Pilih Mana: Mau Maju atau Diam di Tempat?

0
1,733 views

[media-credit id=3 align=”alignleft” width=”150″][/media-credit]DALAM  hidup bermasyarakat, kita mengenal banyak orang. Mereka datang dari  beragam latar belakang  dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentang  kelebihan tidak kita bicarakan lagi. Kelebihan menjadi positif karena berguna bagi banyak orang.  Tapi, bicara tentang kekurangan atau kelemahan, baru menarik diperbicangkan.

Dua kategori

Menurut saya, ada dua kategori kelemahan. Satunya bisa kita perbaiki, lainnya tidak bisa kita perbaiki lagi. Yang tak bisa kita perbaiki antara lain kondisi cacat fisik.Namun, tak jarang kelemahan ini juga bisa disulap menjadi kekuatan untuk yang bersangkutan. Banyak sekali teman-teman dengan kekurangan ini justru berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk menjadi lebih maju dari orang lain dan banyak sekali yang pakar di bidangnya.

Kelemahan  kedua adalah hal-hal yang masih bisa perbaiki. Misalnya orang yang sukar mengontrol emosinya; sudah biasa bicara dengan nada tinggi;  anak tidak mau belajar dengan alasan tidak bisa menghafal dan lain sebagainya. Kelemahan-kelemahan seperti ini masih bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi.

Langkah pertama memulai

Namun upaya menghilangkan atau meminimalisir kekurangan ini sangat tergantung dari motivasi yang bersangkutan: mau atau tidak. Tentu saja, dukungan lingkungan juga penting untuk memacu motivasi. Anak akan menjadi seperti apa, itu sangat tergantung pada didikan orang tuanya.

Seandainya orangtua selalu memanjakannya dan selalu menuruti keinginan anak, maka sudah pastilah anak itu tak bisa “dikendalikan” di kemudian hari. Contoh lain adalah seorang yang tidak percaya diri untuk presentasi atau berbicara di depan orang banyak. Tapi berkat dukungan teman-temannya akhirnya dia bisa berani berbicara di depan publik. Selalu ada langkah pertama untuk memulainya.

Pengalaman Vujicic

Nick Vujicic adalah salah satu contoh nyata seorang yang tidak menyerah dengan kondisinya dan beroleh dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Nick Vujicic adalah pria Serbia kelahiran Australia yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Ia mempunyai banyak alasan untuk mengatakan bahwa dengan kondisi seperti ini tidak ada yang dapat dia lakukan. Tetapi, berkat  dukungan orangtuanya ia mau belajar dan tidak menyerah dengan kondisinya dan akhirnya dia menjadi jago bermain golf, berselancar, berenang. Bahkan sekarang  Nick Vujicic adalah motivator, pembicara internasional yang gemilang.

[media-credit name=”Google” align=”alignright” width=”300″][/media-credit]Ia sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat benua (termasuk Indonesia ), untuk memotivasi lebih dari dua juta orang, khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun televisi  internasional seperti ABC seperti terjadi pada  28 Maret 2008.

Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi bertitel Life’s Greater Purpose, No Arms, No Legs, No Worries, serta film The Butterfly Circus.

Jangan menyerah

Tak usah  menyerah kalah atas kelemahan-kelemahanmu. Bangkitlah dan berusahalah untuk menjadikannya pemacu untuk dapat maju dan berkembang.

Ini pula yang diajarkan Yesus dalam  Matius 25:14-30 tentang perumpamaan tiga orang pelayan yang ditinggal pergi oleh tuannya dan kepada mereka diberikan masing-masing 5.000 uang emas, 2.000 uang emas dan 1.000 uang emas.

Tuhan telah memberikan menurut kesanggupan kita masing-masing dan yang sering menjadi masalah apakah kita mau menggunakannya atau hanya memikirkan kelemahan itu saja. Hamba yang mendapat 5.000 uang emas berdagang dan mendapatkan hasil 5.000 juga. Hamba yang mendapat 2.000 uang emas  juga mendapat untung 2.000 lagi. Namun, hamba yang menerima 1.000 tidak mau mengembangkannya dan akhirnya dia tidak beroleh apa pun.

Tuhan akan memperlengkapi kita dengan segala hal yang kita perlukan apabila kita mau berkembang dan berusaha untuk berkembang. Dalam Injil, Santo Matius 25:29 mengatakan, “Karena orang yang sudah mempunyai, akan diberi lebih banyak lagi, dan ia akan berkelebihan. Tetapi orang yang tidak punya, sedikit yang masih ada padanya akan diambil juga.

Masalahnya: Anda mau maju atau pilih diam di tempat tak mau bergerak?

Yunita Yohana, umat Paroki St. Kristophorus, Grogol, Jakarta Barat