Lectio Divina 30.05.2020 – Jalan Mengikuti-Nya

0
196 views
Jalan Mengikuti-Nya.

Sabtu (P)     

  • Kis. 28:16-20,30-31
  • Mzm. 11:4,5,7
  • Yoh. 21:20-25

Lectio

20  Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” 21  Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”

22  Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” 23  Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

24  Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. 25  Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.  

Meditatio-Exegese

Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?

Perikop hari ini dimulai dengan pertanyaan Petrus pada Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” (Yoh. 21:20). Benar, Yesus telah menyingkapkan bagaimana Petrus mati dan memuliakan Allah; dan, dilanjutkan dengan undangan (Yoh. 21:19): Ikutlah Aku, Sequere Me.

Saat ia melihat Yohanes, anak Zebedeus dan saudara Yakobus (Mat. 4:21; Mrk. 1:19; Luk. 5:10), timbullah rasa ingin tahu Petrus tentang apa yang akan terjadi padanya. Rasa penasaran ini sebenarnya tidak perlu ditanggapi Yesus dengan cepat.   

Jawaban Yesus begitu mengejutkan. Sabda-Nya, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku” (Yoh. 21:22). Nampaknya Yesus berusaha menghentikan rasa ingin tahu Petrus.

Ia menghendaki setiap orang melakukan tugas perutusannya masing-masing. Karena setiap pribadi dianugerahi kemerdekaan untuk memutuskan bagaimana cara masing-masing mengabdi Allah. Tiap orang memiliki caranya sendiri mengikuti Yesus.

Masing-masing dari kita dianugerahi kreativitas yang berbeda. Santo Paulus mengumpamakan jemaat sebagai satu tubuh dengan masing-masing memiliki fungsi dan peran; tetap dalam pelayanan masing-masing harus dilandasi oleh kasih, αγαπην, agapen, bentuk objek dari agape.

Selanjutnya Rasul Agung itu menulis, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat … Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung … Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (1Kor. 13:1).

Yesus tetap mengundang Petrus: Ikutlah Aku. Petrus diminta untuk mengikuti-Nya sepanjang jalan kasih, Jalan Salib, Via Crucis. Melalui jalan kemartiran, Petrus memuliakan Tuhannya dan disertakan dalam kebahagiaan abadi.

Kesaksiannya itu benar

Yohanes tidak ambil bagian dalam kesaksian melalui penumpahan darah. Ia bersaksi dengan menulis Kabar Gembira tentang Yesus, Anak Allah, yang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita dari dosa, setan dan maut.

Ia bersaksi, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31).

Setiap orang dari masa Gereja Perdana hingga Gereja sekarang mengambil bagian dengan caranya masing-masing dan kreatif. Masing-masing dikokohkan oleh kasih pada Dia, yang disalibkan dan dibangkitkan.

Katekese

Petrus mengikuti, Yohanes tetap tinggal. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430 :  

Tuhan bersabda baik pada Petrus tentang kemartirannya, ataupun tentang Injil Yohanes. Terkait dengan kemartiran Petrus dan sabda-Nya ini “Ikutlah Aku”, [Ia menghendaki] engkau menderita untukKu, engkau menanggung apa yang Kutanggung. Karena Kristus disalib, Petrus juga disalib … sedangkan Yohanes tidak mengaminya.

Inilah maksud sabda-Nya, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup”. Biarkan dia tidur tanpa luka, tanpa menyiksaan, dan menunggu kedatanganKu. Engkau, Petrus, “Ikutlah Aku”, menanggung derita yang Kutanggung. Inilah salah satu cara sabdaNya itu dijelaskan …

“Terkait dengan Injil Yohanes, inilah apa yang kumaksud: bahwa Petrus menulis tentang Tuhan, orang lain juga menulis; tetapi tulisan mereka lebih memperhatikan tentang kemanusiaan Tuhan …

Benar, terdapat renungan tentang keilahian Kristus dalam surat-surat Petrus, namun dalam Injil Yohanes, keilahian-Nya disingkapkan lebih luas dan dalam. Ia seolah terbang melintasi awan dan terbang lebih tinggi mengatasi bintang gemintang, melambung ke angkasa mengasi para malaikat, dan setiap ciptaan; ia mencapai Sang Sabda yang, melalui-Nya segala yang ada diciptakan” (dikutip dari Sermon, 253.5.5

Oratio-Missio

  • Semoga daya kasihMu, Tuhan Yesus Kristus, yang hangat dan manis seperti madu, menyerap hati kami dan menjauhkan semua hal yang berasal dari kolong langit. Berilah kami rahmat secukupnya agar kami siap untuk mati demi kasihMu, seperti Engkau wafat bagi yang Engkau kasihi” (Doa Santo Fransiskus Asisi, 1182-1226, terjemahan bebas)
  • Dengan cara apa aku menjadi mengikuti-Nya?

Tu me sequere – Ioannem 21: 22

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here