Iman Katolik: Iman Kristiani dan Bancaan untuk Berbagi Berkat

0
383 views
Ilustrasi: Kenduri.

SAYA seorang Katolik, sudah babtis. Tetapi saya masih punya pertanyaan ini:

Kita punya iman, tetapi dapatkah misalnya berjalan seiring dengan Kejawèn?

Contohnya ialah tiap malam Jumat bikin bancakan; tiap mau usaha selalu menyediakan piring bulat putih, cangkir putih, dll.

Praktik seperti itu biasanya dilakukan oleh mereka yang proses menjadi Katoliknya tidak maksimal. Juga mereka yang mengalami babtis Katolik dewasa.

Sebelum menjadi Katolik, mereka sudah biasa menjalani kebiasaan tersebut. Jika demikian, maka mungkin sekali yang dilakukan hanya sebatas tradisi, kebiasaan yang belum tentu dihayati dengan penuh keyakinan.

Ada rasa tidak enak, tidak tenang, jika tidak melakukannya.

Menjadi budaya

Suatu tradisi yang dijalani terus menerus lama kelamaan akan menjadi semacam budaya. Dan jika sudah demikian, maka jangan heran penghayatan iman Katoliknya pun barangkali juga cuma sebatas “tradisi” baru pula.

Tidak enak, kalau tidak ke gereja. Tidak enak kalau tidak bawa rosario dlsb.

  • Belum sampai percaya pada penyelenggaraan ilahi, atau hatinya belum terbiasa mengampuni orang lain.
  • Belum ada doa syukur dalam hidupnya. Yang ada hanya doa permohonan terus-menerus.
  • Karena belum sampai pada kesadaran dan pengakuan bahwa Tuhan itu penuh kasih, maharahim.

Menentukan nasib?

Lain halnya kalau kejawèn. Itu berarti ia sungguh mempercayai bahwa piring, cangkir, bancakan itu yang menentukan “nasib”nya.

Tanpa itu, hidup dan nasibnya akan buruk. Jika itu yang diyakininya, maka itu tidak bisa jalan seiring dengan iman kita.

Itu justru berhala yang sesungguhnya.

  • Berhala artinya men-tuhan-kan apa pun yang bukan Tuhan.
  • Berhala adalah menomorduakan Tuhan. Entah itu barang, pikiran atau keyakinan yang ditempatkan di atas Tuhan, itulah berhala.

Jangan salah, agama pun bisa jadi berhala. Jika karena agama yang diyakininya, agamanya diagung-agungkan. Sedang Tuhan malah tidak disembah dan dimuliakan.

Tetapi jika suatu tradisi atau budaya yang dilakukannya dapat diubah menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, itu boleh dan bagus saja.

Umpama saja berdoa di bawah pohon tertentu, berdoa depan patung, sembahyang dengan menyalakan lilin, bahkan oncor  sekali pun, jika semua  jadi sarana lebih mudah ketemu Tuhan, itu boleh saja.

Bukan karena pohonnya bertuah, tapi karena rindang.

Bukankah Sendangsono, juga begitu. Misalnya tiap malam hari tertentu, membuat bancakan, atau melakukan doa khusus itu juga tidak berlawanan dengan iman sejauh tidak menjadikan bancakan itu sebagai penentu atau syarat utama terkabulnya doa, sehingga malah tak ada tempat untuk Tuhan di sana.

Bancakan, intinya kan wujud syukur. Jika dibagikan ke orang lain, itu juga bisa jadi cara berbagi berkat. Bukankah ekaristi kita juga dikembangkan dari tradisi makan domba Paskah Israel?

Ilusrtrasi: Pohon beringin ist

Iman itu berdimensi vertikal-horizontal

Sebetulnya ukuran atau kriteriumnya untuk menilai iman kita itu gampang aja kok. Pakai saja salib +.

Salib itu terbentuk dari dua kayu palang: vertikal dan horizontal. Menurut saya, iman yang benar mesti mengandung ciri salib tersebut: ya vertikal, ya horisontal.

Vertikal itu menuju ke Tuhan. Horizontal itu mengarah ke sesama. Hanya jika imanmu membuatmu lebih menyembah Tuhan, dan mengasihi sesama, maka imanmu itu benar dan oke.

Bagi saya, pasti keliru imannya jika hanya mengagungkan Tuhan, tetapi tidak berperikemanusiaan.

Sebaliknya, pasti tidak beriman benar, jika hanya peduli sesama, tetapi tidak mengenal Tuhan.

Itulah sebabnya, iman itu wujud konkretnya ada dalam perbuatan nyata. Maka, kita hanya akan beriman dengan benar, jika kita menjadi titik simpul antara dua tali cinta: cinta pada Tuhan lewat cinta pada sesama.

Itulah yang persis dilakukan Yesus. Cintanya pada BapaNya, dinyatakan dalam kasihnya pada sesama.

Karena itu, Yesus dibangkitkan dari mati.

Ini pula yang jadi jaminan iman kita. Jadi, sebenarnya apa pun yang kita lakukan, akan tetap sejalan dengan iman kita, jika hanya jadi sarana, bukan tujuan.

Sarana untuk lebih menyembah Allah dan lebih mengasihi sesama.

Semarang, 12 Juli 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here