Tahbisan Uskup OMI tanpa Kehadiran Banyak Uskup, Imam, dan Umat

0
578 views
Tahbisan Uskup tanpa kehadiran banyak uskup, pastor dan umat by ist

TAHBISAN seorang Uskup di tengah pandemi covid 19. Ini tentunya sangat indah dan juga mengagumkan.

Ini terjadi saat berlangsung tahbisan uskup untuk Vikariat Apostolik Jolo-Sulu, Filipina yakni Mgr. Charlie Malapitan Inzon OMI pada tanggal 21 Mei 2020 lalu, tepat pukul 03.30 sore di Gereja Katedral Perawan Tak Bernoda Cotabato City, Filipina.

Ini memang berbeda dengan tahbisan-tahbisan lain, entah tahbisan diakon, tahbisan imam atau pun tahbisan uskup pada situasi normal atau biasa.

Tahbisan Mgr. Charlie OMI ini justru terjadi pada situasi luar biasa, di mana seluruh dunia mengalami sakit yang luar biasa oleh pandemi covid 2019. Dan yang menjadi sangat luar biasa, indah dan mengagumkan karena tahbisan Uskup Mgr. Charlie tidak terbuka untuk umum, melainkan tertutup dan disiarkan secara live.

Tahbisan Uskup Mgr. Charlie hanya dihadiri oleh tiga Uskup Penahbis dan hanya sedikit orang lain, yakni:

  • Mgr. Angelito R. Lamponi OMI (Penahbis utama);
  • Mgr. Orlando Cardinal B. Quevedo OMI (Asisten Penahbis I);
  • Mgr. Jose Colin Bagaforo DD (Asisten Penahbis II).
  • Tiga orang imam yang juga menjadi pelayan (lektor, misdinar) perayaan tahbisan;
  • Satu orang frater OMI yang bertugas sebagai komentator;
  • Tiga orang umat sebagai koor.

Salut sekali

Menyaksikan secara live streaming prosesi upacara pentahbisan Uskup Mgr. Charlie yang jauh dari kesan meriah, jujur saya terharu. Namun juga merasa bangga atas pengorbanan Mgr. Charlie yang bersedia ditahbiskan sebagai uskup. Ini sungguh tanpa dihadiri umat, kerabat, keluarga dan orangtuanya.

Dalam sambutannya, Mgr. Charlie OMI mengatakan bahwa beliau sendiri yang meminta keluarga dan orangtuanya untuk tidak hadir dalam perayaan tahbisan itu. Perayaan bersama seluruh umat, keluarga dan orangtua akan dilaksanakan, ketika situasi sudah normal. Demikian ungkap beliau.

Tahbisan uskup yang sangat sederhana, namun sangat indah, agung dan mengagumkan, karena kita mampu melihat dengan jelas pengorbanan Kristus yang hadir menemani dan menguatkan kita di tengah dukacita dan rasa sakit yang kita alami.

Mgr. Charlie dalam sambutannya mengatakan demikian: “Saya sendiri yang meminta agar upacara tahbisan dilaksanakan dengan sangat sederhana, karena dunia sedang sakit dan berdukacita karena covid-19.

Namun, saya justru mengalami bahwa upacara tahbisan uskup hari ini sangat indah dan mengagumkan, karena saya bisa menghadirkan pengorbanan Kristus di tengah dukacita dan rasa sakit yang dialami oleh seluruh umat manusia di dunia ini dan juga di Filipina.”

“Dalam kesederhanaan tahbisan uskup saya sebagai Vikaris Apostolik untuk Vikariat Apostolik Jolo, kita semua justru melihat kehadiran Tuhan secara nyata, pengorbanan-Nya demi dukacita dan rasa sakit kita. Kehadirian Tuhan sungguh menjadi pusat dari tahbisan Uskup saya ini.”

Tahbisan ini doa, bukan kemeriahan

“Tahbisan Uskup adalah sebuah doa. Maka bukan kemeriahan, pun pula bukan berapa banyak umat yang menghadiri upacara pentahbisan saya. Karena yang menjadi pusat adalah Tuhan sendiri. Sehingga meski tanpa kehadiran umat secara langsung, saya bisa merasakan kehadiran ribuan umat yang hadir melalui kehadiran Tuhan dengan cara mengikuti secara live Perayaan Ekaristi Penahbisan Uskup ini. Kita harus move on,” pungkas Mgr. Charlie.

Pengrobanan Kristus menjadi dasar pengorbanan Mgr. Charlie untuk mengorbankan kehendak pribadinya. Siapa yang tidak bangga dan bahagia, ketika upacara tahbisan dihadiri oleh ribuan umat?

Siapa pun kita pasti mengharapkan demikian.

Namun Mgr. Charlie berani dan mampu mengubur keinginan dan kehendak pribadinya karena semata-mata demi membahagiakan semua umat manusia yang sedang sakit dan berdukacita.

Mgr. Charlie membawa kebahagiaan dan keselamatan bagi umat manusia dengan cara berbeda yaitu “mematikan kehendak pribadi”.

Dan itu yang menjadi kebahagiaan dan sukacita sejati. Itu adalah sebuah keindahan dan keagungan dari tahbisan uskup atas diri beliau.

Mgr. Charlie mengingatkan kita semua akan hal ini.

Menjadi pengikut Kristus dan ketika Kristus menjadi pusat hidup kita, maka menyangkal diri sendiri, kehendak dan keinginan pribadi serta memikul salib sendiri termasuk dukacita dan rasa sakit umat manusia hari-hari ini oleh covid-19 adalah keharusan. Ini yang wajib dijalankan dan dilaksanakan oleh seorang pengikut Kristus sejati (bdk. Lukas 14:26-27).

Terima kasih Yang Mulia Mgr. Charlie atas pengorbananmu, menghadirkan pengorbanan Kristus untuk kebahagiaan dan keselamatan kami umatmu yang sedang sakit dan berdukacita.

Manila 21 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here