Artikel Pencerah: Budi Gunadi Sadikin

0
477 views
Budi Gunadi Sadikin by Tribun News.


HARI-hari terakhir sebelum tahun 2020 berakhir, beberapa berita mengguncang dunia perpolitikan dalam negeri. Salah satunya adalah reshuffle Kabinet Indonesia Maju, hanya dua hari menjelang Hari Natal tiba.

Di antara 6 menteri baru, penunjukan Budi Gunadi Sadikin (BGS) sebagai Menteri Kesehatan (Menkes) paling menyita perhatian banyak orang. Menkes pertama di Indonesia yang bukan dokter.

Pakem telah dibongkar, leader sudah duduk di kursinya. Insya Allah, masyarakat kesehatan Indonesia mampu memanfaatkan peluang ini semaksimal mungkin.

Penunjukan figur non-dokter menjadi Menkes sebetulnya bukan sesuatu yang luar biasa. Analoginya, sudah ditunjukkan oleh Apple dan Google.

Mulai dua tahun lampau mereka tak lagi mensyaratkan “sarjana” untuk menjadi pegawainya. Konon, IBM juga mempunyai kebijakan serupa.

Dunia mulai merobohkan sekat-sekat perbedaan, termasuk ilmu pengetahuan.

“Perusahaan beken macam Apple dan Google merekrut pegawai yang bisa mengerjakan tugas yang diperlukan, tanpa memandang apakah yang bersangkutan memiliki gelar sarjana atau tidak.

“Perusahaan kami, seperti yang Anda tahu, didirikan oleh mahasiswa yang drop-out,” ungkap CEO Apple Tim Cook. (“Tak Perlu Jadi Sarjana untuk Kerja di Apple dan Google”,
Kompas.com 12/04/2019).

Dengan konteks yang berbeda, sejak 20 tahun lampau, Medco Energi, perusahaan perminyakan swasta nasional terbesar di Indonesia, membuka program Graduate Engineering Trainee tanpa melihat latar belakang pendidikan di Universitas.

Star Energy, perusahaan lainnya, melakukan hal yang sama beberapa tahun kemudian.

Insinyur dari jurusan apa pun silakan melamar. Kesesuaian values menjadi kunci utama untuk lolos.

“Recruit character, develop competencies”.

Tak aneh, kalau kemudian Drilling Engineer handal berlatar belakang Teknik Industri, Listrik atau Kimia.

Itulah kisah pembelajaran masa kini, yang berangsur berubah. Metodologi pengembangan SDM yang disusun 5 tahun lampau sudah tak cocok dengan sikap dan kebutuhan anak-didik, anak-buah atau anak-kandung, saat ini.

Cornel, siswa kelas 1 SMP, dengan usia sekira 12 tahun, “tiba-tiba” mahir bermain piano, nyaris tanpa guru formal. Dentingan gawai terdengar merdu dimainkan, berkat usahanya menonton YouTube.

Bandingkan, “nasib” saya dulu, ketika dua kali seminggu harus bertemu guru piano privat berlama-lama dan nyaris tanpa hasil.

Proses pembelajaran murid di kelas formal dan pengembangan pegawai di ruang kerja saat ini tak sama dengan kehidupan kaum digital immigrant.

Bila para guru dan pengelola Manajemen SDM masih menggunakan cara-cara lama, pembelajar akan ketinggalan dibanding “anak ingusan” seperti Cornel yang menggunakan caranya sendiri.

Modalnya minat, semangat dan niat yang kuat. Cornel beruntung karena tersedia sarana untuk menimba detil dan teknis bermain piano melalui kemajuan teknologi yang melejit demikian pesatnya

Untung, secara bertahap masyarakat Indonesia mulai rela menerima “cara baru” dan mengubah mindset dan sikapnya. Kisah seorang berpendidikan formal Fisika Nuklir, berpengalaman bisnis dan perbankan menjadi “bos” para dokter seluruh Indonesia menjadi pemicu untuk menyadarkan masyarakat akan mengentalnya borderless civilization.

Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berkemampuan tidak terlalu dalam tapi luas, dibanding bidang sempit tapi jauh menukik ke dasar lautan. Sinergi mutlak dibutuhkan, sesuai dengan segregation of duties yang disepakati.

“Spesialis mendalami hakekat dan mengembangkannya, generalis mengelola dan memimpin prosesnya”.

Pembelajar perlu dibekali pemahaman dengan “proses terjadinya” dan “konteks yang melatar-belakanginya”.

Selanjutnya, silakan bekerja keras untuk menggali materi yang lebih implementatif.

Ini jauh berbeda dengan pembelajaran yang dulu saya dapatkan. Banyak materi dijejalkan, dengan harapan, siapa tahu mampu menyelesaikan (banyak) persoalan, yang mungkin timbul. (Yoh. Haryatmoko SJ, Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan – Jawaban atas Tantangan Disrupsi-Inovatif, 2020).

Survei sederhana yang saya lakukan terhadap 32 dokter kenalan menunjukkan bahwa 81% responden berpendapat “Menkes tidak harus seorang dokter, asal sarat dengan kompetensi manajerial dan visioner”.

Hanya 1 Dokter (3%) yang serta-merta menolak, sedangkan sisanya (16%) berdalih “wait and see”.

Mantan Menkes, Siti Fadilah Supari (2004-2009) dan Nafsiah Mboi (2012-2014) memberi endorsement hasil survei dengan nada positif.

“Menkes tidak harus seorang dokter, meski dengan syarat-syarat yang menantang”. (Liputan6.com, 29 Desember 2020)

Fenomena BGS mengingatkan saya akan Jack Ma yang wanti-wanti berpesan agar pengembangan SDM dilakukan lebih untuk menanamkan values.

SDM perlu dilengkapi dengan kemampuan (kompetensi) “learning ability” dan “adaptability skill” yang persisten dan konsisten. (Man versus Machine, Vlog, Jack Ma).

Manusia zaman kini dituntut menjadi pembelajar dan mampu menyesuaikan diri dengan tepat terhadap “dunia” yang berubah (sangat) cepat.

Itulah calon pemenangnya.

Cornel memiliki keduanya sebelum dia bolak-balik membuka gadget sambil memencet-mencet pianonya dengan lagu yang awalnya tak jelas nadanya.

Sarjana Teknik Industri atau Kimia harus banting-tulang sebelum akhirnya menyandang predikat ahli perminyakan yang mumpuni.

Biar lebih komplet, pendapat Ma perlu dikombinasikan dengan Gladwell. Bila ingin sukses sejati, tanamkan nilai ”kerja keras” dan “pantang menyerah”. (Outliers – The Story of Success, Malcolm Gladwell, Penguin Psychology Books, New York Times Bestseller, 2008).

Itu adalah 2 dari 6 syarat yang menjadi kata kunci selain bakat, cerdas, dukungan lingkungan dan siap untuk beruntung.

BGS baru sepekan saja menjabat. Meski dua pidatonya cukup memukau, belum waktunya orang bisa menilai gebrakannya.

Cornel baru setahun asyik dengan pianonya. Belum semahir Ananda Sukarlan atau Richard Clayderman.

Tapi, bukan itu maksud tulisan ini.

BGS dan Cornel memberi impresi yang kuat. Mereka mengirim pesan yang tepat. Dengan proses pembelajaran seperti itu, keberhasilan mereka hanya masalah waktu belaka. Saya percaya itu, karena semua manusia sangat kompeten.

“Humans are extremely competent”. (Psychology, Margaret W. Matlin, Harcourt College Pub., 1992)

@pmsusbandono
1 Januari 2021

Teriring ucapan “Selamat tahun Baru” bagi sahabat-sahabat praktisi, penggiat dan pengamat Manajemen Sumber Daya Manusia Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here