Percik Firman: Menjadi “Yudas” Masa Kini?

0
184 views

Rabu dalam Pekan Suci, 8 April 2020

Bacaan Injil: Mat 26:14-25

“Yudas berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya” (Mat 26:15)

Saudari/a ku ytk.,

DALAM rekoleksi para imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang tanggal 17-18 Maret 2020, diangkat tema “Belajar dan Meneladan Sosok Soegijapranata”. Mgr. Albertus Soegijapranata adalah uskup pribumi Indonesia pertama yang juga secara aktif mengobarkan semangat nasionalisme pada masa awal terbentuknya NKRI. 

Hadir sebagai narasumber dalam rekoleksi itu adalah Bapak Theodorus Sudimin, yang pernah menjadi Ketua The Soegijapranata Institute (2013-2018) sekaligus dosen Unika Soegijapranata Semarang. Pada sesi pertama, beliau menayangkan profil Mgr. Soegijapranata dari tayangan Melawan Lupa di Metro TV : “Soegijapranata: Jalan Iman Seorang Patriot”. 

Mgr. Soegijapranata setia pada tanah airnya. Ia rela berkorban untuk Gereja dan tanah air. Sampai diangkat menjadi pahlawan nasional dan namanya dipilih menjadi nama Universitas Katolik di Semarang. Dia salah satu pribadi inspiratif yang mewujudkan iman kekatolikannya dengan peduli dan terlibat pada sesama dan umatnya. Talentanya untuk tanah air dan kemanusiaan (Talenta pro patria et humanitate).

Situasi yang dihadapinya saat itu amat berat, yaitu: pendudukan Jepang (1942-1945), para misionaris Eropa ditangkap-dipenjara, larangan terhadap agama Barat, fasilitas gereja dibakar atau diminta Jepang, dan revolusi fisik (1945-1949). Semboyannya yang terus menggema sampai saat ini adalah “100% Katolik, 100% Indonesia”. Fokus perhatiannya adalah keberpihakan Gereja dengan perjuangan seluruh bangsa. 

Dia pun membentuk lembaga-lembaga yang bersemangatkan Pancasila, seperti: Ikatan Petani Pancasila, Ikatan Buruh Pancasila, Ikatan Nelayan Pancasila, dan Koperasi Pancasila. Ikatan-ikatan ini beranggotakan orang-orang dari segala lapisan masyarakat, tidak membeda-bedakan suku, agama, dan warna kulit. Soegijapranata menjadi contoh orang yang cinta dan setia pada bangsanya,  bukan pengkhianat bangsanya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, dimana tega menjual Yesus gurunya. Yesus dijual 30 keping perak. Cap ‘pengkhianat’ melekat pada diri Yudas. Dia berkhianat karena dia cinta akan uang, padahal akar segala kejahatan adalah cinta uang. Dalam Kitab Suci, dinyatakan bahwa sebagai Bendahara, Yudas suka mengambil uang dari pundi-pundi perbendaharaan untuk kepentingannya sendiri. 

Dalam budaya Yahudi zaman itu, nilai 30 keping uang perak sangat besar. Pada zaman itu jika seseorang budak mati tidak disengaja (Keluaran 21:30), maka harga penggantinya adalah 30 keping perak. Selain itu, nilai 30 keping perak ini juga disebut dalam nubuat kitab Zakharia 11:13. Ada ahli yang menyebut bahwa 30 keping uang perak sama dengan gaji 4 bulan (120 hari) seorang buruh ahli. Anda bisa menghitung berapa besar jumlah uang tersebut.

Bisa jadi juga ada ‘yudas-yudas masa kini’ di tengah masyarakat dan di dalam Gereja kita pada masa virus Corona-Covid 19 ini. Demi kepentingan pribadi, ada orang yang tega cari keuntungan dari situasi yang tidak mudah seperti saat ini. Misal, menumpuk masker dan dijual dengan harga berlipat-lipat, menyebarkan berita atau video hoax di youtube agar mendapat uang, dsb.

Kalau tidak hati-hati, kita pun bisa menjadi ‘yudas-yudas masa kini’ bagi Yesus dan Gereja-Nya. Kita sering menilai diri Yudas sebagai satu-satunya pengkhianat yang pernah menjual diri Kristus. Tetapi mungkin juga ada orang Katolik yang dikuasai oleh iblis dan nafsu serakah seperti Yudas. 

Karena dikuasai oleh nafsu serakah akan uang, tak jarang pula orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Akhirnya orang rela mengkhianati teman atau saudara atau imannya, agar dapat memperoleh keuntungan duniawi (jabatan, uang, prestasi, dsb). 

Pertanyaan refleksinya, Apakah dalam diri Anda ada sifat “Yudas”? Apa yang perlu Anda lakukan agar tidak dikuasai atau diperbudak oleh cinta akan uang?

Selamat menyongsong Trihari Suci Paskah.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan. # Y. Gunawan, Pr

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here