Menjadi Ragi dalam Adonan Kehidupan

0
236 views
Ilustrasi: Suster JMJ sedang membuat roti.

Yak 1:12-18 dan Mrk 8:14-21.

ADA kecenderungan besar dalam diri manusia adalah mempersalahkan orang lain. Bahkan Allah saja disalahkan. Kisah manusia pertama di Taman Eden menegaskan hal ini.

Surat Rasul Yakobus mau menyadarkan kita bahwa Allah tidak menjerumuskan orang ke dalam kegagalan dan kesalahan.

Allah yang Mahakasih selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Harus diakui bahwa kesalahan dan kegagalan merupakan tanggungjawab manusia sendiri. Kesadaran dan pengakuan ini akan menjadi lahan subur berkembangnya kasih karunia Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Kepentingan hidup dan kebutuhan hidup sehari-hari bisa saja menghambat orang memahami dan memperhatikan orang lain.

Percakapan Yesus dengan para murid tentang ragi orang farisi dan ahli taurat memperlihatkan hal demikian.

Yesus menuntut para murid memiliki keterbukaan, agar kasih karunia Allah dikenal dan dapat diterima.

Yesus mengawasi para murid agar berhati-hati terhadap ragi orang farisi dan ragi Herodes yang menurut Yesus memberi dampak dan pengaruh buruk atau negatif.

Dari bacaan Injil ini, sebenarnya Yesus juga mau mengajak kita untuk menjadi ragi bagi adonan kehidupan ini.

Fungsi ragi itu mentransformasi, mengubah secara mendalam dan membuahkan citarasa baru.

Demikian juga para murid Yesus, hendaknya sanggup mentransformasi adonan kehidupan ini dan memberikan citarasa berbeda dari orang lain.

Sikap hidup, tutur kata, keterlibatan dalam hidup bersama bisa merupakan ragi yang berkualitas dari diri seorang murid Yesus.

Bagaimana dengan kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here