Guru Pendidikan Agama Katolik Sumsel: Antusiasme dan Optimisme untuk Generasi Muda Berkarakter

0
255 views
Para guru agama Katolik di Provinsi Sumsel yang mengikuti program pembinaan untuk mengembangkan wawasan. (Ist)

KORUPSI merajalela, tawuran antarpelajar, saling mem-bully di dunia maya dan nyata, hoax yang semakin menggeparkan ruang publik, sporter sepak bola rusuh bahkan dikeroyok sampai mati. Itulah beberapa fenomena belakangan ini yang sungguh memprihatinkan.

Atas fenomena itulah yang mendasari Bimas Katolik Sumatera Selatan menyelenggarakan pembinaan character building  bagi para guru pendidikan agama Katolik tingkat dasar dan menengah.

Tema kegiatan “Dengan pembinaan character building, kita perkokoh bangunan moral generasi moral bangsa”.

Untuk mendalami tema di atas, panitia penyelenggara menghadirkan dua narasumber dari pejabat struktural Kanwil Kementerian Agama Sumatera Selatan dan dua tenaga ahli dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Palembang.

Narsum tengah memberi paparan wawasannya.
  • Materi kegiatan tentang membangun karakter bangsa melalui pendidikan disampaikan oleh H Muhammad Ali S.Ag., M.Pd.I.
  • Kebijakan Bimas Katolik dalam bidang pendidikan dipaparkan oleh Pembimas Katolik Drs. Al. Supardi MM.
Paparan dari narasumber.

Karakter generasi muda

Romo Agustinus Riyanto SCJ, MA, dosen Psikologi Unika Musi Charitas Palembang,  mendalami topik guru sebagai pendidik karakter. Sedangkan materi spiritualitas seorang pendidik Katolik disampaikan oleh Sr Louise Lusia HK.

Kegiatan selama dua hari (Jumat-Sabtu, 5-6 Oktober 2018) di Hotel Rio City Palembang ini diikuti oleh 42 guru agama Katolik tingkat dasar dan menengah (SD, SMP dan SMA) dari kota dan kabupaten wilayah Propinsi Sumatera Selatan.

Ketua panitia penyelenggara Leonardus Sutrisno S.Ag menegaskan, kegiatan ini dimaksud agar para guru agama Katolik semakin memiliki antusiasme dan optimisme dalam mendidik karakter generasi muda melalui pendidikan. Lebih jauh, kegiatan ini semakin menyadarkan peran penting guru agama Katolik dalam membentuk generasi muda yang berkarakter positif demi eksistensi bangsa kita yang semakin baik.

Menimba pengetahuan dan menambah wawasan pikir dari para narasumber.

Pertajam mata-hati

Peran kita sebagai guru agama Katolik di sekolah tidak cukup menghantar siswa kita menjadi jenius atau cerdas, tetapi jauh lebih penting membantu siswa kita agar dapat mengasah hati nuraninya.

“Teruslah mempertajam mata-hati agar melahirkan pribadi yang peduli, jiwa kasih (berempati, berdialog, tidak egois),” jelas Haji Muhammad Ali.

Bagi H. Muhammad Ali, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pendidikan karakter yakni pembiasaan, contoh atau teladan, dan pendidikan atau pembelajaran yang terintegrasi.

Muhammad Ali mengakui, pendidikan karakter tidak semudah membalikan telapak tangan tetapi membutuhkan proses yang panjang, waktu, keteladanan dan kedisiplinan.

Ia  menambahkan, strategi bagi guru  menanamkan nilai karakter:

  • Cinta Tuhan dan segala isinya.
  • Kemandirian dan tanggung jawab.
  • Kejujuran dan diplomasi.
  • Hormat dan santun.
  • Percaya diri dan pekerja keras.
  • Kepemimpinan dan keadilan.
  • Orang baik dan rendah hati.
  • Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kekhasan jiwa manusia

“HP mempengaruhi dan mengubah karakter manusia,” tegas Romo Agustinus Riyanto, SCJ yang menjadi salah satu narasumber dalam pembinaan karakter guru pendidikan agama Katolik Sumatera Selatan.

Tiga aspek khas jiwa manusia yakni:

  • Kognitif (kreatif, inovatif, berpikir).
  • Emosi (marah, sedih, gembira).
  • Afeksi (senang, cinta, benci dan tertarik).

“Itulah hal-hal yang membentuk kepribadian manusia,” jelas Romo Riyanto.

 Utamakan keteladanan

Selain menguraikan tentang faktor yang membentuk karakter seseorang yakni faktor keluarga, lingkungan dan pribadi, Romo Riyanto juga menjelaskan unsur-unsur pokok karakter seseorang yakni:

  • Sikap sehari-hari yang tidak gampang berubah-ubah.
  • Kemampuan manusia untuk mengendalikan atau mengontrol emosi (marah, sedih, gembira).
  • Percaya diri dan mempercayai orang lain.
  • Kebiasaan yang tidak berubah-ubah dan membuat karakter yang kuat serta motivasi.
  • Menemukan konsep diri yang tepat.

Hal yang utama bagi seorang guru dalam menanamkan karakter bagi anak dan siswa di sekolah adalah bukan omongan atau kata-kata tetapi yang jauh lebih penting tindakan atau perbuatan konkret.

“Siswa kita lebih gampang melihat contoh atau keteladanan yang baik. Di sinilah guru disebut role-model,” jelas Romo Riyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here