Melihat Jenazah dalam Keranda,Takut Mati dan Bertobat

0
364 views
Setelah kematian by the Post

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Kamis, 7 April 2022.

Tema: Jalan Imanku.

Bacaan.

  • Kej. 17: 3-9.
  • Yoh 8: 51-59.

“ROMO, saya mau hidup benar. Saya ingin hidup lurus. Saya mohon pengampunan.”

“Hm… ada gerak batin apa sehingga ingin menerima Sakramen Rekonsiliasi?”

“Iya Romo. Saya merasa cukup berkeliaran dalam dunia. Bahkan dunia yang mungkin Romo tidak menyangka, saya sebagai seorang kristiani bisa melakukan itu.“

“Bapak sadar apa yang diinginkan?”

“Sungguh, saya sangat sadar Romo. Semua pengalaman kebebasan, keinginan untuk bebas tanpa ikatan, bahkan gerakan-gerakan yang menggoda hidup murahan, saya lakukan.

Awalnya, saya merasa puas, bebas. Saya menikmati dan tidak ada yang mengendalikan saya. Uang ada. Kesempatan terbuka.”

“Apa yang membuat sadar untuk tumbuh dalam iman lagi?”

“Saya disadarkan ketika dalam sebuah perjalanan pergi ke luar kota, saya melihat keranda dan orang mengusungnya.”

“Yang mengantarnya sedikit. Sangat sederhana. Saya berhenti di seberang. Tiba-tiba terpikir, kalau saya mati, siapa yang mengantar?”

“Loh , lha iya to, pasti keluarga. Gereja juga mendoakan.”

“Nah, justru di situ masalahnya, Romo. Saya sudah sekian lama meninggalkan keluarga. Di luaran, saya berperilaku seakan-akan belum berkeluarga. Ke gereja pun tidak.

Saya menghabiskan waktu untuk bekerja dan hidup nikmat. Memang hasil kerja saya sebagian untuk keluarga saya. Ada porsi untuk senang-senang. Bonus yang kuterima pun untuk kesenangan saya tanpa memberitahu pada keluarga. Saya cukup bebas, seenaknya.

Kebetulan, ketika saya berhenti di sebelah saya itu pemakaman umum. Sederhana, kurang terawat dan tidak teratur.

Saya melihat dari jauh. Tanpa disengaja air mata saya menetes. Saya ingat keluarga saya dan merindukannya.

Saya juga ingat semua orang-orang yang saya cintai dan kini telah meninggal, almarhum papa mama dan adik saya yang paling kecil.

Mereka meninggal setelah  kerusuhan. Sementara, saya juga bukan siapa-siapa.

Saat saya menangis. Saya lalu ingat betapa almarhum papa dan mama dulu aktif di paroki. Sangat dekat dengan kehidupan gereja. Boleh dikatakan papa mama tuh seakan-akan yang ‘memiliki’ gereja. Mama mengatur semua dan papa aktif. Mama papa dekat, akrab dan menyayangi semua romo yang pernah bertugas di paroki kami. Mereka pernah berkunjung dan makan bersama di rumah. Saya teringat itu semua.

Perkawinan saya pun diberkati oleh beberapa imam yang dekat dengan almarhum mama papa.

Keluargaku sangat bahagia. Mertuaku juga baik dan aktif dalam gereja.

Saya ingat semuanya, Mo. Bahkan tersadari bahwa apa yang kupunyai hari ini tidak lepas dari pemberian almarhum orangtua dan mertua. Seandainya pun saya tidak bekerja, kami masih dapat hidup layak.

Tuhan memanjakan saya dan keluarga. Kami dipermudah dalam segala hal. Saya sebagai pribadi sering menggampangkan hidup. Saya melakukan apa saja yang menyenangkan dan memuaskan hidup saya.

Pasangan saya pun orangnya sangat pengertian. Anak-anak percaya dengan tulus. Yang penting, apa pun yang saya kerjakan, saya bahagia dan sehat. Tidak penting berapa hasil yang saya dapat. Ada cukup warisan dari almarhum orangtua dan mertua.

Saya hidup seperti di atas angin dimanja dan dipercaya.”

“Bagaimana kesadaran akan hidup itu menegur hatimu?”

Iya. Saya terpikir, kalau hidup saya begini terus, dan saya ditemukan mati mendadak, apa yang saya alami setelah mati.

Saya membayangkan sebuah kengerian.

Saya pun tersadari, saya sudah mengotori, mengkianati ketulusan dan cinta suci keluargaku.”

Ia menangis dan menangis. Lalu menyesali diri.

Sambil terbata-bata, ia melanjutkan.

“Saya pun diingatkan, betapa Tuhan dalam derita mengalami kematian yang mengerikan. Tumbuh dalam hati saya, kalau saya kembali kepada Tuhan, betapa bahagia dan terberkati keluargaku. Tidak akan mengalami penderitaan; kedinginan senyap kubur, akhirnya terlupakan.

Saya sadar dan percaya mo. Saya ditegur oleh Roh, kembali ke jalan Tuhan. Saya ingin kembali kepada keluarga. Saya ingin belajar lagi menyayangi mereka.”

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” ay 51.

Tuhan, ajar aku mendengar dan taat pada Roh-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here