Puncta 21.08.19 PW St. Pius X-Paus Mat 20: 1-16: Iri Hati, Awalnya

0
231 views
Doryudana, tokoh wayang. (Ist)

DESTARASTRA, Raja Hastinapura itu lebih menyayangi keponakannya, yakni para Pandawa daripada anak-anaknya sendiri. Ia mengangkat Yudistira, si sulung dari Pandawa menjadi putera mahkota di Hastina.

Inilah awal kebencian Doryudana terhadap para Pandawa. Doryudana adalah puetra sulung Destarastra.

Iri hatinya memunculkan niat jahat untuk melenyapkan sepupunya dari Hastinapura. Maka diundangkan Pandawa ke hutan Waranawata untuk berlibur dan berpesta pora.

Di hutan itu sudah disiapkan bangunan yang mudah terbakar. Rencana Doryudana, pada waktu Pandawa tertidur, bangunan itu akan dibakar, sehingga matilah para Pandawa.

Benarlah bangunan itu dibakar saat Pandawa kelelahan dalam pesta. Namun Widura, paman mereka dan seorang pertapa menyelamatkan mereka dan lari ke dalam hutan belantara.

Tahu bahwa para Pandawa selamat, makin bencilah Doryudana. Iri hati muncul lagi saat tahu para Pandawa diberi tanah perdikan bernama Indraprasta. Kota itu dibangun dengan megah oleh Yudistira dan adik-adiknya. Akhirnya Doryudana mengajak mereka bermain dadu. Pandawa terjebak. Mereka kalah dan harus dibuang selama 12 tahun di hutan belantara. Ditambah harus bersembunyi selama satu tahun. Kalau dalam persembunyian mereka dikenali, maka mereka harus menjalani pembuangan dari awal lagi.

Bacaan Injil hari ini menceritakan sifat iri hati yang menghancurkan. Pemilik kebun anggur membuat kesepakatan kepada para pekerja tentang upah sedinar sehari. Mereka sepakat. Pukul sembilan, rombongan pekerja pertama mulai bekerja. Rombongan kedua mulai pukul duabelas. Rombongan ketiga mulai pukul tiga sore. Rombongan keempat mulai pukul lima sore.

Ketika pukul enam sore, mereka dikumpulkan. Orang yang bekerja hanya satu jam mendapat satu dinar.

Pekerja lain yang bekerja lebih awal berpikir akan mendapat lebih. Tetapi mereka juga sama mendapat satu dinar. Maka muncullah protes karena mereka iri hati. Merasa diperlakukan tidak adil.

Dimana ketidakadilannya? Mereka sudah sepakat sejak awal sedinar sehari. Allah justru murah hati karena tetap memberi sedinar kepada mereka yang terakhir bekerja.

Sering kita hanya memandang dari egoisme kita. Kalau kita menderita, tidak beruntung, lalu menyalahkan Allah.

Kapan kita bisa bersyukur atas kemurahan hatiNya? Atau iri hatikah kamu karena Aku murah hati?

Pergi ke pasar naik bendi
Membeli baju belum dijahit
Kalau kita selalu iri hati
Pikiran stres badan jadi sakit

Cawas, suatu senja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here