allah sepertinya tidak masuk akal sehat.

Abraham baru saja kehilangan anaknya yang lain, Ismael, yang bersama ibunya, Hagar. Mereka diusir (Kej. 21:8-21). Mengurbankan anak yang akan menjadi ahli warisnya bermakna lepas bebas dari seluruh kelekatan pada diri sendiri, termasuk pada pemenuhan janji yang menjadi nyata dalam diri Ishak. Dan, Abraham pun taat.

Tentang ketaatan Abraham pada Allah, Gereja Katolik mengajarkan, “Sebagai pemurnian terakhir imannya diminta pula dari Abraham “yang telah menerima janji itu.” (Ibr. 11:17), agar mempersembahkan puteranya, yang telah Allah berikan kepadanya.

Imannya tidak goyah, “Allah sendiri akan menyediakan anak domba itu” (Kej. 22:8), demikian Abraham berkata, karena “ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang, sekalipun dari antara orang mati.” (Ibr. 11: 19).

Demikianlah bapa orang beriman serupa dengan Allah Bapa (bdk. Rm. 4:16-21), yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya untuk semua orang (bdk. Rm. 8:32).

Doa membuat manusia serupa lagi dengan Allah dan membiarkan ia mengambil bagian dalam kekuasaan cinta kasih Allah yang membebaskan banyak orang” (dikutip dari Katekismus Gereja Katolik,2572).

Allah menguji iman Abraham. Abraham membalas dengan ketaan pada-Nya. Maka, Allah membaharui janji-Nya, ”Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” (Kej. 22:17-18; bdk. Kej. 12:1-3).

Abraham meyakini Allah tetap berkarya walau nampaknya tak mungkin bagi akal sehat. “Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya, “Bapa.” Sahut Abraham, “Ya, anakku.” Bertanyalah ia, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” (Kej 22:7-8). Keyakinan Abraham terungkap dalam kata-katanya, “Allah akan menyediakan.”, Deus providebit.

Karena kekokohan iman dan ketaatan pada Allah, Abraham tidak mengalami ketakutan apa pun. Implisit, kekokohan dan ketaatan iman ini dipuji Santo Paulus saat dengan gaya retoris berkata, ”Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31b). Seperti sikap batin dan iman Abraham, jika berpihak pada Allah, Ia pasti melakukan apa saja bagi manusia.

Ia merelakan Anak-Nya yang tunggal, membenarkan dan membela manusia. Sedangkan Allah menghendaki agar manusia berpaut pada-Nya. Tetapi, dalam hidup sehari-hari, Santo Paulus mengingatkan akan tujuh kesukaran yang bisa memisahkan manusia dari Allah: penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, dan pedang (Rm. 8:35).

Meneladan sikap iman Abraham, Santo Yohanes Chrysostomus menulis tentang Paulus, “Paulus sendiri harus menghadapi banyak sekali musuh. Orang yang tak mengenal Allah menyerangnya; rekan-rekannya menjebaknya; bahkan umat, kadang dalam jumlah banyak, bangkit melawan dia. Namun, Paulus selalu keluar sebagai pemenang. Kita seharusnya tidak melupakan bahwa orang Kristiani yang setia pada hukum Allahnya akan mengalahkan baik manusia dan setan itu sendiri.” (dikutip dari Homily on Rome, 15).

Pengorbanan Ishak memiliki ciri khas yang serupa dengan  korban penebusan yang dilaksanakan Yesus.

Bapa menyerahkan anak-Nya; Sang Anak menaklukkan diri pada kehendak BapaNya; alat-alat untuk mempersembahkan korban – kayu, pisau dan altar. Kisah ini mencapai titik puncak pada ketaatan Abarahan dan kerelaan Ishak untuk tidak melawan.

Dengan cara inilah berkat Allah merentang dan melingkupi segala bangsa (Kej. 22:18). Membandingkan pengorbanan antara Ishak dengan Yesus, Santo Paulus memandang bahwa kematian Yesus merupakan titik puncak kasih Allah pada manusia, ”Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32).

Tentang anak domba yang dipersembahkan Abraham, beberapa bapa Gereja berpandangan sebagai pralambang Yesus Kristus.

Santo Ambrosius menulis, ”Melambangkan siapa anak domba itu jika bukan tentang Dia seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, “Siapa telah meninggikan tanduk-Nya?” (Mzm. 148:14) […] Kristus: Dialah yang dilihat Abraham dalam pengorbanan itu; itulah sengsara-Nya yang dia lihat.

Jadi, Tuhan kita sendiri bersabda tentang Abraham, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yoh. 8:56).

Maka, Kitab Suci menyatakan, “Abraham menamai tempat itu, “TUHAN menyediakan.” (Kej. 22:14).

Hingga saat ini tiap orang berkata, “Tuhan menampakkan diri di gunung, yakni, Ia menampakkan diri pada Abraham dengan menyingkapkan sengsara yang ditanggung tubuh-Nya kelak kemudian hari, agar Ia menebus dunia.

Dan, pada saat yang sama,  ambil bagian dalam sengsara-Nya saat ia menoleh dan dan melihat domba jantan yang tanduknya tersangkut di belukar. Belukar melambangkan tiang salib.”  (dikutip dari De Abraham, 1, 8, 77-7.8).

Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke sebuah gunung yang tinggi

Setelah pengakuan iman Petrus di Kaisarea Filipi bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8:27-30), Yesus mengajak kelompok inti ini (Mrk. 9:2; bdk. Mrk. 5:37; 9:14; 13:3; 14:33) ke gunung untuk melihat kemuliaan-Nya.

Ia hendak memenuhi nubuat-Nya, “… sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa” (Mrk. 9:1).

Di gunung Sinai Musa menghadap Allah enam hari lamanya dan pada hari ketujuh Allah menampakkan diri-Nya padanya (Kel. 24:15-16). Di gunung Horeb Tuhan, Allah semesta alam, menampakkan diri-Nya pada Nabi Elia dalam rupa angin sepoi-sepoi basa (1Raj. 19:12).

Kepada tiga orang murid inilah Yesus akan menampakkan kebenaran tentang akhir jaman (lih. Mrk. 13:3; 14:26). Gunung menjadi puncak tertinggi tempat manusia dan Allah berjumpa.

Pernyataan diri Yesus terjadi di depan mata mereka melalui serangkaian peristiwa. Ia berubah rupa (Mrk. 9:2), mengenakan pakaian sangat putih berkilat-kilat (Mrk 9:3).

Lalu, nampak Elia bersama Musa (Mrk. 9:4). Awan menaungi mereka (Mrk. 9:7), dan, akhirnya, tidak melihat seorangpun lagi, kecuali Yesus (Mrk. 9:8).

Yesus berubah rupa

Santo Markus menggunakan kata  μετεμορφωθη, metemorphothe, dari kata dasar μεταμορφοω, metamorphoo.Perubahan rupa Yesus tidak seperti yang terjadi pada kejadian alam biasa, seperti ulat menjadi kupu-kupu.

Ia berubah rupa dari penampakan-Nya yang duniawi menjadi penampakan makhluk surgawi (bdk. 1Kor. 15:51-52).

Pakaian-Nya yang putih bercahaya merupakan pakaian yang dikenakan semua makhluk surgawi dan semua yang dibangkitkan dari mati (Mrk. 16:5; Kis. 1:10; Dan. 12:3; Why. 7:9).

Pernyataan diri Yesus dalam kemuliaan di gunung menjadi pralambang kebangkitan-Nya kelak.

Bersama Yesus hadir pula Musa dan Elia. Pakaian putih berkilauan dan wajah Musa bercahaya sama seperti ketika ia berbicara dengan Yahwe dan menerima Hukum Taurat (Kel. 34: 29-35).

Elia membela keesaan Allah yang dicampakkan oleh Raja Ahab dan Izebel. Ia menghancurkan seluruh pemujaan pada Baal, bahkan, seluruh nabinya dibunuhnya di Sungai Kison (1Raj. 18:40). 

Dalam penampakan itu, Allah selalu hadir dalam rupa awan. Allah menaungi Musa dan umat Israel dengan tiang awan yang tebal (Kel. 13:21; 19:9). Allah menaungi juga Elia dengan awan setelapak tangan.

Kemudian berubah menjadi awan badai yang menyapu seluruh musuh Allah di bawah gunung Karmel (1Raj. 18:44-46).  

Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia

Dari tengah awan, Allah bersabda, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!” (Mrk. 9:7). Sabda-Nya mengingatkan akan sosok Mesias, Hamba Yahwe, seperti dinubuatkan Nabi Yesaya (bdk. Yes. 42:1).

Ungkapan, “Dengarkanlah Dia” dinubuatkan Nabi Musa (Ul. 18:15).

Dalam diri Yesus seluruh nubuat tentang-Nya digenapi. Ia menggenapi-Nya melalui jalan salib, seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya tentang Hamba Yahwe yang menderita sengsara, bahkan, kematian (Yes. 53:3-9).

Menurut Ulangan 19:15, kesaksian dua orang selalu tidak diragukan, sehingga Musa dan Elia hadir menjadi saksi kebenaran. Dan tentang Elia yang dirindukan, Yesus ternyata menyadari kehadiran Yohanes Pembaptis.

Ia merintis jalan bagi-Nya sebagai Elia baru (Mi. 3:23-24; Sir. 48: 10). Tetapi, setelah kehadiran mereka berdua, tinggallah Yesus sendiri. Ia menjadi kunci untuk memahami seluruh Perjanjian Lama.

Mendengarkan Yesus bermakna mengikuti seluruh jejak langkah hidup, sabda dan karya-Nya. Ketika Ia menderita sengsara, wafat di salib, dan bangkit pada hari ketiga, seluruh hidup, sabda dan karya-Nya dibenarkan Allah. 

Maka, sebenarnya tidak ada keraguan lagi tentang Dia, seperti kebodohan para murid yang diajak-Nya ke gunung itu (Mrk. 9: 5).

Jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu

Yesus tidak menghendaki kehebohan dan popularitas murahan. Ia tidak ingin para murid-Nya salah mengerti tentang Dia. Ia tidak menghendaki para murid segera mewartakan apa yang mereka saksikan.

Ia meminta mereka merenungkan, mencerna seluruh kisah hidup-Nya terlebih dahulu dan memberi makna bagi hidup mereka.

Singkatnya, mereka diminta menemukan dan mengalami siapa Yesus. Dan setelah diendapkan, mereka siap menjadi saksi-Nya, dimulai dari Yerusalem hingga ke ujung dunia.

Katekese

Yesus berubah rupa. Santo Hieronimus, 347-420:

Kamu menghendaki menyaksikan Yesus berubah rupa? Bersama saya, pandanglah Yesus yang dikisahkan dalam Kitab Suci. Biarkan Dia dipahami budimu.

Di sana Ia dicerna baik ‘menurut daging’ dan, pada saat yang sama Ia sungguh-sungguh Allah. Ia dipahami sebagai Allah menurut kemampuan pemahaman kita.

Inilah cara bagaimana Ia dipahami oleh mereka yang pergi ke puncak gunung untuk berada dekat dengan-Nya.

Sementara, mereka yang tidak mendaki gunung masih dapat memahami karya dan mendengarkan sabda-Nya, yang menggelorakan jiwa. Untuk mereka yang naik ke gunung Yesus berubah rupa, bukan untuk mereka yang di bawah.

Ketika Ia berubah rupa, wajah-Nya berkilauan bagai matahari, sehingga Ia dapat dipandang oleh anak-anak terang, yang telah meninggalkan pekerjaan kegelapan dan mengenakan senjata terang (Rm. 13:12).

Mereka bukan lagi anak-anak kegelapan atau malam, tetapi telah menjadi anak-anak siang. Mereka berjalan seperti sungguh-sungguh di siang hari.

Setelah dinyatakan, Ia akan bercahaya bagi mereka bukan semata-mata seperti matahari, tetapi seperti yang seharusnya Ia nyatakan, matahari keadilan dan kebenaran (dikutip dari Commentary On Matthew 12.37.10 ).

Oratio-Missio  

  • Tuhan, ajarilah aku untuk terus berjaga-jaga dan peka akan sabda-Mu, karya-Mu, dan kehadiran-Mu setiap waktu. Ijinkanlah aku menyaksikan kemuliaan-Mu. Amin.   
  • Firman-Nya, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (Mrk 9:7).

Hic est Filius meus dilectus; audite illum – Marcum 9:7

1 COMMENT

  1. Ishak itu seorang anak yang disuruh ayah nya Abraham memikul kayu bakar. Tidak jelas berapa umur Ishak saat itu. Kalau masih anak2 ya sulit melawan kehendak Bapa nya.
    Dia tidak melawan sepertinya beda dengan kasus pada Yesus.
    Dia mungkin tidak tau akan dikorbankan. Beda dengan Yesus yang sadar dengan misi Nya. dikorbankan untuk menebus dosa manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here