Sedihnya Isteri, Suami Ada Main dengan Pembantu Rumahtangga

0
531 views
Ilustrasi - Suami selingkuhi isterinya dengan diam-diam menghamili pembantu rumah tangganya. (UniFrance)

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN.

Kamis, 15 Juli 2021.

Tema: Bersama Dia.

  • Bacaan Kel.3: 13-20.
  • Mat. 11: 28-30.

KULIHAT ada patung Yesus tak bertangan.

Lama dalam keheningan mencoba belajar memahami. Kontemplasi terbantu dengan tulisan di bawah, “Kamu adalah tangan-Ku.”

Apa yang dapat Tuhan lakukan tanpa tangan kita. Memandang-Nya, tidak mampu. Pasti mati. Mendekat saja belum tentu dapat.

Kehinaan, celah dan kelemahan manusiawi membuat kita tidak berani menatap-Nya. Tertunduk pilu menanti jamaah-Nya itulah kerinduan.

Dilayakkan.

“Kamu adalah tangan-Ku” menegaskan kitalah perpanjangan hati Allah yang belas kasih. Kasih-Nya tidak hanya menyempurnakan, juga sebuah pengutusan mewartakan kebaikan hati-Nya.

Pantaskah? Layakkah? Mampukah? Sederet penyadaran diri akan ketidakberdayaan dan ketidaklayakan di hadapan Sang Hyang Kudus.

Musa memohon, “Apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku:  bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “Aku adalah Aku.”

Indahnya

Pernah saya baca di sebuah majalah perempuan.

Sebuah keluarga hidup dengan bahagia. Dengan bebas dan sadar membangun rumahtangga. Kebahagiaan sempurna dengan kehadiran dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.

Keluarga harmonis. Keadaan baik-baik saja. Mereka sering membeli atau membuat baju dengan motif dan warna sama. Mereka mau menunjukkan We are one, a happy family.

“Mustahillah. Mana mungkin,” kata dia setengah berteriak.

Suatu saat mbak yang bekerja di rumah mereka sejak anak yang pertama lahir, muntah-muntah. Dia tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Home sick. Ia begitu kerasan di rumah merawat anak-anak. Orangnya baik, sopan, tidak neko-neko. Deket dan sayang dengan anak-anak. Namun, ia  sudah “terlambat”dua bulan.

Ia tidak mau mengaku sama sekali. Diam dan banyak sembahyang. Dia minta diperbolehkan tinggal mengurus anak-anak Nyonya sampai anaknya lahir. Ia rencana pulang kampung. Gaji yang selama ia bekerja, tidak sepeser pun diambil, untuk modal buka warung.

Nyonya begitu baik dengan mbaknya; diperlakukan sebagai saudaranya sendiri. Nyonya adalah anak tunggal. Mbak dipercaya untuk merawat anak-anak. Mulai dari antar jemput sekolah; soal makanan dll.

Nyonya sibuk bisnis. Pagi sudah pergi pulang hampir malam. “Prime time” dengan anak-anak singkat. Mereka efektif saling mendengarkan dan bergurau.

Tak disangka

Nyonya sedih dan mencari informasi. Mulai dari sopir, tukang kebun, tukang sayur,  tukang bangunan, atau siapa yang pernah ke rumah. Ia pun meminta bantuan dari pihak keamanan. Tetapi merahasiakan apa yang terjadi dengan mbaknya.

Tertusuk pilu.

Ia mengganti semua karyawan yang di rumah kecuali mbaknya. Ia disayang karena beban sebagai ibu rumahtangga diperingan dengan kehadiran mbak.

Hari-hari penuh kegelisahan, tidur pun tidak nyenyak. Aneka mimpi yang tak jelas menghampirinya. Tak sebersit pun mencurigai suaminya. Ia diam seribu kata. Ia tidak mau dilibatkan.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, ketika tidak ada seorang pun, mbaknya ke pasar, sopir dan suaminya ke kantor, ia memeriksa kamar mbak. Dengan rapi dan teliti dia mencoba mencari petunjuk. Tidak berhasil.

Baru yang kelima kali, ia menemukan pakaian dalam suaminya tersembunyi di belakang lemari, mepet tembok.

Iya membawa ke dokter tuk mengecek. Hasil menguatkan dugaan. Suami mengakui. Ia yang memaksa.

Mengetahui itu sangat histeris dan stres. Suami disuruh pergi pulang ke rumah orangtuanya dan mertua untuk menceritrakan.

Mbaknya dititipkan ke panti sampai anak lahir dan dibiayai.

Ia ingin sendiri terlebih dulu bersama anak-anak; sejenak bersama Tuhannya. Ia butuh meredakan emosi dan sesaat tenang. Rahasia terjaga, anak-anak tidak tahu.

Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” ay 28-29.

Tuhan, sakit sekali. Genggam tanganku. Berjalanlah sejenak bersamaku. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here