22 Murid, Tonggak Sejarah Awal Eksistensi SMAK St Thomas di Sanggau, Kalbar

0
538 views
Misa Perdama di SMAK St Thomas dimana para murid diajak melambungkan madah pujian dalam Misa Kudus memulai tahun ajaran baru di tahun perdana berdirinya lembaga pendidikan ini. (Severianus Endi)

SEBANYAK 22 siswa menjadi peserta didik perdana di  Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St Thomas yang memulai tahun ajaran pertama pada 2016 ini. Jumlah siswa itu cukup untuk satu kelas, dan aktivitas belajar berlangsung pada siang hari.

Misa Kudus digelar hari Sabtu (23/7/16) untuk menandai dimulainya tahun ajaran baru di Gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 44 Terentang.  Satu di antara ruang kelasnya telah dipinjamkan guna menampung siswa perdana. Lebih dari 100 orang turut meramaikan peristiwa bersejarah ini, di antaranya para orangtua siswa dan sejumlah pejabat setempat.

Sekolah baru ini  terletak di Dusun Terentang, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sekolah  ini merupakan SMAK ketiga yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.

Foto 1_Komuni Kudus Misa Perdana SMAK St Thomas
Para siswa perdana SMAK St Thomas menerima komuni dari Pastor Korinus Budaya SVD pada Misa Kudus pembukaan tahun ajaran. (Severianus Endi)

Di level nasional, hingga saat ini ada 23 SMAK yang berada di bawah naungan Kementerian Agama RI.

Baca  juga:  Pionir Katolik Centre: Bertambah Satu, Sekolah Menengah Agama Katolik di Kalimantan Barat).

Jangan jadi smak-smak

Kepala Desa Subah, Kanisius Kimleng, berhara, dengan hadirnya SMAK ini, tidak ada lagi generasi muda di desa yang tidak melanjutkan sekolah. Ia juga  berpesan agar masyarakat dan orangtua siswa turut memberikan dukungan penuh untuk keberlangsungan sekolah ini.

“Jangan sampai di tahun-tahun berikutnya, SMAK ini justru menjadi smak-smak (semak-semak),” ucarnya bercanda, dengan maksud jangan sampai sekolah ini tidak terurus sehingga lokasinya justru dipenuhi oleh semak belukar.

Ketua Panitia Pendirian SMAK St Thomas, Yohanes Nadrianus,  mengatakan, warga setempat memberi dukungan dengan menghibahkan tanah seluas 2,5 hektare sebagai bakal lokasi kompleks sekolah. “Pembebasan lahan telah dilakukan secara adat Dayak Tobak oleh Temenggung Adat pada September 2015,” kata Nadrianus.

Inilah gedung SDN 44 Terantang yang menjadi tempat tumpangan sementara bagi SMAK St Thomas. (Severianus Endi)

Penyelenggara Bimas Katolik Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Daniel, mengaku bangga dengan kepercayaan para orangtua menyekolahkan anak-anaknya di SMAK St Thomas. Meski sekolah ini baru dimulai dengan kondisi serba terbatas.

“Kalian para siswa perdana akan tercatat dalam sejarah sekolah ini. Dua tahun lamanya proses pendirian sekolah ini berlangsung, hati saya berdebar-debar apakah bisa terwujud. Syukur, hari ini, kita menyaksikan sekolah ini telah dimulai,” kata Daniel.

Para orangtua murid perdana di SMAK St. Thomas ikut mendukung anak-anaknya menempuh pendidikan di lembaga katolik ini. (Severianus Endi)

Yayasan Widya Pramata

SMAK St Thomas bernaung di bawah Yayasan Widya Pramata yang memiliki Sekolah Tinggi Pastoral St Agustinus di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Kelak, SMAK St Thomas diarahkan untuk mendapatkan status sebagai sekolah negeri.

Mulai tahun depan, secara bertahap direncanakan pembangunan ruang kelas, asrama siswa, pusat pembinaan iman, serta fasilitas pengembangan keterampilan siswa.

Pastor Paroki Santo Petrus Kanisius Tayan Hilir, Heronimus Hurmintojoyo SVD, mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan tenaga pendamping untuk program pengembangan iman umat di stasi-stasi. Karena itu, kehadiran SMAK St Thomas ini memberi harapan besar pada waktu mendatang akan ketercukupan tenaga-tenaga itu.

“Nama katolik yang melekat pada sekolah ini, hanya akan nampak jika para guru, orangtua, dan siswa betul-betul mencintai nama itu. Ciri khas katolik hendaknya dihadirkan secara nyata dalam kehidupan kita,” ujar Pastor Heronimus.

Wakil Ketua Yayasan Widya Pratama Pontianak, Yosef, mengungkapkan, terealisasinya SMAK St Thomas sebagai bukti negara telah hadir menjawab kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Berikutnya, tinggal bagaimana masyarakat–khususnya umat Katolik–memanfaatkan peluang ini sehingga cita-cita bersama bisa terwujud.

“Dari tempat ini pula, kelak diharapkan muncul bibit-bibit panggilan sebagai biarawan-biarawati, sehingga semakin banyak tenaga untuk membantu perkembangan hidup menggereja,” kata Yosef yang juga Penyelenggara Bimas Katolik di Kantor Kementerian Agama RI Provinsi Kalimantan Barat.

 

 

 

 

 

Foto 2: (Foto: Severianus Endi)

 

Foto 3: Orangtua siswa dan guru yang membaur jadi satu sebagai kekuatan bersama menjaga keberlangsungan sekolah baru. (Foto: Severianus Endi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here