Romo N Drijarkara SJ: Antara Ke-Yesuitan dan Ke-intelektualan-nya (8)

0
1,686 views

PERTANYAAN yang belum terjawab, sebagaimana juga diajukan oleh Romo Albertus Sujoko MSC dalam paparannya adalah pokok-pokok berikut ini: 

  • Dari siapakah seorang Djenthu –nama karapan akrab Romo N. Drijarkara waktu masih anak di kampung—sampai akhirnya ‘bersentuhan’ dengan  iman katolik? Padahal pada zaman itu, sudah pastilah mayoritas seluruh penduduk kampung Kedunggubah adalah muslim. Jadi kemungkinan besar, pengelaman Jenthu akan kekatolikannya terjadi ketika dia bersekolah di Cangkrep dan di Purworejo.
  • Atas dorongan, ilham atau wangsit dari manakah seorang Djenthu masuk seminari dan ingin menjadi imam? Ini menjadi pertanyaan saya, karena zaman sebelum pra kemerdekaan, masih sangat minim di Purworejo ada anak-anak putra daerah tiba-tiba ingin masuk seminari dan menjadi imam. Apalagi, waktu itu juga belum ada imam pribumi yang bisa menjadi panutan.
  • Apa dan siapa yang berhasil memotivasi Jenthu hingga akhirnya menjadi seorang Yesuit? Ini perlu saya angkat, kartena setelah  tahun 1927 hanya para imam MSC lah yang berkarya di Purworejo. Setahu saya, hanya Romo N. Drijarkara SJ satu-satuya Yesuit yang berasal dari Purworejo, selain juga pernah Sugeng Agus Priyono, mantan Jesuit dan kini menjadi awam.
  • Selama hidup dan karya sebagai Yesuit, bagaimanakan beliau menghidupi dan menghayati semangat ke-Yesuit-annya sebagaimana yang dihayati oleh St. Ignatius Loyola sang  pendiri ordon. Hanya para Yesuit yang ada di sekitar beliaulah yang tahu betul kesehariannya. 

Cerita sana-sini

Menurut barbagai catatan dan kesaksian orang-orang terdekatnya, keintelektualannya tidak saja berpengaruh di lingkungan internal gereja katolik, tetapi juga membahana seantero bangsa ini. Pemikirannya didengar oleh banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat: dari kalangan akademis sampai rakyat biasa. 

Romo Drijarkara SJ mampu menkomunikasikan pemikirannya dengan bahasa yang berbeda-beda, tergantung pada siapa pendengarnya. Beliau mampu membumikan filsafat pada kenyataan-kenyataan sederhana, dan sebaliknya mengangkat peristiwa biasa ke dalam lensa filsafat. Beliau tidak hanya berfilsafat dan mengajarkan pemikiran filsafat tetapi juga mengajak orang berfilsafat, bertanya, menggugat, mendudukkan dan menjernihkan peristiwa keseharian ke dalam konteks relasi antara manusia-alam dan Tuhannya. 

Bahkan, pada lelucon-nyapun masih terasa ada filsafatnya. Dalam arti ini bisa ditafsirkan beberapa hal:

  • Gaya berpikir dan mengkomunikasikan pemikirannya merupakan cara bertindak (our way of proceeding) salah satu unsur yang khas dalam spiritualitas Ignasian. Distingsi yang jelas antara sarana dan tujuan dalam bertindak. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Drijarkara SJ mampu menjadi jembatan dan diterima di berbagai kalangan. Orang pertama-tema menerima dirinya dan kemudian dapat menyerap pemikirannya.
  • Romo N. Drijarkara SJ memperlihatkan ketotalan dalam studi maupun karya, malampaui keterbatasan yang pernah dialami pada masa kecilnya. Selain totalitasnya dan sekalipun sudah menyandang nama besar, Romo N. Drijarkara SJ tetap bermati raga dengan kesahajaan dan keugahariannya. Beliau memperlihatkan konsistensi antara pemikiran dan hidup kesehariannya. Dalam konteks ini beliau amat menghidupi semangat magis yang juga khas dalam Serikat Yesus. Pada intinya, dengan menghidupi keintelektualannya dan bermatiraga dengan kesederhanaannya beliau menghayati ke-Yesuit-annya.
  • Romo N. Drijarkara SJ bersedia diutus kemana pun untuk memberikan diri dan keahliannya di berbagai institusi dalam rangka turut mencerahkan bangsanya. Bahkan pernah, entah diundang atau diutus, beliau juga pernah menjadi guru besar tamu di Universitas St. Louis di Amerika Serikat,  sebuah universitas Yesuit dan bahkan universitas katolik tertua (SLU berdiri tahun 1818) kedua di Amerika setelah Georgetown University (berdiri tahun 1789). Hal ini memperlihatkan bahwa kapasitas keintelektualannya dibarengi dengan sikap kesiapsediaannya. 

Dalam sebuah uraiannya tentang Majalah Basis, Romo Dr. GP. Sindhunata SJ dengan amat memikat menyebutkan, dalam perjalanannya mengelola majalah budaya ini, Basis hendak menghidupi roh yang diwariskan oleh kedua ‘suhu’ pendiri Basis  yakni Prof. PJ. Zoetmulder SJ dan Prof. N. Drijarkara SJ. Menurut Romo Sindhu, roh yang diwariskan oleh Romo Zoetmulder adalah semangat untuk menggali, merawat, dan menghidupkan kembali kebudayaan masa lampau, dalam hal ini adalah sastra Jawa kuno. Sedangkan warisan Romo Drijarkara SJ adalah kegelisahan dan pencarian kebudayaan untuk masa akan datang.  (Bersambung)

Artikel terkait:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here