Malang: Cor Iesu Festival 2018

0
240 views
Dewaan Galang menampilkan Senam Tongkat dan Semafor di ajang Cor Iesu Festival (CJF) Malang. (Laurensius Suryono)

GEMBIRA, semua anak yang hadir dan memeriahkan Cor Iesu Festival gembira,  walaupun dalam kondisi cuaca sangat terik di halaman SMPK Cor Iesu Malang.

Dewan Galang dengan seragam khas Pramuka cokelat-cokelat yang memainkan tongkat Pramuka serta mengibar-ngibarkan Bendera Semafor kuning oranye dengan tangkas mereka laksanakan dihadapan para rekan-rekan satu sekolah dan tamu undangan dari beberapa Sekolah Dasar se-Kota Malang.

Mereka hendak menunjukkan hasil gladi serta kedisiplinan dan kesamaptaan jasmani selama ini sebagai salah satu ekstra kurikuler di SMPK  Cor Iesu Malang yang gedung-gedung sekolahnya sangat monumental dan sudah berusia 100 tahun.

Persembahan tari dari Siswa SDN Bareng 3, dan Dinoyo 3 Malang.

Peter, Sisil, serta Widya berulang kali mendapatkan tepuk tangan dan sorak pujian dari teman-teman mereka yang sangat menikmati dance K-Pop dan lagu-lagu favorit mereka dari negara belahan utara yakni Korea Selatan. Mereka bertiga berlatih “ngedance” tidak kurang  dari satu tahun, dan ketika pembawa acara menanyakan kesannya tampil mereka mengatakan, “Seneng dan malu jadi satu saat tampil.”

Lain lagi dengan Samuel dan Albert bersaudara mereka menunjukkan kepiawaiannya dalam berolah raga wushu, dengan mengenakan pakaian yang indah berornamen dari Negeri Tiongkok serta tongkat pedang berliak-liuk gemulai sambil meloncat kesana-kemari sangat memukau mereka yang melihat.

Dua siswa SMPK Cor Iesu menampilkan Wushu.
K-Pop Dance Persembahan Siswa SMPK Cor Iesu.
Pentas tari khas Papua.

Ya olahraga wushu sangat menarik perhatian di Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang dan atlet Lindswell Kwok mempersembahkan medali emas kedua bagi Indonesia dan Edgar mempersembahkan medali perunggu.

Semoga Samuel dan Albert bersaudara kelak kemudian hari juga dapat berprestasi di tingkat nasional atau bahkan dunia.

“Hallo Nico, selamat siang, duduk-duduk santai apa kelelahan,” tanya penulis.

Ternyata Nico berempat bersama kawannya tidak tampil di panggung tetapi mereka mendapat tugas yang sangat berperanan dalam menjaga kebersihan lingkungan selama acara CJF berlangsung, suatu tugas yang perlu juga diacungi jempol dua.

Menurut Ibu Reni Ketua Panitia, CJF ini dilaksanakan dengan tujuan memberi wadah bagi siswa-siswi SD se-Malang Raya dan siswa SMPK Cor Iesu untuk berkompetisi dan berkolaborasi serta meningkatkan kepercayaan diri dalam bidang seni, budaya dan olahraga. Juga mampu menunjukkan sikap sportif dalam berprestasi.

Acara yang dilaksanakan di SMPK Cor Iesu Malang berlangsung pada Sabtu 27 Oktober 2018 dari pagi hingga siang hari.

Tampilan dari anak-anak SDN Bareng 3 Malang berjudul Cucak Hijau, sedang dari SDN Dinoyo 3 Malang berjudul Jaranan sangat atraktif sehingga para penonton berulang kali juga memberikan tempik sorak-sorai  serta ingin juga mengikuti gerakan-gerakan mereka yang lucu-lucu namun penuh kepercayaan diri.

Tari Saman oleh Siswa SMPK Cor Iesu.
Gelaran pentas tari Gemu Famire persembahan Siswa SMPK Cor Iesu.

Guru pembimbing mengatakan “Sekolah berusaha mengikutsertakan para murid dalam berbagai festival atau lomba-lomba dengan tujuan untuk memotivasi anak serta menumbuhkan kepercayaan diri, bukan semata-mata untuk kejuaraan.”

Tari Saman dari Aceh, Tari Gemu Famire dari Flores dan Dance Papua juga disuguhkan kepada seluruh penonton. Menarik sekali mengamati tarian-tarian dari berbagai daerah yang dibawakan oleh anak-anak siswa SMPK Cor Iesu. Sepertinya mereka ingin mengingatkan kita semua bahwa kita berbeda-beda dalam budaya tapi satu Indonesia.

Sambil berpromosi Pak Riki yang merangkap sebagai pelatih tari, sekaligus pembawa acara menyampaikan kalau di SMPK Cor Iesu juga ada ekstra karawitan lho.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here