Yesus dan Aku

0
124 views
Ilustrasi (Ist)

PAGI ini aku mengepel lantai kapel, bersih-bersih rutin sebelum kapel dibuka. Ketika sampai di bagian altar, tiba-tiba ada suara mengingatkan di benakku.

Bagaimana aku harus tetap melayani dia, seberapa lelah, atau bermasalahnya hidupku. Melayani tanpa menanti hingga masalah beres, atau menanti hidupku menjadi baik-baik saja. Karena kenyataannya hidup memang tak pernah baik-baik saja.

Kemudian mataku memandang salib yang tergantung di altar, kembali mengingat Yesus dan kehidupannya. Tidak ada cerita hidupnya yang tidak mengalami pergolakan. “Mengapa aku harus menunggu dan menunda-nunda dalam melayani Dia?”.

***

Pertanyaan ini mengusik batin.

Bukankah Yesus adalah role model kehidupan. Sepanjang hidup Yesus hingga mati dikayu salib, dialah role model manusia, yang diciptakan Allah sama denganku.

Yesus tak pernah mengeluh, sekalipun dalam takut dan galaunya berpeluh seperti darah saat berdoa di Taman Gestsemani. Dia mengalami pergumulan yang sama dengan aku manusia. Dia juga mengalami apa itu yang namanya keragu-raguan apakah Allah sungguh menyertaiNya atau tidak? (Luk.22 : 39-46).

Kemudian aku kembali merenungkannya. Tentang hidup dan pelayanan.

Aku bertanya pada diri sendiri apakah aku sering menunggu, sering menunda segala pelayanan, hanya karena merasa bahwa diriku masih banyak kekurangan?, Karena aku sendiri memiliki banyak pergumulan?

Sampai kapankah aku akan menunda pelayanan kepada Allah ini? Sedangkan waktu terus berputar, tiba-tiba aku sudah harus dihadapkan pada masa senja.

Saat itu tiba aku berubah menjadi pelupa, juga mungkin kaki, tangan, badan sudah tak mampu lagi digerakkan, tak mampu lagi berkarya, tak mampu lagi melayani dengan sebebas-bebasnya bagi kerajaan Surga.

Seperti Yesus, Dia tidak pernah menunda untuk selalu melayani BapaNya. Dia menghilang ke Bait Allah, karena mengerti, disanalah Dia harus ada (Luk. 2:41-52). Dia mentaati bisikan Maria, ibundanya untuk menolong tuan rumah yang kekurangan Anggur (Yoh. 2:1-11).

Dia tergerak hatiNya saat orang-orang datang padanya untuk memohon pertolongan dan kesembuhan (Mat. 8:1-4, Mat.8:5-13, Mat. 8:14-17,Mrk.3:1-6,Mrk.3:7-12).

Dia tergerak hatiNya untuk memberi makan 5000 orang (Luk.9:10-17).

Bahkan saat ditangkap Dia tergerak untuk menghentikan pertikaian antara murud-muriudNya dengan serdadu yang menangkapnya (Luk. 22 : 49-51).

Di akhir hembusan nafas-Nya di kayu Salib, Dia masih memberkati penjahat itu, dan berdoa untuk pengampunan bagi semua orang berdosa. T

erus bekerja dalam kesakitan, berdoa dan Mengampuni (Luk. 23 : 33-43).

***

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah aku terus melayani Allah, didalam keterbatasan, didalam pergumulan hidup, didalam sakit dan hingga (nanti pada) sakratul maut seperti Yesus?

Kembali aku mengingat, Yesuslah role modelku. Jika aku mau kembali kerumah batin. Jika aku mau kembali ke Kitab Suci, aku akan menemukan lebih banyak lagi karya Yesus, tanpa banyak menunggu, tanpa banyak berargumen kepada Bapa ketika mengemban tugas perutusan.

Hanya melakukan. Hanya melayani. Inilah aku pagi ini Bapa, menyapu dan mengepel lantai kapel bagi-Mu.

Menulis semua renungan pagi ini bagiMu.

Jika semua memori tentang karya Yesus telah tertulis di Kitab suci, maka ukirlah memori kita di dalam ingatan kita sendiri, di sepanjang hidup kita, dengan pelayanan tak ada hentinya seperti Yesus.

Kelak ketika kita tak mampu lagi bergerak, memori itu adalah penguat kita untuk semakin mendekat kepadaNYa melalui masa-masa tua kita dalam kesendirian, seperti Yesus di atas kayu salib yang diliputi kegelapan selama tiga jam.

Dalam kesendirian mengucapkan “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku ?” (Mat. 27 : 46).

Lalu berkata “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30).  

Ada kekuatan tersembunyi di dalam kata-kata itu. Kekuatan pejuang dalam pelayanan yang tiada akhir.

Malang, Jumat 23 Oktober 2020

Eustakia Esti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here