“Maria – Bunda Segala Suku”, Mencari Visualisasi Sosok Bunda Maria yang Khas Indonesia (2)

3
5,073 views
Para pemenang di ajang lomba "Maria - Bunda Segala Suku" yang dirilis di Aula Katedral Jakarta, Senin 22 Mei 2017 lalu. (Ist)

PERLOMBAAN itu sendiri sejak awal memang sengaja dirancang untuk merajut semangat kebersamaan dalam keberagaman suku di Indonesia. Ini terbukti dengan banyaknya animo partisipan yang mengikuti ajang lomba kreasi seni; sebagian para seniman katolik dan denominasi kristiani lainnya dan sebagian lagi para seniman non kristiani – dari Sumatera hingga Papua.

Laporan panitia menyebutkan, ada 54 hasil kreasi seni terdiri dari  44 karya lukisan dan 14 karya patung dengan nafas etnik khas daerah asal para seniman tersebut. Hasil lomba ini mengukuhkan seniman asal Yogyakarta bernama AM Zacharia menjadi pemenangnya. Karyanya berupa patung Bunda Maria berbahan dasar keramik dengan format ketinggian 60cm dan berbobot 7,2 kg. Hasil kreasinya laku terjual  senilai Rp 45 juta dalam lelang spontan.

Panitia juga menerbitan keputusannya mengukuhkan karya seni berupa lukisan “Bunda Maria Segala Suku” karya Robert Gunawan dari Jakarta sebagai pemenangnya.

Karya seninya mengambil bahan dasar semangat tema Bhinneka Tunggal Ika yang menggambarkan ‘sosok’ Bunda Maria dengan latar belakang salib sembari mengempit Rosario Merah Putih. Hasil lelang atas lukisan ini membukukan angka perolehan Rp 25 juta dan hasil duplikasinya dinilai sebesar sejuta untuk ukuran kecil dan lima juta rupiah untuk format lebih besar.

Juara utama kategori patung. (Ist)
Lukisan juara pertama yang akan dipakai KAJ.

Citarasa khas Indonesia

Kepada Redaksi Sesawi.Net,  Gomas Harun penggagas utama ajang lomba—menyebutkan ajang lomba ini sempat dia utarakan kepada Uskup Agung KAS (waktu itu) alm. Mgr. Johannes Pujasumarta pada tahun 2015 dan gagasan itu mendapat dukungan penuh.

Ketika ide ini dilontarkan kepada perwira tinggi TNI AL –almarhumah Laksamana Muda Christina Maria Rantetana—ternyata gayung pun ikut bersambut.

“Sebagai penggagas ajang lomba ini, saya harus mengatakan ini. Latar belakang utamanya adalah fakta bahwa hampir di seluruh dunia telah ada gambaran tentang sosok Bunda Maria versi masing-masing negara di seluruh dunia.  Tiongkok juga punya kreasi seni tentang sosok Bunda Maria. Nah, kita sebagai bangsa Indonesia yang multi etnik ini rasanya kok belum punya kreasi seni yang mewakili ‘sosok’ Bunda Maria yang khas bercitarasa Indonesia, tentu saja sesuai dengan latar belakang masing-masing budaya lokal,” tulis Gomas Harun kepada Sesawi.Net pekan lalu.

Ide ‘nakal’ itu, tulis Gomas, sebenarnya sudah muncul sejak empat tahun lalu. Namun, butuh waktu untuk memperjuangkannya dan meyakinkan pada hirarki bahwa ini merupakan sesuatu yang layak dikerjakan.

“Puji Tuhan,  di  tahun 2015 lalu, restu dan izin itu kami peroleh dari hirarki. Uskup Agung KAS alm. Mgr. Johannes Pujasumarta amat mendukung gagasan ini. Begitu pula Uskup Agung KAJ Kardinal Julius Darmaatmadja SJ dan Uskup Agung KAJ kemudian hari: Mgr.  Ignatius Suharyo,” tulis Gomas Harun yang berprofesi sebagai tenaga ahli konsultan bidang pembangunan supermarket khusus bahan-bahan bangunan ini.

Ditanyai Sesawi.Net darimana mendapat ilham ide cemerlang itu, dengan rendah hati Gomas Harun hanya menjawab pendek. “Saya ini orang awam dan merasa telah mendapat ‘tugas khusus’ dari Bunda Maria untuk melakukan ini.”

Prakarsa pertama di Gereja Ganjuran

“Dari pengalaman di Gereja Ganjuran Bantul Yogyakarta, maka berkat itu akan mengalir ke seluruh jagad. Keindahan karya seni bisa menyatukan semua orang dari berbagai suku dan agama, berbekal semangat dari Candi Hati Kudus Yesus – Pangeran Segala Bangsa di Gereja Ganjuran. Bunda Maria sebagai tanda kasih Allah, kiranya dia mampu menyatukan kita semua sebagai saudara,” tulisnya kepada Sesawi.Net.

Pada tanggal 30 Mei 2015 lalu, bersama beberapa koleganya, Gomas Harun sudah menginisasi ajang lomba bernafaskan semangat sama. Kala itu, judulnya adalah Sayembara Cipta Rupa Patung dan lukisan Maria Bunda Segala Suku  dan itu diluncurkan di Gereja Ganjuran, Bantul, DIY.

“Alm. Laksamana Muda TNI (Pur) Christina Maria Rantetana menjadi Ketua Panitia Lomba dan almarhum Bapak  Uskup Agung KAS  Mgr. Johannes Maria Pujasumarta Pr resmi merilis peluncuran ajang lomba tersebut. Lewat kegiatan ini diharapkan para seniman di seluruh Indonesia dapat menghasilkan karya seninya, dalam bentuk patung, lukisan serta hasil fotografi yang bercorak Indonesia. Ini dengan harapan agar  semua pihak bisa semakin lebih meningkatkan cinta terhadap Bunda Maria, Bunda Segala Suku di negara tercinta ini,” tulis Gomas mengutip omongan almarhum Mgr. Pujasumarta.

“Maria – Bunda Segala Suku”, Mencari Visualisasi Sosok Bunda Maria yang Khas Indonesia (2)

Partisipan beragam

Dalam peluncuran program ajang lomba di tahun 2015 itu, jelasnya, ada beberapa tokoh nasional yang hadir. Mereka adalah Bante Bradaparu (Budha), Wayan Sumerta (Hindu), Pendeta Fu Kwet Khiong, Antonius Sujata (Penasehat), Rm FX Wiyono Pr (Paroki Pugeran), Sr. Gemma OP, Rm. Bernardus  Saryanto Pr  (Vikep DIY), Dr Kardi Laksono (ISI Yogyakarta),  dan Romo Agus Ulahayanan (Komisi HAK KWI & Penasehat).

Ketika tema “Maria – Bunda Segala Suku”  diusung, maka penolakan internal cukup kencang. Namun, pada akhirnya panitia mengamini usulan tersebut. “Sebagai penggagas, saya merasa bertanggungjawab untuk menyelesaikan kegiatan yang sudah direstui oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Mgr. Ignatius Suharyo Pr, Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, dan alm Mgr. Johannes Pujasumarta Pr,” tulis Gomas Harun.

Menurut dia, sebagai kegiatan lomba, pekerjaan ini sudah mencapai garis finish dengan dipilihnya delapan pemenang  yang terpilih dari 44 karya lukis dan 14 karya patung yang terkumpul melalui serangkaian perdebatan serta diskusi dari para Juri, antara lain adalah Rm. Harry Sulistyo Pr, Bapak Antonius Sujata dan Sdr. Hari Mulyanto.

Namun ketika kami menghadap Mgr. Ignatius Suharyo Pr pada 24 April 2017,  harus disadari bahwa pekerjaan mewujudkan “Maria sebagai Bunda Segala Suku” ini belumlah usai. Pemilihan pemenang dan penganugerahan ini hanyalah satu dari ribuan langkah yang harus dilewati bersama agar tema “Maria Bunda Segala Suku” bisa menjadi kenyataan.

Penggagas utama ajang lomba “Maria – Bunda Segala Suku” Gomas Harun bersama Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (Ist)

“Mempersembahkan Indonesia bersama suku-sukunya kepada kerahiman Bunda Maria adalah doa kita sepanjang masa,” tulis Gomas Harun.

“Mengharapkan Maria menjadi Bunda dari suku-suku di Indonesia adalah permohonan tak pernah surut dari kita semua.  Dan, sekalipun lomba ini berlangsung lebih lama dari waktu yang sudah ditetapkan, kehadiran “Maria sebagai Bunda Segala Suku”  sangat sesuai dengan kondisi sosial bangsa Indonesia sekarang,” tulisnya lagi.

Ungkapan syukur dan terima kasih

“Akhir kata, kami ingin mengucapkan terima kasih dan sekaligus mempersembahkan “Maria Bunda Segala Suku” kepada alm. Mgr. Johannes Maria Pujasumarta Pr dan sahabat saya alm. Ibu Christina Maria Rantetana yang sudah berbahagia di surga. Terima kasih yang tidak putusnya dihaturkan kepada  YM. Mgr.  Antonio Guido Filipazzi yang telah menerima saya secara pribadi dan menyambut hangat diadakannya lomba ini dan sekaligus berkenan memberikan kata sambutan dalam sebuah buku,” tulis Gomas.

Pada kesempatan berbeda, ia juga menghaturkan ucapan terim kasih kepada  Mgr. Ignatius Suharyo atas dukungan memberi dorongan semangat kepada panitia untuk melanjutkan pekerjaan dan tidak berhenti hanya pada kegiatan lomba. Hal sama juga diungkapkan kepada Kardinal Julius Darmaatmadja SJ atas doa-doanya sehingga pekerjaan ini dapat diselesaikan.

“Dalam kesempatan ini, diucapkan juga terima kasih kepada rekan-rekan panitia sayembara dan panitia acara, serta para donatur yang senantiasa setia pada kegiatan ini dan sekaligus kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga pekerjaan ini terwujud. Per Mariam ad Iesum, melalui Maria menuju pada Yesus,” demikian Gomas mengakhiri pembicaraan dengan Sesawi.Net pekan lalu.

 

3 COMMENTS

  1. Kita sudah punya simbol Bunda Maria Ratu Segala Bangsa. Kenapa sih sosok Bunda Maria yg Universal dan milik umat sedunia, dikerdilkan dengan dibuat untuk konteks Indonesia. Apa yg telah ada dirasa kurang cukup?? Di KTP saja data suku dihilangkan.. Kok malah dibuatkan sosok Bunda Maria seperti ini. Terkesan memaksakan dan dipaksakan..

  2. Mungkin perlu juga pendekatan yang perlu waktu pada umat katolik seluruh Indonesia. Kalau di daerah saya di NTT sana mungkin masih agak sulit, kareena sudah terbiasa dengan Patung Bunda Maria yang selama ini ada. Perubahan memang perlu tetapi harus berproses, contoh saja misalnya pada saat Ekaristi Imam masih (harus) mengenakan Kasula dll sesuai tradisi gereja selama ini, kalau berubah satu saja sudah jadi masalah. Terimakasih.

  3. Gambar Maria bunda segala suku terlalu menampilkan lekuk tubuh seorang wanita yang mana kurang baik diterapkan kepada sosok Maria Bunda Tuhan. Rambutnya disanggul model Jawa, selalin terkesan tidak alami juga tidak mewakili seluruh suku bangsa di Indonesia. Pakaiannya juga wah, saya kok melihatnya seperti putri kecantikan atau model fashion. Saya mohon panitia bisa mengambil contoh sosok Maria seperti yg disaksikan oleh Jacinta, Lucia, dan Fransisco di Fatima. Seperti itulah Maria yg sesungguhnya krn merupakan penampakan asli dan diakui Gereja. Jika mau dibuat lebih kelihatan Indonesianya, mohon agar jangan terlalu jauh dari sosok Maria yang kudus dan rendah hati, tidak genit dg rambut yg dimodel, gaun yang wah dan memperlihatkan lekuk tubuh. Maria bunda segala suku bangsa, maaf, lebih mirip Dewi Sri dari legenda di Jawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here