Oma Djuniati yang Menderita dan Sendirian

1
2,108 views

Meski sudah lama berlalu, pengalamanku ini rasanya layak kuceritakan pada teman-teman. Waktu itu Hari Minggu. Sore menjelang malam, kami OMK Paroki Toasebio, Glodok, Jakarta Barat baru saja selesai latihan drama untuk persiapan pentas Paskah nanti.

Saat sedang bergurau, tiba-tiba salah satu teman berkata “Teman-teman mau gak kita jenguk salah satu oma di paroki kita. Dia tinggal di Gang Betet. Namanya Oma Djuniati”.

Tanpa pikir panjang sebagian dari kami pun mengiyakan ajakan tersebut. 

“Ayo,” jawab kami.

Kami semua tersentuh dengan penjelasan teman yang menyebutkan bahwa Oma tersebut tinggal di rumah sendirian dengan kondisi rumah gelap gulita karena listrik dicabut dan kondisi kesehatan yang memburuk. katanya sih terdiagnosa kanker payudara.

Setelah beres-beres, kami langsung menuju rumah Oma. Tanpa peduli dengan rasa lelah, kami jalan kaki dari gereja menuju rumah oma yang terletak di Gang Betet. Sepanjang jalan kami sempat bincang-bincang mengenai oma tersebut.

Setelah sampai, perasaan kami pada waktu itu pun berubah. Kami iba dengan situasi yang ada. Hawa pengap,gelap,hening,sunyi senyap itulah suasananya saat kami menginjakan kaki dirumah oma.Bagaimana mungkin oma bisa tinggal di tempat gelap seperti ini tanpa penerangan? pikirku dalam hati. Bahkan, keadaan seperti ini dijalaninya lebih dari setahun lalu. Aku tidak bisa membayangkan kalau kami yang mengalaminya.
 
Karena gelap dan butuh cahaya untuk melihat kondisi oma saat itu, salah satu teman langsung keluar dan membeli beberapa lilin serta korek api. Sambil menunggu, kami mengeluarkan HP atau apapun yang bisa menerangi ruangan.

Dengan cahaya hape kami amati rumah. Kami coba lihat foto yang terpajang di ruang tamu,salah satunya saat oma baptis. Kami juga perhatikan kondisi lantai ruang tamu, toilet, serta dapur yang memprihatinkan. Benar-benar seperti kondisi rumah kosong yang sudah lama ditinggal pemilik atau penghuni nya.

Setelah lilin didapat dan dinyalakan kami masuk kamar oma yang gelap, pengap dan terasa tak ada hawa udara sama sekali. Kami mulai menyapa. Meski oma tidak menjawab, kami terus memanggil.

”Omaa! omaa! gimana kondisi oma?”

Dari raut wajah penuh kesakitaan oma hanya menjawab “sakit,,dada sakit..”sambil memegang dada di sebelah kirinya.

Kami pun sempat berbincang-bincang dengan oma. Meski tahu oma tidak akan banyak menyahut tapi kami mencoba memberi semangat dan perhatian.

Kami pun berinisiatif untuk memberitahu romo paroki dan meminta sakramen perminyakan. Sambil menunggu romo, kami melantunkan doa “Bapa Kami” yang diulang terus menerus. Suasana ruangan terasa berubah. Meski tetap hening, tapi hati terasa damai dan tidak sepi. Tak heran, sejenak oma tertidur dengan posisi tangan sudah tidak memegang dadanya yang sakit.

Singkat cerita, romo datang dan upacara perminyakan selesai. Oma kami bawa ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut. Esok harinya kami mengunjungi oma lagi di rumah sakit. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kami mulai bisa bersenda gurau, tertawa serta berdoa bersama. Oma sempat berkata “Saya sampai tidak bisa berhenti tertawa karena kalian”

Apa yang kami lakukan ini bukanlah apa-apa dibanding yang dilakukan Bunda Teresa apalagi seperti yang dilakukan Tuhan kita, Yesus Kristus. Syukur kepada Allah, kami diizinkan mengalami proses luar biasa dari Allah Bapa melalui peristiwa ini, sedikit menjawab tema APP 2011 “Mari Berbagi “.

Tentu, tema ini tidak semestinya berhenti saat paskah sudah selesai. Sampai hari ini dan kapan pun semestinya tema itu tetap digemakan dalam hati kita. Masih banyak hal yang bisa saya, Anda dan kita lakukan.

Lewat siapa pun Tuhan gunakan untuk menyapa anak-anaknya yang dikasihiNya. Kita adalah alat Tuhan. Karena itu, mari buka mata, telinga serta siapkan hati untuk merasakan serta menjawab sapaan Tuhan. Mari berbagi segala talenta yang sudah Tuhan titipkan kepada kita untuk orang-orang di sekitar kita, sebab kita inilah biji mata dan perpanjangan tanganNya.

1 COMMENT

  1. Refleksi yang menarik khususnya bagi kaum muda.. Sperti yang telah disabdakan Sang Guru.. ketika aku sakit engkau melawat aku… Semangat ” Mari berbagi” kiranya sungguh menjadi tindakan nyata bagi saudara kita yang menderita, bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.. kepekaan hati adalah tuntutan kehidupan kita untuk saling mengasihi sesama…

    ” Aku bahagia jika karena aku, engkau bahagia ”

    Proficiat dan kobarkan semangat mudamu dalam melayani sesama untuk meluhurkan namaNya…

    Salam dan doa…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here