In Memoriam Romo Ignatius Sardjono Djonowasono Pr: Semula Ingin Jadi Guru, Akhirnya Jadi Guru untuk Para Frater

0
714 views
RIP Romo Djonowasono Pr. (Bernio)

DALAM status Facebook tertanggal 2 Juni 2019, Vikep Semarang saat ini, Romo Antonius Budi Wihandono Pr, mengabarkan berita duka atas berpulangnya Romo Ignatius Djonowasono Pr.

Status Facebook itu sudah dibagikan sebanyak 18 kali dan dikomentari 370 orang sampai tulisan ini dibuat.

“Telah dipanggil menghadap Tuhan hari Minggu, 2 Juni 2019 pkl. 12.45, Romo Ignatius Djonowasono dalam usia 75 tahun. Almarhum pernah menjadi  Romo Vikep Surakarta, Pastor Paroki Purbowardayan, Paroki Dirjodipuran, Paroki Babarsari, Wakil Rektor Seminari Tahun Rohani Sanjaya, Staf Seminari Mertoyudan, Staf Seminari Tinggi Pematang Siantar, dll.. Sugeng tindak sowan ngarsa Dalem Gusti. Matur nuwun sampun dados tepa tuladha kasetyan gesang imamat,” begitu tulis Romo Budi Wihandono yang juga sebelumnya menjadi pernah menjadi Romo Vikep Surakarta (2012-2018) untuk kala itu menggantikan alm. Romo Djonowasono.

RIP Romo Djonowasono Pr.

Sebelumnya, info lelayu ini sudah disampaikan secara singkat oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko di WhatsApp grup Guyub UNIO KAS : “RIP. Para Romo, mohon doa bagi kebahagiaan abadi Romo Djono yang telah menghadap Bapa di surga pada hari Minggu, 2 Juni 2019, di Rumah Sakit Panti Rapih pada pukul 12.45. Berita selanjutnya menyusul.”

Dalam pesan singkat via WA itu, Bapa Uskup Agung Semarang juga mengajak agar dalam Misa Requiem semua romo berkonselebrasi. “Kita akan bersama mengantar Romo Djono dengan berkat dan doa bersama.”pungkas Mgr. Rubi.

Sehari sebelumnya, pada tanggal 1 Juni 2019, Mgr. Rubiyatmoko menginfokan di WA Group UNIO KAS bahwa Romo Djono masuk ruang ICU. “Para Romo, mohon doa buat Romo Djonowasono yang dirawat di ICU. Semoga dikuatkan Tuhan. Nuwun dan Berkah Dalem.

Ingin menjadi guru

Secara manusiawi ada rasa duka dan perasaan kehilangan, saat saya mendengar kabar berpulangnya Romo Ignatius Djonowasono Pr tersebut. Saya mendengar kabar duka ini seusai misa hari Minggu Hari Raya Kenaikan Tuhan, 2 Juni 2019.

Di Italia Hari Raya Kenaikan Tuhan tidak dirayakan hari Kamis kemarin, tetapi baru dirayakan bersama umat pada hari Minggu ini.

Sejauh saya ketahui, sebagian besar hidup pelayanan imamat Romo Djonowasono dipersembahkan di tempat pendidikan calon imam, baik di Seminari Menengah, Seminari Tahun Orientasi Rohani, maupun Seminari Tinggi.

Ketika masih Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) dulu, dia bercita-cita tidak ingin menjadi imam.

“Saya dulu tidak punya cita-cita menjadi imam. Waktu sekolah di SR (Sekolah Rakyat), muncul cita-cita dalam diri saya jadi guru, jadi dokter atau jadi dalang. Tak tahunya Tuhan punya cita-cita atau rencana lain”, ungkapnya dalam sharing Pesta Perak Imamat tahun 1999 (Bernio, No. 20, Th. IX, Januari 1999, hlm. 5).

Almarhum Romo Djonowasono dengan Romo V. Kartasudarmo Pr.

Imam kelahiran Baturetno 1 Desember 1944 ini, merupakan anak bungsu dari 8 bersaudara.

Ia lahir dari buah hati perkawinan Bapak Yusup Mentoredjo dan ibu Anna Mijem. Dari rahim Ibu Anna Mijem lahirlah delapan anak, terdiri dari tiga cewek dan lima cowok.

Ada satu kakaknya yang menjadi biarawan yaitu Bruder Cayetanus FIC.

Sebagai keluarga petani, kedua orangtuanya mendidiknya untuk selalu tekun dan tidak mudah menyerah.

Menurut kesaksian kakaknya, Petrus Samidjan, Djono kecil (nama kecilnya: Sardjono) memang bercita-cita ingin menjadi sorang guru dan berusaha dengan sungguh untuk dapat mencapai cita-cita itu.

“Ketika lulus dari Sekolah Dasar dia mendaftarkan diri untuk bersekolah di SGB dan mengikuti tes masuk sekolah tersebut. Namun sayang sekali hanya karena alasan fisik, yaitu berat serta tinggi yang kurang, dia tidak lolos dalam test tersebut”, tutur kakaknya (Bernio, Januari 1999, hlm. 15-16).

Sardjono sangat kecewa atas kegagalannya ini. Pada tahun berikutnya ia kembali mencoba mendaftarkan diri lagi ke SGB. Untuk kedua kalinya Sardjono tidak lolos tet masuk SGB dengan alasan yang sama.

Sardjono meniup alat musik fagot (duduk paling kanan) saat menjadi siswa di Seminari Mertoyudan kurun waktu tahun 1957 dan tahun-tahun berikutnya. Ketika dewasa dan menjadi imam, Sardjono beralih nama menjadi Romo Djonowasono Pr. (Dok. Hien Suhendra)

Perjumpaan dengan Romo Aloysius Purwadihadja Pr yang bertugas di Paroki Baturetno kala itu menjadi cara Tuhan untuk memanggil Sardjono menjadi seorang imam, menjadi “guru” iman bagi umat-Nya.

Ia mengisahkan awal panggilannya, “Tuhan Allah mengirim saya lewat Romo Al. Purwadihardja Pr ke Seminari Menengah Mertoyudan Magelang, untuk ikut tes masuk Seminari Menengah Mertoyudan. Test lulus dan resmi masuk menjadi siswa Seminari sampai selesai. Selama di Seminari tidak ada kesulitan yang menonjol.”

Menjadi formator calon imam

Ia ditahbiskan menjadi imam oleh Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono di Kapel Santo Paulus Kentungan Yogyakarta pada tanggal 25 Januari 1974.

Ada tiga orang yang ditahbiskan yaitu Romo H. Subiyanto Pr, Romo Y. Harsosudarmo Pr, dan Romo I. Djonowasono Pr.

Motto imamatnya adalah “Semoga kami bisa mewartakan Kristus dengan gembira dan rendah hati.”

Seusai tahbisan imam pada tahun 1974, Romo Djonowasono ditugaskan Bapa Uskup untuk menjadi staf formator di Seminari Menengah Mertoyudan (1974-1976). Kemudian ia diutus Bapa Uskup untuk studi Pastoral Katekese di Universitas Salesiana, Roma.

RIP Romo Djonowasono Pr (Ist)

“Saya tinggal selama tiga tahun dan bisa menyelesaikan licensiat Pastoral Katekese di Universitas Salesiana. Dari Keuskupan Agung Semarang ada surat yang isinya agar saya meneruskan untuk program doktoral. Tetapi saya mendapat sakit dan harus diopname. Saya mohon pada Keuskupan agar saya pulang saja ke Indonesia. Dan akhirnya saya diizinkan untuk pulang ke Indonesia,” tuturnya.

Setelah selesai studi licensiat Pastoral Katekese di Universitas Salesiana Roma (1978-1981), Romo Djono menjadi formator di Seminari Tahun Orientasi Rohani Jangli Semarang (1982-1991).

Kemudian beliau diperbantukan sebagai misionaris domestik ke Keuskupan Agung Medan dengan menjadi Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus, Sinaksak-Pematangsiantar (1992-1997).

Terkait karya pelayanan di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar, Romo Djono pernah mengungkapkan:

“Seminari Tinggi ini mendidik calon-calon imam projo di Keuskupan Regio Sumatra yang  meliputi Keuskupan Tanjungkarang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Padang. Waktu itu,  saya menggantikan Rama Harjoyo Pr (alm). Di Pematangsiantar saya tidak begitu banyak mengalami kesulitan, karena rama-rama pembimbing dan juga rama-rama dosen banyak yang sudah saya kenal dengan baik waktu kita sama-sama studi di Roma.”

Menjadi Romo Vikep Surakarta

Selama kurang lebih 23 tahun menjadi imam, Romo Djono selalu berhubungan dengan pendidikan calon imam. Sepulang dari bertugas di Keuskupan Agung Medan, dia mengusulkan kepada Bapak Uskup agar juga bisa berkarya di paroki.

Akhirnya, ia ditugaskan menjadi pastor kepala di Paroki San Inigo di Dirjodipuran, Surakarta (1997-1999). Di Paroki itu, ia bekerja bersama Romo Suparyono Pr untuk melayani umat Dirjodipuran, Stasi Sukoharjo, Stasi Mancasan, dan Solo baru.

Baru dua tahun tugas di Paroki Dirjodipuran, Mgr. Suharyo memintanya untuk pindah ke Paroki Santa Perawan Maria Purbowardayan menggantikan Romo Priyambono Pr.

Waktu itu, Romo Priyambono akan diutus menjadi Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar untuk menggantikan Romo Mardisuwignyo Pr.

Di Purbowardayan Romo Djono juga harus mengganti Romo Priyambono sebagai Vikep Surakarta. Di Purbowardayan ia bertugas sebagai Vikep selama 12,5  tahun.

Romo Djonowasono Pr, kini beristirahatlah dalam damai Tuhan. (Ist)

Pada tahun 2012 dia mengambil Sabbatical di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, sekaligus bisa menjadi Pembimbing Rohani atau Bapa Pengakuan bagi para frater.

Tugas Vikep Surakarta digantikan oleh Romo Antonius Budi Wihandono Pr.

Lalu pada tahun 2013 Romo Djono menjadi pastor pembantu di Paroki Babarsari, Yogyakarta. Beberapa tahun terakhir ini , beliau menjalani masa perawatan dan pemulihan kesehatan di Wisma Sepuh Santo Petrus di kompleks Seminari Tinggi Kentungan.

Inspirasi imamat

Bagi Romo Djono, hidup adalah untuk mencari kehendak Tuhan. Dengan demikian kita menjadi bahagia. Dalam perjalanan imamat, bagi dia, mengalami upa-and-downs adalah hal yang wajar.

“Saya menyadari bahwa pelayanan imamat saya hanya bisa terlaksana lewat kebersamaan. Kebersamaan dengan rekan-rekan imam, entah imam diosesan atau imam biarawan; kebersamaan entah dengan biarawan-biarawati, dengan bapak ibu atau muda-mudi; juga kebersamaan dengan sahabat dan handai taulan,” tutur Romo Djono suatu kali.

Saat pesta panca windu 40 tahun imamat pada tahun 2014, Romo Djono mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan.

RIP Romo Djonowasono Pr (1944-2019)

“Bersyukur kepada Tuhan karena saya sungguh-sungguh merasakan bahwa panggilan saya ini semata-mata dari kehendak Tuhan dan kasih Tuhan. Maka kalau kita bertanya mengapa saya dipanggil, jawabannya hanya satu: karena Tuhan Yesus menghendaki. Dan sepanjang pengalaman imamat saya, Tuhan juga mendampingi dalam pelaksanaan tugas-tugas imamat saya”, ungkapnya (Bernio, Edisi Khusus Yubilaris, Agustus 2014, hlm. 3).

Romo Djono memberikan teladan untuk berani minta maaf, baik kepada Tuhan, sesama imam maupun umat yang dilayani.

“Saya mohon maaf kepada Tuhan, karena dalam pengalaman imamat saya, saya tidak selalu mengikuti bimbingan dan kehendak Tuhan, tetapi saya sering mengikuti kehendakku sendiri”, tuturnya.

Romo Djono, sugeng tindak. Jadilah pendoa bagi kami dari Firdaus.

Curriculum Vitae

  • Nama                    : Ignatius Djonowasono
  • Lahir                     : Baturetno, Wonogiri, 1 Desember 1944
  • Nama ayah            : Yusup Mentoredjo
  • Nama ibu              : Anna Mijem
  • Anak                     : Ke-8 (bungsu)
  • Asal paroki         : Baturetno, Wonogiri, Jateng
  • Motto imamat   : Semoga kami bisa mewartakan Kristus dengan gembira dan rendah hati

Riwayat pendidikan

  • 1953-1959                    : Sekolah Rakyat Kanisius (SD)
  • 1959-1966                    : Seminari Menengah Mertoyudan
  • 1966-1973                    : Filsafat Teologi di Seminari Tinggi Kentungan

Pengalaman karya

  • 1974-1976                    : Formator di Seminari Menengah Mertoyudan
  • 1978-1981                    : Tugas studi di Universitas Salesiana Roma
  • 1982-1991                    : Wakil Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Semarang
  • 1992-1997                   : Rektor Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematangsiantar
  • 1997-1999                    : Pastor Paroki Dirjodipuran Surakarta
  • 2000-2012                    : Pastor Paroki Purbowardayan dan Vikep Surakarta
  • 2012-2013                    : Sabbatical di Seminari Tinggi Kentungan

Beberapa tahun terakhir menjalani masa perawatan dan pemulihan kesehatan dan tinggal di Wisma Sepuh Santo Petrus, kompleks Seminari Tinggi Kentungan sampai wafat pada tanggal 2 Juni 2019.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here