Hari Panggilan Sedunia: 29 Tarekat Religius di KAP, Tetap Saja Itu Belum Cukup (2)

0
170 views
Seorang suster biarawati Kongregasi SDC membawa "suster" cilik di ajang perarakan. (Sr. Maria Seba SIFC)


DALAM kesempatan Ekspo Panggilan di Gereja St. Yoseph Katedral Pontianak ini, Vikjen KAP Pastor William Chang OFMCap didaulat menyampaikan profil data terkini situasi pastoral Keuskupan Agung Pontianak.

Ada pun data profil KAP per tahun 2018 yang disampaikan oleh imam Ordo Kapusin Pontianak ini adalah sebagai berikut:

  • Visi dan misi Keuskupan Agung Pontianak .
  • Program pokok Keuskupan.
  • Jumlah paroki yang tersebar di Wilayah KAP ada sebanyak 29 Paroki
  • Jumlah imam, bruder, dan suster.
  • Jumlah calon imam di Seminari Menengah Nyarumkop dan Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia di Siantan, Pontianak.
  • Fasilitas pelayanan pastoral.
  • Pelayanan pendidikan dan kesehatan.
  • Jumlah tempat destinasi ziarah.
Ekspo Panggilan – Vikjen Keuskupan Agung Pontianak Pastor Wiliam OFMCap menyampaikan profil sosok pastoral dam KAP dan tantangannya.

Pastor William kemudian menyampaikan data statistik Keuskupan Agung Pontianak saat ini.

Jumlah umat KAP berkisar 428.452 jiwa dengan info tambahan yakni tercatat sebanyak:

  • 106 imam.
  • 410 suster.
  • 52 bruder.
  • 415.239 umat.

“Bisa dibayangkan begitu kontrasnya perbandingan antara jumlah pastor dan jumlah umat yang harus dilayani. Kalau setiap imam melayani umat  secara purna waktu, maka setiap imam harus siap mampu melayani sebanyak 4.402 umat Katolik,” ungkapnya.

Tak sebanding

Namun dalam kenyataannya tidak setiap imam melayani di Paroki. Masih banyak stasi di daerah-daerah terpencil belum terlayani dengan baik karena kekurangan tenaga imam. Juga dalam setahun mereka hanya bisa mengikuti Perayaan Ekaristi beberapa kali saja dengan alasan yang sama yakni, kekurangan tenaga imam.

“Tenaga imam, bruder dan suster belum memadai sementara pelayanan kategorial dalam bidang pendidikan, kesehatan, karya sosial, dan karya kemanusiaan begitu banyak sehingga tidak tertangani dengan baik karena kurangnya tenaga religius seperti suster dan bruder,” jelas Rektor Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus-Siantan di Pontianak. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here