Sudah Modern, Masih Terjadi Perkawinan Zaman Siti Nurbaya

0
311 views
Ilustrasi - Kehidupan keluarga. (Ist)

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN

Senin, 21 Juni 2021

Tema: Kebersahajaan datangkan rahmat

  • Bacaan Kej 12: 1-9.
  • Mat. 7: 1-5.

DUNIA sering mengajukan prinsip berbalas. Orang cenderung menggolong-golongkan sesama berdasarkan gagasan, kebiasaan, cara bicara. Bahkan juga berdasarkan cara berpakaian.

Ia berpikir dirinya punya hakmendominasi yang lain.

Sementara Injil mempersembahkan cara hidup baru. Yakni, dengan merawat kehidupan dengan tidak menghakimi dan menyembuhkan luka, ay 1.

Jalan itu adalah jalan kelemahlembutan. Jalan kasih yang mengatasi permusuhan, pertengkaran, dan kebencian.

Percaya saja, bukan lebih benar

Sebuah keluarga sederhana dan bahagia. Dari cara mereka berbicara dan menyambut, saya terkesan atas kebersahajaan dan kegembiraan polos yang spontan keluar dari mereka.

Rumah mereka sedang-sedang saja. Tidak begitu besar, namun selalu tampak bersih dan rapi.

Tidak ada banyak barang, tetapi peralatan dapur lengkap.

Taman belakang mungil, banyak bunga kecil yang beraneka warna.

“Wah, asri sekali rumahnya,” kataku spontan

“Iyakah Mo. Kami senang tanaman.”

Lalu, kami duduk di teras belakang. Sambil menikmati hidangan, pisang goreng, dan kacang rebus.

Anak-anak mereka, tiga orang, sedang asyik bermain monopoli. Kadang terdengar, “Pi, koko curang.”

Suasana okelah, tidak ribut. Kadang terdengar, “Yee… dapat banyak.”

“Apa rahasia kalian membangun rumahtangga? Keliatan oke-oke aja tuh?”

“Mau yang jujur atau tidak Romo?,” kata sang nyonya.

“Loh apa ada pengalaman pahit juga?,” kataku kepo banget.

“Ih, amit-amit Mo. Biar koko saja yang ceritera,” jawabnya.

“Mo, perkawinan kami ini seperti zaman Siti Nurbaya. Isteri sebenarnya tidak begitu tertarik ke saya. Saya bukan tipenya.

Tidak ada getaran apa pun.

Tapi karena dia terbilang anak mama, maka dijodohkan. Sayakah yang beruntung Mo? Ha… ha… ha…,” jawabnya merekah.

“Kok mau dijodohin to? Apalagi belum muncul ketertarikan?,” selaku.

“Mama bilang, mama tahu yang terbaik untukmu. Mama memilihkan yang terbaik untukmu. Ndak mungkin mama mencelakakan anaknya sendiri. Itu kata mamiku, Mo,” kata si isteri.

“Kebetulan mama kami saling kenal. Saya hanya bilang, ‘Ma, tahu kan apa yang saya inginkan’. Ya hanya begitulah Mo,” kata suaminya.

“Kenapa cie mau sama koko?,” lagi-lagi pastor kepo banget aku ini.

“Saya ikutin kata mama aja. Saya ingin berbuat baik untuk keluarga besar, untuk mama, dan untuk keluarga saya sendiri. Pilihan mama dan keputusannya tepat, Mo. Saya diberkati Tuhan. Kan ada pepatah witing tresno jalaran soko kulino,” jawabnya menahan ngakak.

“Awal hidup berkeluarga biasa saja. Kami melakukannya sebagai sesuatu kewajiban. Seiring perjalanan waktu kami semakin mencintai. The best bagi masing-masing. Pribadinya tidak neko-neko, jujur dalam keuangan, selalu memberi tahu kalau pergi. Kalau terlambat pulang, dia memberitahu.

Kami saling memperbolehkan melihat HP masing-masing. Tetapi dia tidak pernah melihat HP saya. Padahal saya menyuruhnya. Tapi ia tetap saja tidak mau. Si koko percaya aja.

Saya suka karakternya. Koko, pribadi yang terbuka dan tidak temperamen. Ia mendukung kegiatan saya. Dengan anak-anak, dia akrab. Kadang saya cemburu. Ia kadang tidur bersama anak-anak, bukan karena kami sedang marahan. Ia sangat menyayangi anak-anak. Mereka begitu manja dan kadang bergurau seperti teman saja.

Saya bahagia bersama dia, kendati penampilan dan wajahnya kurang menarik, kurang romantis, tapi dia sungguh sayang.”

“Nyindir halus nih. Tuh Ko, sudah ikut denger gak?”

“Pernahkah bentrok selama 15 tahun berkeluarga?,” tanyaku.

“Kecil-kecil biasalah Romo. Biasanya soal anak. Ia memanjakan anak. Sedang saya lebih sedikit keras. Kami jarang meributkan hal-hal yang kecil. Hampir setiap malam dia berkata kepadaku dan anak-anak, “Maafkan papi ya, kalau hari ini papi tidak baik.”

“Nggak tahu Romo. Hati saya selalu luluh kalau dia minta maaf. Juga kalau anak-anak setelah rebut, lalu minta maaf. Padahal saya sendiri jarang meminta maaf, ha… ha… ha… ha…,” jawabnya melepas tawa.

Bukankah kebaikan yang kita buat, mengangkat derajat dan martabat kita ke tingkat yang lebih mulia. Rangkaian kebaikan dapat menjadi lagu syukur pada Yang Ilahi.

Abraham percaya saja. Ia bersedia diutus. “Engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau.” ay 2c-3a.

Tuhan, mampukan aku mengikuti terang-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here