50 Tahun Konsili Vatikan II (2)

0
2,263 views

DALAM Porta Fidei no 8, Bapa Suci Benediktus XVI menyatakan:

“Saya berkeinginan mengajak saudara-saudaraku para uskup dari seluruh dunia untuk bersama Pengganti Petrus mengingat kembali anugerah iman yang sangat berharga ini selama masa-masa penuh rahmat yang ditawarkan oleh Tuhan kepada kita ini. Kita ingin merayakan Tahun Iman ini dengan cara yang pantas dan berbuah.

Refleksi tentang iman harus lebih digalakkan untuk membantu umat beriman mendapatkan kekuatan dan keteguhan bila berpegang pada Injil, khususnya menghadapi perubahan begitu cepat dan mendasar yang sedang melanda umat manusia seperti dirasakan dewasa ini.

Kita akan memiliki kesempatan untuk menyatakan pengakuan iman akan Tuhan yang bangkit di katedral-katedral kita; di gereja-gereja kita di seluruh dunia; di rumah-rumah kita dan di antara keluarga-keluarga, sehingga setiap orang akan merasakan kerinduan yang lebih besar untuk lebih tahu tentang iman dan untuk mewariskan iman itu kepada anak-anak mereka dan setiap generasi di sepanjang zaman.

Demikian pula komunitas-komunitas religius dan paroki-paroki, serta semua lembaga Gerejawi baik yang lama maupun yang baru supaya dalam Tahun Iman ini mengatur diselenggarakannya perayaan untuk melaksanakan pengakuan publik Credo kita.

John L. Allen Jr (dalam A Biography of Joseph Ratzinger) menulis:

“Selama 4 sssi Konsili yang diadakan pada musim gugur setiap tahun dari 1962–1965, Kardinal Frings, Ratzinger dan Luthe tinggal di Anima, tempat tinggal para imam dan seminaris berbahasa Jerman di Roma.

Dalam bukunya Im Sprung Gehemmt (Lompatan yang gagal), Uskup auxilier Wina, Helmut Krätzl berbicara tentang hari-hari itu ketika ia masih sebagai seminaris muda di Anima menyaksikan bagaimana Kardinal Frings dan Ratzinger membantu untuk mengarahkan konsili.

Ia menggambarkan Ratzinger sebagai seorang teolog yang sangat besar di mata  para seminaris, dan sebagai orang yang secara energik melibatkan diri bagi pembaruan visi tentang Gereja. Krätzl mengenangkan betapa Ratzinger menjadi pusat dari segala sesuatu yang terjadi dalam konsili. Meskipun peran resmi Ratzinger hanya sebagai penasehat Kardinal Frings, namun ia bukan hanya berada di belakang layar sehingga seolah-olah para bapa konsili tidak mengetahui siapa dia dan apa yang dilakukannya. Ratzinger memberi kuliah tentang topik-topik konsili di pelbagai tempat di Roma dan di Jerman, ia memberikan pengarahan kepada para bapa konsili, dan ia menerbitkan suatu seri terkenal mengenai komentarnya tentang konsili.

Buku tebal History of Vatican II (editor Gueseppe Alberigo dan Joseph A. Komonchak) menyebutkan peran Ratzinger bersama Yves Congar, Hans Küng, dan Karl Rahner bahwa mereka mengusulkan untuk menolak draft yang sudah disiapkan oleh Kuria sebagai bahan konsili. Ratzinger sendiri memberikan komentar tentang isi draft persiapan konsili oleh kuria sbb:

“Ada perasaan ketidakpuasan dalam konsili bahwa seluruh usaha itu akan gagal dan konsili hanya akan menjadi stempel saja dari keputusan-keputusan kuria yang telah disiapkan sebelumnya. Hal itu akan menghalangi, bukannya memajukan pembaruan yang diperlukan dalam Gereja Katolik… Ada kecemasan bahwa Konsili akan mengecewakan semua orang yang menaruh harapan-harapan besar pada konsili itu; semua itu akan melumpuhkan dinamika pembaruan yang begitu bersemangat dan melenyapkan sekali lagi banyak pertanyaan umat yang diajukan kepada Gereja”

Di dalam benak Ratzinger, dokumen yang paling penting dari konsili Vatikan II adalah Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium. Isinya memuat kerja keras teologis selama beberapa dekade sebelumnya untuk membarui doktrin tentang Gereja yang didasarkan pada Kitab Suci dan ajaran Bapa-Bapa Gereja.  Dokumen itu juga menjaga keseimbangan antara kekuasaan Paus dan para uskup yang nampak timpang setelah ditetapkannya ajaran Vatikan I tentang infallibilitas (ketidak-dapat-sesatan) Paus.

Dalam laporan umum konsili yang diterbitkan tanggal 2 Juli 1964, setelah sessi kedua, Ratzinger disebut telah membantu merumuskan artikel 22 dan 23 dari Bab 3 Lumen Gentium, yang merupakan bagian amat penting mengenai kolegialitas dan peran para uskup. Ratzinger juga menulis komentar mengenai sessi tentang Lumen Gentium bagi Komentar Vorgrimler segera setelah konsili usai.

Pada sesi ketiga konsili, musim gugur 1964, Ratzinger diminta untuk membantu tim perumus yang memperbaiki draft mengenai karya misioner. Karya itu, yang juga melibatkan teolog Perancis terkenal Ives Congar, dilanjutkan sampai pada sesi keempat. Kardinal Frings berdiri untuk membuat intervensi dalam sidang umum konsili untuk mendukung dratf tentang karya misi itu.

Singkat cerita, Ratzinger telah membuat setiap orang memperhatikannya sebagai teolog yang paling berpengaruh dalam konsili Vatikan II. Pada tahun 1969, Karl Lehmann dari Jerman yang kemudian menjadi uskup di Mainz, dan kepala konferensi para uskup Jerman, menulis essai tentang Rahner dan menyebutkan bahwa Rahner, Congar, Ratzinger, Küng, dan Edward Schillebeeckx mematahkan usaha kuria roma yang telah menyiapkan skema dan draft keputusan konsili yang sudah disiapkan sebelumnya dan membuka ruang untuk pembahasan teologis yang  lebih bebas dan terbuka di dalam sidang-sidang konsili. (John L. Allen. Jr, Pope Benedict XVI, hlm 55-56). (Bersambung)

Artikel terkait:  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here