Mutiara Keluarga: Menolak Anak

1
32 views
Ilustrasi: Orangtua menjadi katekis bagi anak-anaknya di rumah. (FX Juli Pramana)

WALAU jarang terjadi, orangtua yang secara terang-terangan dan dengan jelas serta tegas pula sampai hati menolak anaknya. Namun kadang hal itu bisa terjadi pula.

Penolakan yang demikian sering dapat dimengerti juga. Seperti anak-anak yang kehamilannya tidak dikehendaki. Atau entah karena “kecelakaan” atau korban tindak kekerasan seksual.

Orangtua menolak anak

Namun bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Yang ingin saya kupas adalah penolakan yang sering kurang disadari orangtuanya. Sebab ini bisa dialami oleh anak yang kehadiran sungguh amat ditunggu-tunggu dan disayangi orangtuanya.

Penolakan itu dapat bermacam-macam bentuk dan wujudmya. Mulai dari yang paling halus sampai yang paling kasar. Anda yang kini telah menjadi orangtua mungkin dapat menjawab pertanyaan saya berikut ini?

Pernahkah anda merasa malu karena anakmu? Malu bahwa anaknya kok istimewa. Rasa malu ini adalah bentuk halus penolakan orangtua atas anaknya. Wujud penolakan misalnya malu, karena secara fisik anaknya tidak sempurna atau cacat fisiknya.

Bisa juga malu, karena secara psikis anaknya tidak seperti anak pada umumnya. Lalu orangtua mencoba untuk menyembunyikannya. Ini pun penolakan.

Ilustrasi – Ditolak.

Ada pula orangtua yang tak pernah memuji hasil perjuangan anaknya. Alasannya, perkembangan fisik atau perkembangan psikisnya yang kurang menggembirakan atau tidak dapat dipamerkan.

Bentuk lain lagi adalah membandingkan dengan anak lain,dan tak pernah mengafirmasi sisi-sisi positif anaknya. Penolakan model lain terjadi, ketika orangtua tak bisa percaya sepenuhnya pada anaknya. Tak mempercayai anak juga berarti menganggap anaknya tak pernah tumbuh makin dewasa. Tak pernah membanggakan anaknya adalah juga bentuk penolakan atas anaknya.

Mengapa kita perlu membahas penolakan?

Ada dua alasan.

  • Pertama, karena penolakan dapat menimbulkan luka batin pada diri anak.
  • Kedua, penolakan juga mengakibatkan kecilnya kepercayaan diri anak.
  • Selain kedua hal itu, penolakan juga merusak relasi antara anak dan orangtua; relasi antara orangtua dan Tuhan; antara anak dan Tuhan.

Jangan mengira anak yang masih kecil atau belum dewasa tak akan tahu yang orangtua pikir dan rasakan. Itu tidak benar. Meskipun anak belum bisa mengungkapkan atau berpikir runtut, namun anak sudah dapat merasakannya.

Ilustrasi – Kasih orangtua kepada anak. (Ist)

Anak dapat merasakan bahwa ia tidak diterima atau bahwa ia ditolak oleh mama atau papanya. Oleh karena itu, jika di pikiran terbersit penolakan atas anakmu, maka segeralah memperbaiki diri. Mintalah maaf pada anakmu dan bertobatlah sebelum terlambat.

Sebab menyimpan penolakan dalam hati itu berbahaya. Suatu saat akan meletup juga. Jika letupan itu tertangkap anakmu, itu menyakitkan. Dan hal itu dapat menimbulkan luka mendalam dan berkepanjangan.

Kedua, jika penolakan tanpa sadar itu berlangsung terus-menerus dan dalam jangka waktu lama, tidak mustahil direspons dengan cara dan sikap yang berbeda.

Bila yang mengalami penolakan itu anaknya introvert akan membuat menyebabkan anaknya kurang percaya diri. Bila yang ditolak itu anak ekstrovert, mungkin anaknya akan membenci atau memusuhi orangtuanya. Permusuhan ini bisa sementara bisa selamanya.

Penolakan itu tidak perlu. Mengapa?

Karena penolakan seperti itu merusak relasi hati. Kedua, penolakan terhadap anakmu merupakan kesombongan orangtua.

Karena anak itu bukan hanya anak orangtua. Yang pertama dan utama dia adalah anak Tuhan. Yang punya rencana dan kehendak adalah Tuhan.

  • Bukankah banyak pasutri merindukan anak, tapi tak pernah mendapat anak?
  • Bukankah ada pula yang anaknya sudah lahir, bahkan sudah besar pun akhirnya dipanggil Tuhan kembali?

Menurut saya, hal itu adalah bukti terkuat bahwa meskipun manusia berkeinginan, namun jika Tuhan tidak menghendaki, orangtua tak kunjung mendapat anak juga.

Kalau anak adalah anak Tuhan, maka ada dua konsekuensinya.

  • Pertama, anak adalah anugerah Tuhan.
  • Kedua, Tuhan sesungguhnya punya sencana sendiri khusus untuk anakmu tersebut. Rencana dan kehendak-Nya tak lepas dari panggilan dan pengutusan untuk apa dia dilahirkan.
Ilustrasi – Mengajak anak-anak masuk gereja sebagai bemtuk kegiatan bina iman anak-anak. (Dok. Sesawi.Net)

Refleksi
Dari sananya, setiap anak adalah pribadi yang unik. Unik karena adanya dari kehendak Tuhan serta dari keinginan kedua orangtuanya.

Oleh sebab itu, kalau Tuhan yang punya rencana, maka apakah anak cacat atau sempurna; anak sakit atau sehat, mesti kita terima dengan penuh syukur; tak perlu mengeluh atau menolaknya. Kita, orangtua, hanya perlu menemani sampai anak siap diutus-Nya.

Peran orangtua mungkin bisa membantu, tapi bukan menentukan.

Juga ketika anakmu cacat fisik maupun psikis, terimalah. Bukan karena “harus” diterima, tapi karena percaya.

Percaya bahwa Tuhan punya rencana atas dirimu dan atas anakmu. Maka, andai mama-papa terpilih mendapat anak demikian, itunya artinya oleh Tuhan mama papa dipercaya dan dinilai mampu untuk itu.

Terimalah aku
Sebagai anakmu
Jangan sisakan tempat
demi malu atas diriku
Sebab walau tak terucap, namun terbawa dalam sikap
Saat hatimu menolakku
Sebab malu telah menggerakkan rasa menolak di lubuk kalbu
Temani aku di hidupku
mengolah jiwa ragaku
Menggodhog asa
Mengemban misi
Dari Hyang Widi

Jika Anda berkenan dan ingin membagikan tulisan ini, monggo silakan. Terimakasih.
Jika Anda tergerak hati dan berkenan untuk menanggapi letupan jiwa ini atau sharing pengalaman, juga kami berterimakasih sebelumnya.

YR Widadaprayitna
H 240618 AA

Baca juga: Mutiara Keluarga: Di cintamu nenek, hidupku bertumpu

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here