Di Balik “Uskup Tanpa Imam Diosesan seperti Macan Ompong” (1)

0
494 views
Mgr. Rubiyatmoko menyerahkan buku kepada para Ketua UNIO KAS. (Ist)

BERSAMAAN dengan ulang tahun ke-64 (tumbuk ageng) UNIO Imam Diosesan (Praja) Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko,  merils buku Uskup Tanpa Imam Diosesan Seperti Macan Ompong (Kanisius, 2019) di Gereja Katedral Semarang,  tanggal 10 Juli 2019.

Saat merilis buku anyar ini, Bapak Uskup mengungkapkan, “Buku ini sangat istimewa karena ditulis oleh Rama Gunawan di sela-sela studinya di Roma. Sangat istimewa sekali dengan segala macam ketekunannya”.

Kekuatan KAS

Lebih lanjut diuraikan, “Judulnya Uskup Tanpa Imam Diosesan Seperti Macan Ompong. Inilah kekuatan seorang uskup, ketika memiliki imam-imam yang banyak sekali. Maka Keuskupan Agung Semarang dari waktu ke waktu sungguh-sungguh seperti macan yang mempunyai gigi taring yang kuat karena semakin banyak imamnya.”

“Apalagi nanti adik-adik kita dari misdinar ini banyak yang menjadi imam akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Maka kami undang nanti menjadi imam yaa…,” ajak Bapak Uskup.

Lalu Mgr. Rubiyatmoko menyerahkan buku tersebut kepada para imam yang pernah menjadi Ketua UNIO KAS dari masa ke masa, di antaranya Mgr. Blasius Pujaraharja, Rama Ant. Wahadi Pr, Rama FX Sukendar Pr, Rama Ant. Budi Wihandono Pr, dan Rama P. Noegroho Agoeng Pr.

Selain itu, para imam diosesan KAS juga menerima buku itu.

Menulis sebagai hiburan

Saya secara pribadi sangat bersyukur kepada Tuhan yang Berbelaskasih atas terbitnya buku tersebut. Menulis adalah hobi saya sejak dulu. Apakah ini juga talenta dari Tuhan?

Saya meyakini, iya.

Tuhan menunjukkan talenta ini kepada saya lewat para formator saya di Seminari Menengah Mertoyudan kala itu. Salah satunya Bapak Vincentius Sunaryo, guru (bagiku beliau adalah profesor) bahasa Indonesia, yang melatih saya menulis, menyusun, dan menganalisa kalimat  dari pekan ke pekan selama tiga tahun.

Buku “Uskup tanpa Imam Diosesan seperti Macan Ompong” (Ist)

SPOK

Kala itu sampai saya “mukok-mukok” mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, yang hanya diajari S-P-O-K (Subjek, Predikat, Obkek, Keterangan) dan hukum DM (Diterangkan Menerangkan) dan MD (Menerangkan Diterangkan).

Pak Naryo, begitu kami memanggilnya, mengajari saya gramatika dengan cara sederhana,  namun begitu luar biasa. Dahulu beliau juga biasa menulis di koran Kompas. Beliau bukan hanya seorang guru, tetapi juga penulis. Beliau meminta kami untuk membaca koran dan Kitab Suci, menganalisa dan meneliti struktur kalimat-kalimat pada koran dan Kitab Suci itu.

Awalnya terasa melelahkan, membosankan, dan bikin mangkel, karena sering salah saat dikoreksi beliau. Tetapi buahnya baru saya rasakan kemudian. Dengan menguasai jurus-jurus dasar Bahasa Indonesia, saya bisa dengan mudah menulis saat ini.

Bahkan, menulis menjadi hiburan saya tersendiri. Dengan menulis, saya bisa refreshing. Bahkan masa-masa liburan bisa saya gunakan untuk mengembangkan hobi ini.

Itulah salah satu refreshing saya selama studi di Roma. Saat liburan Natal 2018 dan liburan akhir semester (musim dingin) Februari 2019, saya bisa menyusun buku tersebut. Tentu saja pergi jalan-jalan ke luar kota Roma, tetap tidak dilupakan…hehehe…

Puji Tuhan, pada medio Maret 2019 naskah buku tersebut sudah bisa dikirim ke Penerbit PT. Kanisius.

Bisa diterbitkan pada Juli 2019, bahkan dirilis oleh Bapa Uskup saat Ulang Tahun ke-64 Unio Keuskupan Agung Semarang di Gereja Katedral Semarang.

Kiranya tidaklah berlebihan, jika buku Uskup Tanpa Imam Diosesan Seperti Macan Ompong ini saya persembahkan sebagai ungkapan syukur atas anugerah panggilan imamat dan persaudaraan imami yang boleh saya alami dalam UNIO paguyuban persaudaraan imam diosesan selama ini.

Selain itu, buku ini saya persembahkan untuk Gereja Indonesia pada umumnya, dan Gereja Keuskupan Agung Semarang secara khusus.

Saya menyadari bahwa buku-buku yang membahas imam diosesan masih terbatas. Ini menjadi kesulitan sekaligus tantangan tersendiri bagi saya. Saya kemudian tertantang memberanikan diri untuk menulis tentang imam diosesan ini.

 Mengapa? Salah satunya karena terinspirasi dari sebuah ungkapan bijak,

“Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tetapi menulislah maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu”.

 Dan, betul, saya mengalami kebenaran pernyataan tersebut selama menulis buku setebal 288 halaman tersebut.

Imam Praja KAS Melangkah

Judul buku tersebut terinspirasi dari salah satu pernyataan dari alm. Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono yang sangat terkenal.

Dalam penelusuran dan pelacakan berbagai sumber tertulis yang ada, pernyataan itu ditemukan dalam sebuah kumpulan dokumen atau arsip Sekretariat Keuskupan Agung Semarang pada tahun 1980 yang berjudul “Imam Praja Keuskupan Agung Semarang Melangkah”.

Dalam dokumen itu, ada lima arsip yang penting, yaitu:

  1. Surat Kardinal Darmojuwono kepada para Imam Praja di Keuskupan Agung Semarang tertanggal 3 April 1980;
  2. Surat Kardinal Darmojuwono kepada Para Bapak Uskup seluruh Indonesia, Para Provinsial Tarekat Imam seluruh Indonesia, dan Ketua UNIO tertanggal 8 Agustus 1979;
  3. Tulisan Kardinal Darmojuwono untuk para Pengasuh Seminari Menengah Mertoyudan tertanggal 1 Juni 1979;
  4. Surat Tanggapan kepada Dr. J. Van Paassen MSC (Rektor Sekolah Tinggi Seminari Pineleng) tertanggal 28 Maret 1980;
  5. Tulisan Bagian III dari Surat Edaran Kongregasi Pendidikan Katolik tentang pentingnya Tahun Rohani (a period of preparation for the seminary) tertanggal 6 Januari 1980.

Secara khusus pernyataan Kardinal Darmojuwono “Uskup Tanpa Imam Diosesan Seperti Macan Ompong” tersebut terdapat dalam Surat Kardinal Darmojuwono kepada Para Bapak Uskup seluruh Indonesia, Para Provinsial Tarekat Imam seluruh Indonesia, dan Ketua UNIO tertanggal 8 Agustus 1979.

Dalam Surat itu Kardinal Darmojuwono membagikan sharing dan refleksinya saat rapat para Uskup se-Jawa di Bandung 11-13 Juli 1979.

Imam diosesan itu penting

Kardinal Darmojuwono menegaskan pentingnya kehadiran para imam diosesan dalam reksa pastoral di tengah umat, terlebih dalam inkulturasi yang wajar. Para Bapak Uskup dan Pemimpin Tarekat (Provinsial) mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan imam diosesan di setiap keuskupan, agar Gereja Lokal atau Keuskupan semakin mandiri.

Diungkapkan Kardinal Darmojuwono dalam surat itu demikian.

“Mengapa Imam-imam Praja disebut? Sebab jumlah cukup Imam-imam Praja di seluruh Indonesia, di setiap Keuskupan justru sangat menolong Gereja dalam inkulturasi yang wajar. Kita bersama-sama bertanggungjawab pula dalam hal ini. Peranan Imam Praja akan menjadi penting dalam pemerataan kita pula.”

Melihat situasi yang memprihatinkan kala itu, maka Kardinal Darmojuwono mengajak para Uskup dan para Provinsial untuk ikut memikirkan dan mengembangkan imam Diosesan (Praja) di keuskupan masing-masing. Jika jumlah imam diosesan makin banyak, Uskup akan sangat terbantu dan KWI juga akan terpenuhi kebutuhan tenaga imamnya.

Dari situlah lalu muncul ungkapan “Ordinarius Loci tanpa Imam Loci peribahasa “macan ompong” (harimau tanpa gigi)”.

Dalam surat itu, Kardinal Darmojuwono menerangkan secara panjang lebar,

“Uskup residental istilah bahasa Latin Ordinarius Loci. Apakah ia seorang imam praja atau seorang religius, itu bukan soal. Jika ia seorang religius, sebagai Ordinarius Loci ia sedikit banyak diberi tempat khusus di dalam Tarekatnya. Ini kita semua tahu. Pembesar Tarekat diberi nama Superior Provincialis/Generalis. Kedua istilah tersebut ada artinya, memberi arah,” tulis Kardinal.

“Ada Superior Provincialis/Generalis, ada imam provincialis/generalis: yaitu imam religius. Ada Ordinarius Loci – ada Imam Loci, Imam Praja. Ordinarius Loci tanpa Imam Loci peribahasa ‘macan ompong’ (harimau tanpa gigi)”.

Secara populer ungkapan itu menjadi “Uskup Tanpa Imam Diosesan seperti Macan Ompong”.

Ungkapan Kardinal Darmojuwono ini dalam perkembangannya menjadi kesadaran bersama.

Bahkan hal ini menjadi refren dan terus menggema di tengah umat, di seminari-seminari, dan di kalangan para uskup dan para imam di berbagai Keuskupan sampai saat ini. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here