Artikel Politik: Lelaki Tua dan Seekor Anjing

0
263 views
Ilustrasi -- bangunan altar gereja di Jenewa, Swiss (Ist)

HARI masih pagi. Geneva, Minggu pagi itu, seakan masih tergolek di tempat tidur, malas bangun. Meski Matahari sudah bersinar. Satu dua mobil melintas di jalan.

Kususuri Pont de la Rue Voltaire, sekeluar dari hotel dan berjalan mengarah ke gereja seperti ditunjukkan di peta.

Ilustrasi seorang pastor bersama anjingnya by Alex Colville (ist)

Menurut keterangan di Google Map, jarak antara hotel sampai ke gereja bisa ditempuh dalam waktu 15 menit dengan jalan kaki. Tentu, jalan kaki agak cepat, bukan “alon-alon waton kelakon.”

Setelah berjalan 15 menit, di sebuah lampu merah, saya bertanya kepada seorang perempuan yang kebetulan sama-sama akan menyeberang jalan. “Anda tahu, di mana ada gereja Katolik di sekitar sini? Menurut peta, ada di daerah ini.”

Dengan cepat perempuan itu menjawab, “Tidak ada gereja di sekitar sini. Saya tinggal di daerah sini.”

Setelah itu, lima perempuan, di tempat yang berbeda kutanya hal yang sama. Hanya perempuan ketiga–perempuan sepuh yang tengah lari pagi–dan perempuan kelima—berwajah Asia–yang memberikan jawaban melegakan.

“Itu gereja yang kamu cari,” kata perempuan ketiga sambil menunjuk bangunan gereja. Meski sampai seperempat jam kemudian, pintu gereja tak dibuka.

“Oh, gereja Katolik. Ada di dekat stasiun kereta,” kata perempuan kelima menunjuk sebuah tempat yang jauh letaknya.

Inikah Eropa, seperti cerita banyak orang, di mana agama mulai disisihkan? Ah, rasanya terlalu gegabah membuat kesimpulan seperti itu. “Jangan mudah menghakimi orang lain.” Begitu petuah orangtua yang saya ingat betul.

Meskipun, kini sedang tren, orang sangat mudah menghakimi orang lain (walau bukan hakim); mudah menuding orang lain salah (meski belum tentu dirinya sendiri benar). Tetapi, sejarah Eropa mengisahkan negara-negara di Benua Biru itu pernah menyisihkan agama.

Keputusan Eropa untuk benar-benar menepikan agama dari ruang publik, dilatarbelakangi oleh pengalaman traumatis mereka di masa lalu. Mereka mengalami dan merasakan akibat perselingkuhan antara negara dan agama telah melahirkan sebuah kekuasaan yang lalim.

Sungguh tak terduga bahwa reaksi terhadap kekuasaan yang lalim itu telah memunculkan gerakan yan disebut sekularisme, yang dapat dikatakan ganas.

Misalnya yang terjadi di Perancis. Di negeri itu pecah revolusi, yang berakhir dengan tumbangnya Raja Louis XVI, 1789.

Revolusi pecah karena rakyat melakukan gerakan untuk menentang absolutisme kekuasaan raja, bangsawan, dan agamawan. Rakyat menginginkan Perancis berubah menjadi negara yang demokratis dan menjunjung kesetaraan.

Dominasi, penekanan, dan pemaksaan dari monarki, feodalisme, aristokrasi, dan Gereja Katolik diruntuhkan dan digantikan oleh prinsip-prinsip “liberté, égalité”, dan “fraternité”, kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Rakyat Perancis, pada waktu itu, pada dasarnya tidak mau mengalami kehidupan sebelum revolusi yakni ketika agama menguasai kehidupan publik. Agama juga dipandang sebagai bagian dari kelompok penekan.

Menurut mereka, agama apa pun agamanya, adalah urusan privat, bukan publik.

Agama tidak bisa mencampuri urusan publik. Artinya, tiada keterlibatan agama dalam masalah pemerintahan, juga tiada keterlibatan pemerintah dalam urusan agama. Inilah prinsip “laïcité”, sekularitas; prinsip sekularisasi, pemisahan antara urusan negara (politik) dan urusan agama, atau pemisahan antara urusan duniawi dan akhirat.

Dari sinilah, karena itu, ada yang menyamakan sekularisme dengan sesuatu yang jahat, materialistis, bahkan serakah. Secara etimologis terma sekularisasi berasal dari kata Latin “saeculum”  yang artinya zaman.

Kata ini memiliki asal-usul historis dalam tradisi Gereja Katolik Roma. Dalam tradisi Gereja abad pertengahan, sekularisasi berarti proses seorang rahib meninggalkan biara dan kembali ke tengah masyarakat (F. Budi Hardiman, “Post-Sekularisme”, Kompas, 7 Juni 2016, hlm. 6).

Karena itu sekularisasi juga berarti “proses penduniaan”. Dalam perjalanannya, sejak Perjanjian Westphila (1648) yang menandai berakhirnya perang selama 30 tahun antara kelompok Protestan dan Katolik Roma yang manghancurkan hampir seluruh Eropa, sekularisasi adalah menunjuk pada proses pengambilalihan harta kekayaan dan institusi-institusi milik Gereja yang kalah perang oleh negara dan penggunaannya untuk kepentingan publik.

Dari sinilah kemudian, kaum agamawan, pada waktu itu, memandang sekularisme ibarat lonceng kematian bagi agama-agama. Oleh karena, sekularisme berusaha untuk meniadakan segala pengaruh Gereja atas kehidupan masyarakat.

Dalam bahasa Max Weber (1864-1920) seorang sosiolog dari Jerman, hasil akhir dari sekularisme ini adalah, “hilangnya pesona dunia”. Tetapi, filsuf-penyair juga asal Jerman, Friedrich Nietzsche, meramalkan melalui tokohnya Zarathustra bahwa—setidaknya untuk Dunia Barat—Tuhan telah mati.

Dalam perkembangan selanjutnya, sekularisasi lalu berkaitan dengan cara berpikir dan pandangan hidup. Sekularisasi mengungkapkan proses raibnya pandangan dan sistem religius yang eskatologis dan diganti dengan pandangan rasional yang berorientasi pada kekinian, penguasaan alam, penataan sejarah dan otonomi individu.

Yang menarik adalah bahwa dalam konteks tertentu, makna sekularisme di Eropa berbeda dengan di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, sekularisme didefinisikan sebagai “kebebasan beragama” (“freedom of religion”), sedangkan di Eropa istilah itu cenderung didefinisikan sebagai “kebebasan dari agama” (“freedom from religion”).

Ah, mana yang benar.

Yang saya cari pagi itu gereja, bukan soal definisi sekularisme, sekularisasi, dan sekular. Dan, pertanyaan di mana ada gereja Katolik, saya ajukan kepada seorang lelaki tua di sebuah taman yang sedang mengajak jalan-jalan anjingnya.

Dengan tertawa, lelaki yang belakangan mengaku bernama Rocco itu, menunjukkan jalan yang mengarah ke gereja.

Tetapi, akhirnya Rocco, tidak hanya menunjukkan jalan ke arah gereja. “Mari saya antar, biar kamu tidak salah jalan. Karena, kalau lewat jalan ini, meskipun lebih singkat tetapi berbelok-belok, kamu bisa bingung,” katanya sambil menarik tali yang mengikat leher anjingnya untuk berjalan.

Sepuluh menit kemudian, kami sampai di depan sebuah bangunan gereja. “Itu gerejanya. Masuklah,” kata Rocco. Benar, ketika saya masuk dengan pelan-pelan mendorong pintu kayu yang sangat tebal, saya lihat gereja itu penuh umat yang sedang beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here