Puncta 10.08.20: Abdi Setia

0
247 views
Ilustrasi - kesetian seorang abdi dalem by ist


PW. St. Laurensius, Diakon dan Martir
Yohanes 12:24-26

KATA-kata yang sangat terkenal dari Diakon Laurensius adalah “Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya.”

Itu yang dia katakan kepada Paus Sixtus II.

Paus terharu mendengar kata-kata Laurensius itu.

Lalu ia berkata: “Janganlah sedih dan menangis, anakku. Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi”.

Paus Sixtus II bersama dengan dua orang diakonnya yaitu St. Felisismus dan St. Agapitus langsung dibunuh oleh algojo.

sedangkan St. Laurensius ditangkap dan dibawa ke penjara. Inilah masa penganiayaan zaman Kaisar Valerianus pada tahun 258.

Laurensius ditugasi mengelola harta gereja untuk dibagikan kepada kaum miskin. Perfek kota Roma meminta dia menyerahkan seluruh harta gereja. Tiga hari kemudian ia membawa seluruh orang miskin di Roma ke hadapan walikota.

“Inilah harta gereja,” katanya kepada perfektus Romawi.

Karena dianggap mengolok-olok walikota dia ditangkap dan dipanggang hidup-hidup. Ia mati sebagai martir di Roma mengikuti tuannya.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku dan dimana Aku berada, di situ pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Laurensius adalah contoh abdi yang setia. Kalau kita mendengar kata abdi, kita bisa membayangkan para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Para abdi itu tidak mencari gaji atau upah, mereka mengharapkan “berkah” dari raja yang merupakan pangejawantahan Gusti. Dengan mengabdi raja mereka ingin tenteram hidupnya.

“Dengan menjadi abdi Dalem, saya merasa ‘sumeleh’. Hidup rasanya ayem tentrem. Tidak “ngongso” hanya mengejar materi, tetapi ketentraman batin,” kata Pak Ariyanto (46) yang menjadi abdi panakawan dengan gaji sekitar belasan ribu rupiah saja.

Bukan uang yang dicari tetapi “urip tentrem” itulah falsafah hidup para abdi. Laurensius menjadi abdi setia pada Paus Sixtus II.

Ia mengikuti kemana pun tuannya berada sampai akhir hayat. Ia membagi-bagikan harta bagi kaum miskin karena harta yang utama adalah kebahagiaan kekal di surga.

Apakah kita juga menjadi abdi setia bagi Kristus Tuhan kita?

Tidak sengaja dapat kenikmatan.
Fetish hanya dengan selembar kain.
Tekun setia mengabdi Tuhan.
Hidup akan tentram lahir dan batin.

Cawas, mawar indah di atas batu karang….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here