Bruderan MTB Yogyakarta: Bukber Sembari Diskusi Tesis bersama Dosen Pembimbing

0
544 views
Para mahasiswa program studi Magister Ilmu Kajian Budaya USD Yogyakarta angkatan 2016 (Ist)

HARI Jumat, 31 Mei 2019, para mahasiswa program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (IRB-USD) mengadakan acara buka puasa bersama di Novisiat Bruderan MTB di Jl. Kyai Legi, Banguntapan, Bantul, Yoyakarta.

Acara buka puasa bersama (Bukber) ini merupakan kegiatan kedua kalinya di tempat yang berbeda. Pada tahun sebelumnya, acara itu digelar di Bruderan Alverna, Kotabaru, Yogyakarta.

Acara ini merupakan gagasan dari mahasiswa IRB angkatan 2016 dengan dosen pengampu mata kuliah seminar penulisan tesis yakni Dr. Y. Devi Adhiani dan Dr. Katrin Bandel.

Berbagi menulis tesis

Sebelum bukber, masing-masing mahasiswa mempresentasikan progress menulis tesis sejak mullai pukul 14.00 hingga pukul 22.00 WIB. Mahasiswa IRB angkatan 2016, dengan segala kemampuan dan keunggulannya, membuka diri di hadapan dua dosen dan teman seangkatannya.

Mereka bebas bicara dengan langsung memberi masukan baik dari segi  topik, latar belakang, rumusan hingga sampai pada temuan-temuan baru di lapangan melalui penelitian yang bisa dipertangungjawabkan secara ilmiah dan proporsional.

Menulis tesis memang tidak mudah dan terkadang banyak hambatan. Selain problem yang diangkat sesuai dengan gaya kajian budaya, juga waktu menuntut berfokus pada tulisan. Belum lagi ada yang sambil mengais rezeki di tengah perkuliahan di IRB.

Bu Devi dan Bu Katrin selaku dosen pembimbing menanggapi hipotesa hasil penelitian para mahasiswa IRB-USD. (Ist)

Pengalaman ini hampir dialami sebagian mahasiswa yang rata-rata berkerja sampingan setelah pulang kuliah. Dengan berbagi pengalaman tersebut, setidaknya saling memberi support satu sama lain dalam menulis tesis.

Fenomenologi khasanah kajian budaya

Mahasiswa IRB angkatan 201 datang dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing telah melakukan penelitian fenomena sosial yang dianggap “menggelisahkan” di daerahnya asalnya masing-masing.

“Saya tertarik penelitian bagaimana Jogja Scrummy dengan identitas busana adat Jogya dan Solo telah hadir secara visual di Yogyakarta, tanpa melihat secara kritis pesona budaya yang sebenarnya,” ungkap Hugo yang sebentar lagi akan maju sidang tesis.

Menurut mahasiswa kelahiran Yogyakarta ini, politik kuliner dengan posisi peringkat satu dalam ekonomi kreatif di Pemerintahan Kota Yogyakarta itu seakan-akan sah-sah saja dengan kehadiran Jogya Scrummy (JS).

Menurutnya, hal itu sangat tidak masuk akal apalagi dengan iklan-iklan yang bersentuhan pakaian adat yang kelewatan batas.

Hugo mengkritisi sekaligus ingin memberi kontribusi ide kepada pemerintah agar kehadiran pelbagai kuliner di Yogyakarta itu jangan sampai tergoda oleh iklan yang divisualkan oleh artis, tetapi tanpa melihat kebijakan kearifan lokal sebagai brand menu khas Yogyakarta.

Sebab, kata dia, ketika pemimpin lokal telah “bercumbu” dengan kapitalis, maka yang lain itu akan menjadi ‘liyan’ alias the other.

Maka budaya tandingan itu muncul dengan brand kuliner baru.

Pencinta kuliner ini mengajak siapa saja untuk melawan relasi kuasa yang tidak memihak kelompok bawah di Yogyakarta. Permainan pertentangan kelas model refleksi Karl Marx ini sampai sekarang tidak akan bisa dibendung lagi, jika tidak ada perjuangan untuk melawanya.

KDRT

Lalu ada Monika yang menyuarakan soal kepedihan hati seorang wanita yang mengalami pengalaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Flores Timur, NTT.

Monik,  demikian nama sapaanya, melihat selama ini kekekerasan rumah tangga di Indonesia selalu menyasar kaum perempuan sebagai korban. Ketika kita hanya melihat satu aspek dalam bias jender, maka kita tidak mampu membuka mata dan hati untuk melihat bagaimana sebenarnya “kontruksi masyarakat” dalam berbagai kasus KDRT di Indonesia.

Hal ini seolah-olah kita  ikut mengebirikan maskulinitas atas nama identitas kelakian sejati, demikian katanya.

Mahasiswa alumnus Fakultas Sastra Indonesia USD ini mengangkat hasil temuannya di lapangan. Ia juga ingin mengetahui jalan keluarnya sekaligus ingin memahami pengalaman hidup kaum lelaki di Lamaholot, Flores Timur.

Monik gelisah,  angan-jangan kita terjebak pada korban feminisitas dan jarang mau melihat dari maskulinitas. “Sebenarnya laki-laki itu ingin didengarkan dunia pergumulan hatinya hingga mereka suka marah kepada kaum perempuan dan kemudian memukulnya,” kata Monik.

Semuanya itu atas dasar prinsip jender bahwa kaum Adam mau memperlihatkan identitas kelelakiannya di hadapan kaum Hawa, demikian Monik penuh semangat. Hipotesa ini masih bersifat paradoksal dengan melihat aspek lainya yakni kondisi sosial, ekonomi, dan politik identitas.

Topik yang mencair

Ibu Devi dan Ibu Katrin selaku penanggap presentasi penulisan tesis menegaskan, yang mengetahui permasalahan di lapangan itu adalah para mahasiswa sendiri. Oleh karena  itu, teori-teori maupun konsep selama kuliah di IRB jangan sampai terjebak oleh temuan-temuan dalam penelitian sebelumnya.

Maka harus ada kebaruan dalam temuan tersebut agar bisa menjadi warna tersendiri pluas gaya penulisan kajian budaya di IRB USD Yogyakarta.

Tetap setia diskusi hingga jelang larut malam.

Para dosen IRB itu sangat menghargai para mahasiswa ketika berproses menulis tesis dengan karateristik tulisannya. Disadari juga bahwa mahasiswa yang kuliah di program ini mempunyai latar belakang keahlian, minat dan keterlibatannya beranekaragam di lapangan.

Maka konsep tulisannya begitu cair dan itu sesuai latar belakang pendidikan sarjana S1 masing-masing. Mengingat bukan jalur linear dari antropologi, maka di sini mereka lalu bisa diperkaya dengan interdisipliner ilmu lain sehingga menjadi lebih luas pemahamannya  dengan saling memberi kekhasannya masing-masing.

Program magister IRB ini sudah menghasilkan alumni yang sangat kental dengan budaya dan humanismenya di masyarakat Indonesia.

Paparan hipotesa dari para mahasiswa untuk didiskusikan bersama.

Lembaga pendidikan tinggi milik Ordo Yesuit ini sangat berpengaruh dengan gaya Ignasiannya, melakukan cipratan spiritualitas heroiknya kepada mahasiswa. USD, karena kualitasnya, telah masuk jajaran di urutan atas di antara lembaga-lembaga pendidikan tinggi dari seluruh universitas swasta Katolik di Indonesia

Bersaudara dengan bukber

Pada pukul 17.30 saat terdengar bunyi Azan, semua mahasiswa menunduk kepala untuk menghormati teman-teman Muslim yang berbuka puasa bersama.

Mas Hary membukanya dengan doa menurut tata cara Islam. Setelah doa dengan penuh akrab, lalu acara menikmati sajian ala kadarnya yang disediakan oleh dosen dan Komunitas Bruderan Novisiat Yogyakarta. Sudah tersedia ruang khusus untuk sholat, sehingga mahasiswa dan dosen Muslim tetap menjaga kebeningan hati dalam menjalani puasa di Bulan Ramadhan.

Berbuka puasa bersama dan kemudian berlanjut dengan diskusi.

Setelah itu, para mahasiswa lalu melanjutkan presentasi hingga sampai pukul 22.00 WIB. Topik selanjutnya lebih pada beberapa pokok diskusi tentang:

  • Permasalah etnisitas;
  • Kritikan kurikulum sentral dalam pelajaran sejarah SMA;
  • Narasi kesatuan identitas nasional;;
  • Suku Punan di Kaltim yang lokasi permukimannya dikepung oleh perusahan kelapa sawit;
  • Membongkar soal kelahiran berdasarkan teks Jawa;
  • Pengalaman pindah keyakinan religius di Kota Yogyakarta;
  • Resintensi seorang dalang dalam model pewayangan Tegal atas dominasi budaya Keraton Yogyakarta dan Solo, dan lain sebagainya.

Semoga semua topik yang dibahas ini menjadi kontribusi kepada masyarakat dan lembaga IRB untuk menyuarakan suara masyarakat bawah yang selama 32 tahun telah tertindas oleh budaya otoritas pemimpin Indonesia

Pertanyaannya, apakah di era sekarang ini masih berani melawan ketidakadilan? Setidaknya, hal itu dijawab dalam bentuk tesis sekaligus sebagai salah satu persyaratan untuk lulus dari IRB.

“Selamat dan proficiat para mahasiwa IRB angkatan 2016 agar tetap bertekun dan setia dalam menulis tesisnya,” demikian komentar Ibu Devi yang mengakhiri kuliah emester ini disertai sambutan tepuk tangan meriah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here