In Memoriam Direktur Caritas Saigon Romo Joseph Dinh “Ut” Huy Huong Pr

0
1,509 views

 

 

[media-credit name=”AsiaNews” align=”alignleft” width=”112″][/media-credit]DARI Roma ke Saigon. Inilah “perjalanan” pertemanan kami dengan Romo Joseph Dihn “Ut” Huy Huong Pr yang tanggal 10 Agustus 2011 lalu menghadap Tuhan karena sakit. Melalui jaringan pertemanan, akhirnya kami bisa berkenalan melalui dunia maya dengan romo diosesan (praja) Keuskupan Saigon ini sebelum akhirnya kami bisa bertemu muka di Bandara Internasional Ho Chi Minh City, tahun 2009.

Laporan AsiaNews menyebutkan, semasa hidupnya Romo Joseph yang akrab dipanggil Romo Ut ini telah membaktikan dirinya selama 48 tahun untuk karya sosial. Almarhum melayani orang-orang miskin –termasuk para penderita sakit lepra, anak-anak jalanan, kaum perempuan hamil tanpa suami, dan masyarakat pedesaan— dengan penuh kasih. “Ia adalah saksi kebaikan Tuhan kepada sesama,” tulis Bernardo Cervellera dari AsiaNews.

Lahir tanggal 6 Mei 1940 di wilayah Diosis Phát Diệm, Romo Ut ditahbiskan menjadi imam praja untuk Keuskupan Saigon (kini bernama Ho Chin Minh City). Saat menjemput kami di Bandara Internasional Saigon tahun 2009, saya dibuat kagum oleh kesederhanaan almarhum. Pun pula, ketika beliau rela menyediakan waktunya menemani kami berziarah ke Gua Maria di Vung Tau, sekitar 120 km dari Saigon menuju Provinsi Baria di ujung pesisir Laut China Selatan.

“Saya tak bisa menemani kalian menaiki Bukit Hong dimana Patung Yesus Vung Tau berada. Dada saya sesak tak kuat jalan menanjak karena sakit jantung,” kata almarhum saat mengantar kami ke Vung Tau.

Sayang sekali, kami tak pernah kesampaian mengunjungi beliau di Pastoran Duc Tin rumah tinggalnya di luar kota Saigon.

 

Penuh warna

Perjalanan hidup Romo Ut memang penuh warna.

Sebelum tahun 1975 saat masih berkecamuk Perang Vietnam, Romo Ut menjadi pastor tentara yang melayani para Gis (serdadu AS) di seluruh kawasan Vietnam. Ketika Saigon jatuh ke tangan rezim komunis Viet Cong asal Vietnam Utara, Romo Ut sempat ditawari kesempatan ikut “emigrasi” ke AS demi alasan keamanan. Namun, dia memilih tetap tinggal di tanah airnya.

Pilihan hidup itu membawa sengsara. Romo Ut terpaksa hidup di kamp tawanan dan wajib kerja paksa selama 10 tahun (1975-1985) di bawah rezim komunis Viet Cong di Vietnam Selatan. “Salah satu hiburan batinnya”, demikian tulis AsiaNews, “adalah Injil Yohanes yang dia hafal di luar kepala.”

Tahun 1986 saat Vietnam memulai babak baru sebagai “satu negeri” dengan program doi moi alias membuka diri bagi investasi asing, Romo Ut memulai lembaran karya pastoral baru. Reformasi ekonomi Vietnam yang ditandai dengan masuknya modal dan investasi asing membuat perekonomian lokal menjadi “goyah” lantaran membajirnya orang-orang di permukiman udik memasuki wilayah perkotaan untuk mencari kerja.

 

 

[media-credit id=3 align=”alignright” width=”300″][/media-credit]Saigon –kini Ho Chi Minh City—ibarat menjadi magnet baru yang menarik kunang-kunang dari pedesaan untuk menari-nari di pusat kota. Namun, banjirnya arus kedatangan kaum udik masuk kota ini menciptakan banyak masalah sosial. Gereja Katolik Vietnam merespon tantangan ini sebagai kesempatan untuk berbagi kasih melalui karya-karya pastoral.  Romo Ut datang dan mulai merintis penciptaan banyak lapangan pekerjaan bagi gelombang urbanisasi masyarakat dari permukiman udik.

Saat bertandang ke Phát Diệm mengunjungi almahum beberapa waktu lalu, Uskup Saigon Mgr. Joseph Đặng Đức Ngân di Lang Son kembali mengapresiasi karya-karya kasih yang dirintis Romo Ut.  “Ini”, kata Uskup Lang Son, “adalah contoh kasih Yesus sendiri.”

Romo Ut merintis karya sosial yang di antaranya menyediakan rumah-rumah singgah bagi banyak perempuan yang akhirnya terjerumus dalam lingkaran praktik pelacuran. “Romo Ut banyak menerima ‘pasien’ puluhan perempuan hamil tanpa suami dan rajin memotivasi mereka agar jangan sampai melakukan aborsi,” tulis Bernardo Cervellera dan JB Vu dari AsiaNews.

“Ini karya kecil saja,” kenang Romo Ut kepada AsiaNews tempo hari, “namun ini harus dilakukan sepenuh hati. Kalau ini advokasi kepada para perempuan hamil tanpa suami ini tidak dilakukan, maka kaum perempuan malang itu akan dipaksa untuk menggugurkan janin di kandungannya.”

Rumah Singgah yang dirintis oleh Romo Ut sejak tahun 1986 kini menampung lebih dari 40 anak tanpa garis silsilah yang jelas. Ia membangun kerja sama dengan para Suster Cinta Kasih dari Kongregasi Ibu Teresa.

Super sederhana

Masyarakat Saigon mengenang Romo Ut sebagai imam katolik yang super sederhana. Lazimnya masyarakat Ho Chi Minh City di awal penyatuan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, Romo Ut pun selalu naik sepeda ontel untuk mengunjungi pusat-pusat layanan pastoral yang dia reksa bersama para suster Kongregasi Ibu Teresa. Baru tahun-tahun belakangan ini saja, Romo Ut mulai  bersedia naik mobil Kijang tua lantaran jantungnya sudah dipasang ring.

Sakit jantung koroner memaksa Romo Ut harus tinggal di panti perawatan orang sakit di Phat Diem.  Meski badannya lemah oleh penyakit, namun semangatnya melayani senantiasa tiada henti. Ia berhasil membangun yayasan amal Quĩ Bác Ái Du Sinh untuk reksa jasmani rohani bagi para papa dan yang terlupakan di Vietnam.

Kesabaran almarhum Romo Ut dalam pelayanan memang diandalkan. Beliau tak meninggalkan kami, sekalipun kami telah meninggalkan dia selama hampir 3.5 jam di atas Bukit Hong di Provinsi Baru. Alih-alih marah, beliau malah mentraktir kami makan seafood di sebuah restoran setengah apung di bibir pantai yang langsung berhadapan dengan Laut China Selatan.

Karya sosial Romo Ut memang dahsyat. Di saat pemerintah menolak mentah-mentah para pasien lepra dan mengusir mereka ke hutan agar di  kemudian hari “mati sendiri”, almarhum Romo Ut malah menyediakan rumah persinggahan bagi mereka di pusat kota. Kepada mereka, Romo Ut melatih ritme hidup baru, membentuk habitus baru dengan suasana yang baru pula sebagai “murid-murid Tuhan”.

Karya Romo Ut bukannya gampang dilakukan, karena pemerintah selalu mencurigai karya  Gereja. Namun alih-alih ngeper terhadap pantauan polisi rahasia dan agen-agen intelijen, Romo Ut maju terus dengan karya-karya sosial baru: mendirikan sekolah, kursus-kursus kejuruan, dan pusat-pusat layanan kesehatan.

Saat hubungan Vatikan dan Pemerintah Vietnam membaik, karya-karya almarhum Romo Ut di kemudian hari dinyatakan sebagai resmi. Karena itu, sejak tahun 2006-2009 almarhum diangkat menjadi Direktur Caritas Saigon. Sejak itu, di banyak paroki di Keuskupan Saigon sudah berdiri pusat-pusat layanan kesehatan dan sekolah untuk warga miskin.

Tentang almarhum Romo Ut, Suster Maria punya kisah heroik.

“Romo Joseph pernah membantu sedikitnya 200 kepala keluarga –baik katolik dan non katolik—yang menjadi korban bencana angin puting beliung yang menyapu bersih kawasan Can Gio tahun 2008. Kepada mereka, Romo Joseph memberi santunan dalam bentuk kiriman beras dan menyediakan bea siswa untuk anak-anak putus sekolah,” kenang Suster Maria seperti dilansir AsiaNews.

Saat bertandang ke Phát Diệm mengunjungi almahum beberapa waktu lalu, Uskup Saigon Mgr. Joseph Đặng Đức Ngân di Lang Son kembali mengapresiasi karya-karya kasih yang dirintis Romo Ut.  “Ini”, kata Uskup Lang Son, “adalah contoh kasih Yesus sendiri.”

Namun, almarhum Romo Ut selalu saja bersikap rendah hati. Kata beliau, “Semua karya ini dimulai berkat rahmat Tuhan melalui doa-doa tanpa henti kepada Santo Yosef.”

 

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota Redaksi Sesawi.Net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here