Ketua Komisi Liturgi KAJ Romo Sridanto Aribowo Pr Menjawab Hoax

3
4,723 views
Ilustrasi: Mengikuti perayaan ekaristi sederhana di Kapel St. John's Catholic Church di Siem Reap, Cambodia, Agustus 2011 bersama imam Jesuit misionaris dari Indonesia yakni Romo St. Winarta SJ. (Mathias Hariyadi)

BEBERAPA tahun lalu dan lagi-lagi beberapa pekan terakhir ini telah muncul lagi informasi ‘sesat’ berisi kabar-kabur (hoax) tentang ‘aturan liturgi’ baru mengenai tata laksana umat katolik di KAJ selama mengikuti perayaan ekaristi.

Redaksi Sesawi.Net sengaja menghubungi Romo Y. Sridanto Aribowo Nataantaka Pr –Ketua Komisi Liturgi KAJ— yang kebetulan namanya ‘dicatut’ dalam informasi kabar-kabur yang kurang akurat tersebut.

Sekilas, ujaran berisi kalimat-kalimat penjelasan tentang tata laksana liturgi ekaristi itu terkesan benar. Namun sejatinya, demikian kata Romo Sridanto menjawab Sesawi.Net, informasi itu tidak benar dan masuk kategori hoax.

“Itu kabar-kabur yang sudah beredar sejak tiga tahun lalu. Hoax. Tidak sepenuhnya benar,” katanya di awal bulan Juni 2017 ini.

Mengikuti perayaan ekaristi di kapel St. John’s Catholic Church di Siem Reap, Cambodia, bersama seorang imam misionaris Jesuit asal Indonesia. (Mathias Hariyadi)

Mengenai bagaimana persisnya keterangan versi orisinilnya dengan versi hoax-nya, marilah kita kutip saja langsung ujaran Romo Sridanto Aribowo Nataantaka Pr kepada Sesawi.Net berikut ini:

  • Masuk gereja dan duduk di bangku bisa berlutut, bisa membungkuk 90° ke arah tabernakel.
  • Ketika imam mulai membungkuk di depan altar, maka umat ikut membungkuk 90°. Namun, jika imam mencium altar, maka  umat tidak perlu ikut membungkuk.
  • Jika bacaan tengah dilakukan oleh lektor, maka diharapkan umat tidak membaca di media lain, melainkan tetap mendengarkan paparan bacaan itu dengan seksama.
  • Saat doa Bapa Kami dilantunkan, maka umat tidak perlu melakukan gerakan bergandengan tangan; kecuali dalam kelompok kecil, maka semua bisa bergandengan tangan.
  • Posisi tangan dilakukan layaknya orang berdoa. Hanya imam saja yang harus membuka tangannya sesuai aturan.
Perayaan ekaristi harian di Biara Rubiah Karmelites Batu, Jatim. (Mathias Hariyadi)
  • Saat ‘salam damai’, maka pasutri atau lainnya tidak perlu melakukan cipika cipiki. Cukup bersalaman saja.
  • Saat imam mengangkat hosti  dan kemudian  umat mengucapkan rumusan doa ‘Saya tidak pantas …”, maka umat sebaiknya tidak menundukkan kepala melainkan melihat hosti.
  • Saat hendak meninggalkan gereja untuk pulang usai perayaan ekaristi selesai, maka umat tidak  perlu lagi mengambil air suci lagi. Melainkan, sebaiknya bisa langsung  saja karena toh baru saja  memperoleh berkat imam di saat akhir misa dengan berkat pengutusan.
  • Di awal kita masuk gereja, maka kita biasa mencelupkan ujung jari ke dalam tempat air suci dan kemudian melakukan gerakan tanda salib dengan jari yang sudah basah oleh air suci. Ini merupakan lambang pengingat Sakramen Baptis yang telah diterima sekaligus untuk menyiapkan hati agar kita siap bertemu dengan Tuhan di Perayaan Ekaristi.
  • Tanda salib sebenarnya hanya terjadi di awal dan di akhir perayaan ekaristi dan itu pun yang memimpin adalah imam.

Semoga bermanfaat.

3 COMMENTS

    • Saya kebetulan baru ikut seminar dan baru ngerti sebagian dari tata perayaan ekaristi, setahu saya yang dituliskan dalam artikel adalah versi yang benar 😊😊😊😊😊 semoga gak penasaran lagi dengan versi hoaxnya 😊😊😊😊😊Jbu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here