Artikel Politik: Nabi Nuh dan Pandemi

0
128 views
Ilustrasi: Kapal Nabi Nuh by Ist.

“Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan”. (Kejadian 6: 13)

Itu berita dari Tuhan kepada Nabi Nuh tentang apa yang akan dilakukan-Nya, gara-gara bumi  sudah kacau balau.

Nampaknya sudah sangat parah.“Kemurkaan” Tuhan sudah tak tertahankan lagi. Manusia telah melakukan kejahatan yang luar biasa. Dan akibatnya, bumi porak poranda. 

Tuhan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman dalam bentuk air bah meliputi (seluruh) bumi. (Kejadian 6:17)

Kecuali kepada Nuh dan isterinya, anak-anak mereka, Sem, Ham dan Yafet beserta isteri-isteri mereka dan beberapa pasang binatang, masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan. Setelah banjir reda. 

Nuh diperintahkan membuat bahtera raksasa, tempat mereka menyelematkan diri saat bah melanda.  Hujan deras dikucurkan-Nya selama 40 hari dan 40 malam. Dan semua makhluk hidup binasa. (Kejadian 7:4).

Setelah hujan berhenti dan banjir surut, mereka keluar dari bahtera. Mulailah penjelajahan bumi yang “baru”. Kehidupan lama sudah punah. Kehidupan baru harus dirintis.

Tak ada informasi bagaimana, kemudian, Nuh dan keluarganya memasuki kehidupan baru. Sulit membayangkan, bagaimana kondisi bumi setelah air bah. Bumi hanya dihuni 8 orang. Binatang  sangat terbatas.

Bagaimana mereka mengisi “hidup baru”?. 

Saya mengartikan bahwa air bah di zaman Nuh, sebagai “peringatan sangat keras” dari Tuhan kepada umat manusia. Peringatan-peringatan halus, sebelumnya, tak mempan.

Yang sedikit lebih keras tak digubris. Yang keras didiamkan. Lantas turunlah bencana dahsyat, terjadilah banjir bandang dengan bahtera yang fenomenal sebagai penyelamat.

Kalau saja Nuh hidup di zaman kini, mereka disebut memasuki “hidup baru” dengan “the new normal”. Menjalani kehidupan bersama-sama dengan sedikit (sekali) orang, berbeda jauh dibanding sebelumnya. Tata-cara berubah. Srawung antarmanusia kini jadi berbeda. Mencari nafkah tak lagi sama. Kebiasaan dan budaya baru akan terbentuk.

Singkat cerita, Nuh dan keluarganya harus menghadapi “hidup baru”. 

“Tanda-tanda zaman” sudah diturunkan. Ada yang mudah dipahami karena nampak jelas, tapi selebihnya, samar-samar, bahkan ada yang gelap gulita. Menjadi kewajiban “manusia-manusia baru” itu untuk menerjemahkan “Peringatan Tuhan” menjadi cara “normal baru”. 

Tak mudah. Sensitivitas perlu diasah, permenungan diperbanyak dan “spiritual insight” dipertajam.

Jika “Pesan Tuhan” dibiarkan dan mereka kembali ke kehidupan lama, maka sia-sialah kesempatan “hidup baru” itu. Terlalu mahal pengorbanan yang harus mereka “bayarkan”, sementara hasilnya nihil.

Untung, Tuhan sudah berjanji tak akan menurunkan lagi “peringatan keras” seperti itu. (Kejadian 8:21). Namun, peringatan-peringatan yang lebih “ringan” masih akan terus disampaikan kepada umat manusia. 

Salah satunya adalah pandemi Covid-19.

Sama seperti air bah Nuh, “kehidupan baru” pasca pandemi perlu disikapi dengan saksama.  Sensitivitas, permenungan dan insight menjadi syarat utama. Tak hanya kehidupan profan, ritual sakral pun perlu diberikan “catatan baru” oleh-Nya.

Tempat-tempat ziarah agama-agama besar, seperti Basilika Santo Petrus, ditutup dan sepi pengunjung. Ibadah di masjid atau gereja ditiadakan. Beberapa upacara keagamaan bisa diikuti lewat media sosial. Durasinya lebih singkat daripada ibadah “normal” di dalam gedung.  Kotbah lebih pendek. Isinya lebih singkat dan padat. 

Banyak tata-cara kehidupan lain yang seolah-olah sedang “digodog” kembali untuk didapat bentuk barunya. Sekali lagi, tanpa sensitivitas untuk memahami, kita tak akan melihat apa-apa.

Jangan sampai kembali ke “normal lama”.

Melalui pandemi, saya menangkap bahwa Tuhan sedang memberi “catatan” tentang tata-cara “kehidupan baru”. 

“Ibadah ritual” maupun “ibadah sosial”, yang selama ini dilakukan manusia, menjadi perhatian-Nya. Konsentrasi dan fokus harus kepada sesama dan alam. Jangan terbelokkan ke wujud wadag yang tak ada manfaatnya. 

Bangunan megah, indah dan kokoh, meski dinamakan tempat ibadah atau gedung keagamaan, tanpa membahagiakan dan menyejahterakan manusia, serta bersahabat dengan alam, tak berarti apa-apa bagi “hidup baru” dan kemanusiaan.

Ibadah berlama-lama, atau berbondong-bondong ziarah ke tempat jauh dan mahal, namun melupakan tetangga yang menderita, menjadi kegiatan yang melompong tanpa makna.

Dugaan saya, itulah pesan substansial dari pandemi sebagai “Peringatan Tuhan” bagi umatNya. Sering “tanda-tanda zaman” baru menjadi pelajaran berharga, setelah manusia berusaha dan berjuang keras untuk memahami maknanya. 

Ia bukan cetak biru sederhana yang mudah ditangkap maksudnya.

“There are certain life lessons that you can only learn in the struggle”. (Idowu Koyenikan – Penulis buku-buku terkenal, diantaranya Wealth for All)

@pmsusbandono – 1 Agustus 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here