Laporan dari Roma: IRRIKA Ziarah ke Spoleto dan Cascia Teguhkan Persaudaraan dalam Iman

0
677 views
Dubes RI untuk Vatikan Antonius Agus Sriyono bersama para peziarah seusai misa di Katedral Spoleto. (Romo Y. Gunawan Pr/KAS)


GEREJA menganjurkan agar Masa Prapaskah diisi dengan berbagai kegiatan dan upaya untuk meneguhkan iman, seperti pantang, puasa, doa Jalan Salib, penerimaan Sakramen Tobat, rekoleksi, ziarah, dsb. Salah satu yang dilakukan Paguyuban IRRIKA-Italia pada Sabtu (6/4) adalah ziarah.

Ada 107 orang yang ikut berziarah di dua tempat di Italia Tengah, yakni Spoleto dan Cascia. Perjalanan dari Roma ditempuh selama sekitar 2,5 jam dengan dua bus besar.

Sebagian besar peserta ziarah adalah para pastor, suster, bruder dan frater yang sedang studi atau berkarya di Roma, Italia. Ikut pula dalam rombongan peziarah adalah Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan, Bapak Antonius Agus Sriyono beserta Ibu Antonia Astuti Retno Widiati (isteri) dan beberapa staf KBRI Vatikan dan umat.

Sebagian para peziarah.

Makin mencintai Kristus

Di Gereja Katedral Santa Maria Assumpta, Spoleto, diadakan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Gregorius Tri CM, Pastor Alex Dancar SVD dan Pastor Doddy Sasi CMF.

Dalam homilinya, Pastor Tri mengajak para peziarah untuk semakin mengenal dan mencintai Kristus. “Bagaimana caranya? Jawabannya dapat kita temukan dalam bacaan Injil, yakni mendengarkan dan membaca Kitab Suci,” urai Pastor Tri.

Lebih lanjut, Pastor Tri memaparkan bahwa dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, para ahli menemukan ada lebih dari 1.500 kata ‘mendengarkan’. 

Pastor Gregorius Tri CM memimpin misa ziarah didampingi Pastor Alex Dancar SVD dan Pastor Doddy Sasi CMF.

Artinya, urai Pastor Tri, pesan Tuhan sangat jelas kepada umat-Nya sepanjang zaman, yakni supaya selalu mendengarkan Sabda dan Kehendak Tuhan dalam peziarahan hidup di dunia ini.

“Yang diwartakan adalah sabda Tuhan dan kehendak Tuhan. Bukan kehendak atau keinginan sang pewarta”, ujarnya.

Hal yang sama juga dengan membaca Kitab Suci.

Pastor Tri mengajak agar peziarah makin rajin membaca Kitab Suci. “Jangan hanya membaca bagian yang disenangi saja. Pilih-pilih. Atau menafsirkan ayat Kitab Suci sesuai dengan selera pribadi. Ini menjadi tantangan bagi para pastor,” tuturnya.

Para peziarah antri memasuki santuario makam Santa Rita.

Menyusuri Bukit Sant’Elia

Para peziarah merasakan kekaguman atas keindahan mosaik dan keindahan alam ciptaan Tuhan. Gereja Katedral yang dibangun antara tahun 1151 sampai 1227 ini dibangun di atas batu-batu atau rocca.

Sekeliling kota Spoleto memang diwarnai pegunungan atau bukit-bukit yang berbatu kapur.

Bagian depan Gereja Katedral dihiasi mosaik indah Solsterno yangmenggambarkan Kristus di atas tahtanya dengan Bunda Maria dan Santo Yohanes Pengarang Injil di samping kiri dan kanannya.

Patung Santa Rita di samping altar Basilika.

Bagian dalam Katedral bergaya Baroque dan Latin Cross, berisi karya seni yang mengagumkan dan tak ternilai harganya.

Ada lukisan dinding di apse oleh Filippo Lippi pada tahun 1400-an dan kapel Uskup Eroli yang dilukis oleh Pinturicchio.

Para peziarah diajak mengelilingi bukit Sant’Elia, yang sering dikenal dengan nama “Giro della Rocca”.

Puncak bukit itu bernama Rocca Albornozian. Musim semi yang sedang berlangsung saat ini semakin menambah kesegaran udara alam pegunungan dan panorama alam yang indah.

Ponte delle Torri dengan panjang 236 meter dan tinggi 80 meter.

Suasana ini membawa hati para peziarah untuk bersyukur bersama Sang Pemazmur. “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan” (Mzm 8).

Perjalanan ziarah tersebut juga melewati Ponte delle Torri, yakni sebuah monumen batu kapur yang megah dengan panjang 230 meter dan tinggi 80 meter. Bangunan ini merupakan jembatan saluran air yang didukung oleh sepuluh lengkungan dan sembilan pilar batu yang sangat kuat, yang menyatukan bukit Sant’Elia.

Jembatan ini dibangun pada abad XIII.

Berdoa di makam Santa Rita

Jenasah Santa Rita yang masih utuh di dalam peti kaca.

Perjalanan peziarahan berlanjut ke sebuah kota, tempat disemayamkannya jenasah Santa Rita yang masih utuh sampai sekarang.

Kota Cascia namanya.

Sekitar satu jam perjalanan naik bus dari Spoleto. Sepanjang jalan kiri kanan diwarnai bukit-bukit batu dan puluhan terowongan. Juga ada bunga-bunga warna-warni yang mulai bermekaran di musim semi. Makin menambah kekaguman pada sang Pencipta alam semesta.

Untuk masuk ke Gereja Basilika Santa Rita, para peziarah harus antri. Ternyata banyak peziarah yang berdatangan dari berbagai negara. Maka benar ungkapan ini, “Grandi pellegrinaggi.  Sacerdoti e fedeli tutti i giorni. Qui è sempre festa” (Peziarahan yang luar biasa Para imam dan umat selalu setia setiap hari. Di sini selalu ada pesta).

Para peziarah berdoa secara pribadi di depan makam Santa Rita.

Ada sebuah teks doa kepada Santa Rita yang ditawarkan kepada peziarah. Bahkan setiap peziarah bisa melihat jenasah Santa Rita yang masih utuh secara langsung dari dekat.

Gereja Katedral Maria Assumpta Spoleto.

Peziarah boleh mengelilingi jenasah Santa Rita yang disemayamkan di dalam peti kaca.

Ada petugas yang berjaga di setiap titik untuk memandu kelancaran lalu lintas keluar masuk peziarah.

Pelindung orang berbeban berat

Santa Rita (1381-1457) diangkat oleh Gereja sebagai pelindung orang-orang yang mengalami masalah dan beban berat. Ia juga dikenal sebagai “Avvocata dei casi impossibili” (penghibur atau penasihat untuk masalah yang tidak mungkin).

Kisah hidupnya sangat unik dan langka. Ia pernah menikah dan mempunyai dua orang anak. Setelah suami dan kedua anaknya meninggal dunia, ia terpanggil untuk menjadi biarawati. Selama 40 tahun ia mengabdikan hidupnya sebagai biarawati.

Ia menghabiskan waktunya dalam doa kontemplasi dan bekerja untuk perdamaian di wilayah Cascia.  Ia memiliki devosi yang amat mendalam kepada Yesus tersalib. Pada suatu hari, ia mohon pada Yesus agar diijinkan ikut merasakan penderitaan-Nya.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya memancar dari mahkota duri di kepala Yesus. Cahaya itu menusuk kening Suster Rita dan menimbulkan luka yang tak pernah dapat disembuhkan.

Luka itu terus mengalami pendarahan selama lima belas tahun. Karunia ini membuat Rita sangat bahagia karena dapat menderita sebagai bukti cintanya kepada Yesus. Investigasi medis telah memastikan adanya luka tulang (osteomyelitis) di dahi, sebagai bukti dari keberadaan stigmata di dahi.

Tanpa diskriminasi

Ada yang menarik dari peziarahan kali ini. Ada peserta ziarah yang beragama Islam. Ia sedang menjalani studi dialog agama di Universitas Kepausan Angelicum dan PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica), Roma.

Selama 6 bulan ia mendapat beasiswa dari Nostra Aetate untuk studi di dua kampus tersebut. Dewi Kartika Maharani Praswida namanya.

Dewi Kartika Maharani Praswida bersama para imam, frater dan suster di bukit Sant’Elia.

“Saya sangat senang dan berterima kasih karena dapat turut serta dalam ziarah IRRIKA meskipun saya bukan rohaniwati, dan juga bukan orang Katolik. Namun melalui kegiatan ini saya semakin yakin akan keterbukaan Gereja Katolik terhadap semua orang tanpa melakukan diskriminasi agama”, tutur alumna Jurusan Geografi Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini.

Lebih lanjut diungkapkannya, umat Katolik memang benar-benar mengimplementasikan apa yang tertuang dalam dokumen Nostra Aetate, Lumen Gentium nomer 15-17, Dei Verbum no. 25, Apostolicam Actuasitatem no. 27, Dignitatis Humanae no. 2, dan Ad Gentes no. 3-44.

“Juga dalam Gaudium et Spes no. 22, 73, 76, 92 yang secara umum adalah tentang keterbukaan Gereja Katolik terhadap semua orang tanpa melakukan diskriminasi. Hal tersebut diwujudkan dengan keramahan baik romo, suster dan awam katolik yang mengijinkan saya membaur bersama menikmati ciptaan Tuhan tanpa diskriminasi agama”, urai Dewi yang sedang mengambil cuti studi magister Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata Semarang selama 6 bulan ini.

Seperti para peziarah yang lain, Dewi juga merasakan kedamaian saat berada di dalam Gereja Katedral dan Basilika Santa Rita.

“Saya menemukan sisi keindahan gereja, khususnya karya seni melalui lukisannya karena lebih banyak lukisan daripada patungnya. Kemudian tentu aura kedamaian atau peaceful selalu ada di sana. Pun ketika misa saya dengarkan khotbahnya, dan bagus bahwa kita tidak boleh pilih-pilih ayat dalam kitab Suci karena kalau pilih-pilih berarti cuma nuruti ego saja”, ujarnya.

Ibu Antonia Astuti Retno Widiati ikut melayani makan siang peserta ziarah.

Dewi juga kagum dengan Bapak Duta Besar yang sederhana dan mengayomi.

“Bapak duta itu down to earth banget, menginspirasi meski diplomat tapi beliau tetap menunjukkan kesetaraan dan mengayomi terhadap sesama manusia tanpa membedakan jabatan…hehehe…”, tambah Dewi yang sehari-hari tinggal di the Lay center, dekat Colloseum, Roma.

Foto : Y. Gunawan Pr dan Arvinanto Soeriaatmadja

Editor: Mathias Hariyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here