Pelita Hati: 24.06.2019 – Yohanes, Allah yang Berbelas Kasih

0
447 views

Bacaan Lukas 1:57-66.80

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. (Luk 1:57,59-60, 62-63)

Sahabat pelita hati,

SALAH satu tokoh penting dalam sejarah penebusan dan penyelamatan adalah Yohanes Pembaptis atau pernah juga disebut Yohanes Pemandi. Hari ini Gereja merayakan kelahiran-Nya. Gereja merasa perlu merayakan secara khusus karena  kelahirannya menyertakan peristiwa iman yang istimewa. Elisabeth yang sudah berusia lanjut dan dinyatakan mandul itu ternyata melahirkan Yohanes. Inilah sebentuk karya belas kasih Allah. Karenanya, nama “Yohanes” berarti Allah berbelas kasih. Sebagai orang beriman kita percaya  bahwa karya belas kasih Allah tidak hanya terjadi di masa lampau tetapi juga tetap terjadi di masa kini. Karya mujizat Allah pun bukan cerita masa lampau namun tetap terjadi dan berlangsung di saat ini. 

Sahabat terkasih, 

Kelahiran Yohanes yang istimewa seakan menjadi antisipasi akan pribadinya yang istimewa. Ia hidup mengembara, pakaiannya kulit binatang dan makannya madu hutan. Ia yang digambarkan sebagai orang yang berperawakan kasar dan keras tutur katanya ternyata memiliki hati yang lembut dan  rendah hati. Ketika orang menanyakan apakah dirinya Mesias, dengan jujur dan rendah hati ia tak berusaha memanfaatkan kesempatan itu, bahkan ia menyatakan membungkuk untuk membuka tali kasut-Nya pun tidak layak. Ia mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Sebagai seorang nabi, ia menjalankan fungsi kenabiannya dengan tegas dan lugas, menegur yang salah dan meluruskan yang  bengkok. Tegurannya kepada Herodes akhirnya membawanya kepada kematian keji, ia dipenggal kepalanya. Inilah sebentuk kesaksian hidup Yohanes yang tetap teguh berjalan di jalur yang benar. Tak takut tantangan dan kesulitan demi menegakkan kebenaran.

Sahabat terkasih,

Apakah kita telah menghayati hidup dalam kejujuran dan kebersihan hati serta berani memperjuangkan kebenaran? Atau kita mudah menyerah dan mudah kalah terhadap tantangan dan kesulitan? Semoga kita mampu meneladan Yohanes Pembaptis pahlawan kejujuran, sang tulus hati dan rendah hati.

Berakit-rakit ke hulu,
berenang-renang ke tepian.
Carilah Kerajaan Allah terlebih dahulu,
rahmat-Nya ‘kan dilimpahkan kemudian.

Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here