Kongregasi Suster St. Agustinus dari Kerahiman Allah (OSA): Mengirim Misionaris ke Indonesia (3)

0
54 views
Duduk bersama Mgr. Sillekens adalah Pemimpin Umum Kongregasi OSA Nederland Moeder Sr. Agneta OSA. (Dok. OSA/Repro MH)

PADA tahun1949, ketika Moeder Sr. Agneta OSA menjabat Pemimpin Umum Kongregasi Suster Santo Augustinus dari Kerahiman Ilahi di Negeri Belanda, sebuah prakarsa cemerlang lahir dari tangannya.

Beliau mengambil keputusan berani yakni mengirim lima suster OSA muda belia untuk ditugaskan menjadi misionaris guna melakukan misi ke “Timur”: wilayah Asia, tepatnya di wilayah bekas teritori kolonial Hinda-Belanda (sekarang bernama Indonesia).

Dan terjadilah karya misi awal OSA ke Indonesia dan mendapatkan tempatnya di wilayah reksa pastoral (kini) Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat.

Lima orang suster OSA muda dikirim oleh Moeder Sr. Agneta OSA untuk bertolak meninggalkan Pelabuhan Rotterdam dan kemudian berlayar selama beberapa pekan lamanya menuju Batavia (Jakarta) dan selanjutnya menuju Ketapang di Kalbar.

Lima suster misionaris OSA

Ke-5 suster muda OSA yang menjadi misionaris ke Ketapang itu adalah:

  1. Sr. Euphrasia OSA.
  2. Sr. Maria Paolo OSA.
  3. Sr. Desideria OSA.
  4. Sr. Prudentia OSA.
  5. Sr. Mathea OSA.

Dari kelima suster muda misionaris OSA Negeri Belanda inilah, bibit panggilan suster OSA asal Indonesia mulai disemai di Ketapang, Kalbar.

Karya kesehatan

Pada awalnya dan murni berdasarkan semangat dan spiritualitas melayani orang kecil di sejumlah rumah sakit di beberapa kota di Belanda, kelima suster muda misionaris OSA di Ketapang itu juga dikaryakan di lembaga kesehatan milik Pemerintah RI.

Di rumah sakit pemerintah inilah, kelima noni Belanda  –para Suster OSA misionaris ini– berkarya melayani orang sakit dan kaum lansia.

Keterampilan khas perempuan

Selain itu, mereka juga memprakarsa karya pendidikan, khususnya meningkatkan derajad dan keterampilan khas perempuan yakni jahit-menjahit, berkebun, dan tata boga.

Untuk hal itu, mereka lalu merintis mendirikan rumah pendidikan (sekolah) dan asrama untuk menampung para murid.

Maka berdirilah KRT (Kursus Rumah Tangga) yang kemudian berubah menjadi SKP (Sekolah Ketrampilan Putri) dan kemudian menjadi SMP.

Lewat asrama dan sekolah, para remaja putri di Ketapang dan daerah pedalaman datang untuk belajar aneka ketrampilan khas perempuan.

Sr. Kristien OSA menggerakkan kaum ibu di Manjau belajar bercocok tanam (Dok OSA-Repro MH)
Sr. Augustini OSA berkebun.

Setelah pulang ke kampung-kampung dan menguasai aneka jenis keterampilan tersebut, remaja putri itu diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup rumah tangga meningkat. Dengan itu pula, tingkat kesejahteraan dan kondisi kesehatan keluarga semakin terjamin.

Hal-hal sederhana inilah yang dikerjakan oleh kelima suster perintis Kongregasi OSA di Ketapang dan itu menjadi sumbangan sangat berharga bagi masyarakat di Ketapang dan daerah-daerah sekitarnya.

Terimbas oleh ketegangan politik

Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945. Di tahun-tahun awal paska Kemerdekaan RI, hubungan politis antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Kerajaan Belanda masih bagus lantaran ada pihak penghubung yang menjembatani komunikasi antara Jakarta dan Amsterdam.

Namun, tahun-tahun berikutnya setelah 1949 –pasca “Aksi Polisionil” oleh tentara Belanda di beberapa kota di Indonesia– hubungan Jakarta-Amsterdam semakin memburuk.

Kondisi ini berdampak pada kondisi iklim kerja para suster OSA –noni-noni Belanda—yang bekerja di jawatan rumah sakit milik pemerintah RI.

Itulah sebabnya, para suster OSA itu kemudian undur diri dari rumah sakit pemerintah dan berinisiatif membuka layanan kesehatan mandiri berupa Rumah Bersalin (RB) dan BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak).

Kendaraan lapis baja Pasukan Belanda dari Divisi 7 mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara 29 Oktober 1946 dengan misi ingin merebut kembali Indonesia dan menjadikannya kembali sebagai daerah jajahan Kerajaan Belanda. (Ist)

Kharisma tarekat

Kharisma atau spiritualitas Kongregasi Suster OSA dari Kerahiman Allah berbunyi sebagai berikut:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25: 40b).

Visi

“Menghadirkan Kerajaan Allah merupakan segala-galanya dari kegiatan para Suster St. Augustinus. Segala kemampuan diarahkan, dikembangkan dalam semangat Injil serta dalam persatuan dengan  Gereja; untuk menyatakan solidaritas terhadap sesama,  terutama yang kecil dan yang menderita serta tersisih dalam masyarakat.”

Vandel Kongregasi Suster OSA dari Heemstede Nederland. (Mathias Hariyadi)

Misi

“Menanggapi seruan Kristus yang terungkap dalam kesatuan panggilan Gereja serta tuntutan zaman, Suster St. Augustinus terlibat membangun dunia yang lebih mendalam, melayani masyarakat kecil secara utuh dan seimbang melalui karya-karya  di bidang  kesehatan, pendidikan, dan sosial. Ini agar masyarakat semakin maju di bidang rohani maupun di  bidang jasmani. Dengan demikian, Kongegasi menghadirkan dan mengalami Kerajaan Allah dalam hidupnya yang nyata.”

Karya Kerasulan Suster OSA  bergerak di bidang:

  • Kesehatan: rumah sakit dan poliklinik.
  • Pendidikan formal (mulai dari PAUD, SD, SMP, SMK) dan asrama.
  • Sosial kemasyarakatan.
  • Pastoral dan Katekese.

Alamat kontak Biara OSA

Biara Induk Kongregasi OSA di Indonesia
Susteran St. Augustinus
Jl. Jend.Sudirman 31
Kota Ketapang, Kalbar 78813
(0534) 32483, 33064

Pusat Pembinaan Para Suster OSA :

Novisiat Thagaste
Jl. Khatulistiwa Km 5, No.88
Gg.Beringin3
RT 03/RW 05
Siantan Hilir, Pontianak 78244
(0561) 881605

Biara-Komunitas Suster OSA

Di wilayah Keuskupan Ketapang, Kalbar ada di: 

  • Kota Ketapang
  • Tumbang Titi.
  • Menyumbung.
  • Manjau.
  • Sandai.
  • Payakumang.

Di Keuskupan Agung Semarang (Jawa Tengah)

Biara OSA Semarang
Jl. Ismangil No. 9
RT01/RW 08
Kumudasmoro Dalam
Semarang 50148

Di Keuskupan Malang (Jawa Timur)

Biara OSA Tumpang Malang
d.a.RS Sumber Sentosa
Jl.Raya Kebonsari 221
Tumpang, Malang  65156

Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA): Dari Belgia ke Belanda, Lalu ke Indonesia (2)

(Berlanjut)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here