Kepedulian Membawa Sukacita

0
131 views
Melayani orang lain. (Ist)

TUHAN terus-menerus berkarya dalam hidup manusia, meski tidak kelihatan secara langsung. Karya Tuhan itu dilaksanakan melalui sesama atau orang lain.

Di sebuah perkampungan kecil hidup seorang anak laki-laki dengan ibunya. Nama anak itu Li Shuai. Setiap hari Li Shuai melihat ibunya keluar sambil menenteng makanan. Tak lama kemudian, dia melihat ibunya pulang dengan tangan kosong.

Li Shuai yang penasaran lalu bertanya, untuk siapa makanan itu. Ibunya mengatakan bahwa dia tidak memberikan makanan itu kepada siapa pun. Dia hanya meletakkannya di hutan. Suatu hari, Li Shuai membuntuti ibunya. Dan terjadilah sepeti yang dikatakan ibunya.

Pemuda ini berpikir bahwa ibunya seorang yang boros. Memberikan makanan segar kepada hewan liar tak bertuan. Namun Li Shuai tetap diam dan membiarkan ibunya melakukan hal itu.

Dalam hati, dia berkata, “Terserah apa mau ibuku. Yang penting dia senang, itu cukup.”

Beberapa hari kemudian, ibunya berhenti membawa makanan ke hutan. Li Shuai yang hampir bangkrut usahanya itu mengagetkan ibunya dengan suara cerianya.

Dia berkata kepada ibunya, “Bu, nanti malam masak yang enak, ya.”

Lantas ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu begitu gembira hari ini?”

Dengan cepat dia menjawab, “Ada bos besar menemui saya untuk kerjasama dengan saya. Kontraknya sangat menggiurkan.”

Ibunya tampak berseri-seri. Sembari menyiapkan makanan, dia menasihati Li Shuai. Ibu itu berkata, “Jika suatu saat kamu kaya, jangan lupa kalau kamu pernah miskin. Roda kehidupan berputar. Jangan sombong dan lupa diri saat kaya. Tidak perlu kamu kecewa atau merasa minder saat miskin.”

Li Shuai tidak mempedulikan nasihat ibunya. Tidak lama kemudian, pintu rumah mereka diketuk. Li Shuai menyambut bosnya. Namun bos itu tidak peduli terhadap sambutan Li Shuai. Dia malah mendekati ibunya.

Bos itu berkata, “Terima kasih, Bu. Terima kasih. Jika bukan karena ibu yang selalu mengantar makanan ke hutan, saya pasti tidak bisa berdiri di hadapan ibu sekarang.”

Mendengar ucapan terima kasih itu, Li Shuai mengerti bahwa selama ini bosnya yang menerima semua makanan yang diantar ibunya.

Syukuri kebaikan Tuhan

Belas kasih kepada sesama manusia mesti selalu ditumbuhsuburkan dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena manusia hanya bisa hidup melalui belas kasih. Orang yang hidup tanpa belas kasih biasanya dipenuhi dengan luka batin. Orang seperti ini mudah tersinggung dan memiliki dendam yang dalam.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk selalu punya kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan uluran tangan. Hal ini menjadi ungkapan dan wujud kasih sayang terhadap sesama kita. Ibu dalam kisah tadi memberi perhatian terhadap orang yang tak kelihatan.

Namun dia yakin bahwa apa yang disediakannya akan berguna bagi orang yang menemukannya. Keyakinannya itu terbukti dengan sukacita bagi yang menerimanya.

Setiap hari kita mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Bahkan orang-orang itu tidak kita jumpai secara langsung. Mereka memberi perhatian kepada kita demi kebahagiaan kita.

Namun yang sering kita lakukan adalah kita kurang peduli terhadap belas kasih mereka. Kita merasa bahwa karena mereka tidak bisa kita lihat, kita lalu lupa akan mereka. Kita tidak berterimakasih dan bersyukur atas kebaikan mereka.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mensyukuri kebaikan orang lain terhadap kita. Kita dapat melanjutkan perjalanan hidup kita di dunia ini berkat perhatian dan belas kasih sesama. Tuhan berkarya terus-menerus dalam memelihara hidup kita melalui sesama.

Mari kita berjuang terus-menerus untuk mensyukuri kebaikan Tuhan melalui sesama kita. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here