Doa dalam Sketsa (Setelah Selesai)

0
397 views
Penulis membuat sketsa.

BOLEH saya tahu sejak kapan Romo menggambar sketsa?

Begitu pertanyaan yang muncul dan yang berusaha saya jawab. Tepatnya sejak Sabbatical Year 2009, saya aktif mensketsa, setelah hari-hari belajar lagi di Gregoriana Roma di celah-celahnya saya rampungkan sketsa-sketsa gereja-gereja dan bangunan indah ‘kota abadi’ itu.

Mengapa saya pakai kata ‘merampungkan’?

Karena ketika belajar filsafat dan berakhir 1986, di celah-celah menggarap disertasi, waktu istirahat saat bete dan capai, saya jalan-jalan menyusuri Roma dan sudah menggambar sketsa.

Hanya saja, karena dokumentasi yang jelek banyak yang tak tahu lagi di mana disimpan.

Penulis dan kumpulan sketsa.

Mulai main sketsa

Namun yang positif ingin saya tulis adalah begitu disertasi selesai, saya taruh pula buku sketsa-sketsa di rumah kami di Kolese Bellarmino, Roma. Nota bene, saat itu, para mahasiswa SJ punya tradisi membahas disertasi dari penulisnya sekaligus untuk saling mendukung agar yang berlama-lama termotivasi untuk cepat maju ujian, saat cepat menyelesaikan penelitiannya.

Sebuah proses yang selalu saya namai encouraging process dan bukan sebaliknya yang menciutkan harapan alias discouraging actions.

Mengapa buku kumpulan sketsa saya taruh bersanding dengan tesis tebal (waktu itu masih ketik jari dan budaya cetak kertas)?

Karena dalam bingkai mendorong dan menyemangati (baca: encouraging action) itulah mau ditunjukkan betapa buah garis-garis sketsa menjadi kawan di saat kering dan kemarau menulis bab-bab tesis karena jasanya, yaitu menyegarkan lagi untuk asa menulis dan merangsang saat jeda untuk tetap kreatif, jalan terus untuk langkah demi langkah maju dalam menyelesaikan disertasi.

Coretan-coretan sketsa.

Kembangkan bakat di Seminari

Soal melukis, sesungguhnya saya harus berterima kasih pada Seminari Mertoyudan yang saat awal di sana (angkatan masuk 1967 bersama dengan yang angkatan 1969), kami diberi pilihan ranah pengembangan talenta (kata pamong) yaitu ranah tulis-menulis atau mengarang; ranah musik dan koor serta ranah menggambar.

Saya mengambil menggambar dan menulis. Ketika selesai ‘tahun cuti’ 2009, sejak itulah saya mulai pameran sketsa dan didorong (sekali lagi being encouraged) oleh teman-teman seniman untuk terus berpameran tiap tahun sekali.

Yang mau saya bagi kini adalah bagaimana proses menghayati medium atau media, saat talenta Tuhan saya sadari dan terima kasihi sebagai berkahNya.

Ketika ungkapan refleksi atas hidup mesti saya ungkap dalam esai, di sana berlatih menulis esai menjadi proses rendah hati mau berguru dengan membaca esai-esai tulisan penulis yang esais dan saya ukur ‘humanis’, artinya memperjuangkan kemuliaan manusia karena citra Allah (imago Dei).

Sketsa perjalanan hidup berkreasi.

Dari Romo Mangun

Saya belajar banyak dalam temu dan diskusi dengan alm. Romo Y. Mangunwijaya, saat-saat di Yogya, di Kota Baru yang sepelemparan batu dari rumah Kali Code Romo Mangun dan kerap pula ke Gang Kuwera, Gejayan, 1980-1982.

Intinya, menulis esai adalah menuliskan dengan fenomena, gejala yang dilihat mata budi analisis, lalu diolah dengan mata batin nurani saat bingkai struktur mengungkung orang dalam ketidakmerdekaan yang harus dikritisi untuk ditunjukkan what’s wrong-nya: mana sisi tidak manusiawinya.

Rumusan ini sebenarnya sudah berbentuk ‘teori’ deduktif, artinya ‘abstraksi’ dari mengalami dan menghayati kehidupan sehari-hari sebagai warga masyarakat, pribadi dan warga negara.

Dari Romo Mangun saya belajar lebih tajam mengenai nomer satunya, pengalaman menghayati nyata-nyata di lapangan hidup sehari-hari atau induksi (bahasa ilmiahnya).

Sementara itu belajar filsafat, saya membuahkan jalan pikiran, kerangka penalaran akal sehat abstraksi dari pengalaman-pengalaman penghayatan dan menjadikannya ‘teori’ dalam pengertian, perumusan rasional, sistematis, yang runut nalar mengenai pengalaman atau penghayatan atau fenomena kehidupan.

Dengan singkat, esai, mau menulis laku hidup dalam bingkai ‘mata budi’ analisa teori untuk memberi bingkai duduk perkara, dialektika prosesnya antara pro dan kontra lalu dicarikan sintesisnya untuk pemecahan.

Kunjungan Prof Dr. Toety Noerhadi.

Sketsa dan doa

Uraian di atas sengaja saya tulis cukup berat sebelum saya kontraskan ke yang lebih fokus ke tema tulisan ini yaitu sketsa dan doa. Mengapa didahului dengan menulis esai sebagai seiris kecil untuk menuju tema kita?

Karena dalam laku tindak laku hidup menghayati anugerah talenta tulis menulis dan gambar menggambar dari Tuhan ini terangkum kaulah pengalaman saya ini.

Apa yang masih kurang tuntas dalam esai ternyata di saya ‘dipanggil’ untuk mengekspresikannya dalam bahasa gambar sketsa.

Artinya, secara padat pada saat bahasa esai ilmiah atau esai prosa dirasa masih belum cukup untuk menyentuh hati atau rasa, maka dibutuhkanlah puisi dalam kata yang padat dimaknai dan sketsa yang merupakan visualisasi lukis yang kini digolongkan ke dalam ‘meme’.

Nilai sketsa

Nila esai adalah ekspresi budi analisa lebih ilmiah berdasar nalar, maka sketsa adalah ekspresi menghayati hidup berdasar hati yang menangkapnya, intuisi yang memegangnya meski harus memperpeka telinga dan mata batin untuk ‘menangkap’nya.

Anda bisa menelusuri katalog dan buku-buku foto pameran sketsa saya selama ini, di sana pada awalnya, saya menulis bahwa sketsa biasanya dimengerti, dikomunikasikan orang sebagai ‘gambar pra lukisan’, artinya dilukis hitam putih sebelum melukisnya dengan warna dan kombinasinya menjadi lukisan ‘lengkap’.

Ya yang Anda pahami dan apresiasi sebagai lukisan-lukisan berwarna mulai dari realis, naturalis, abstrak, lalu yang dipengaruhi psikoanalisa bawah sadar Freud dalam surealis dan ‘genre’ (jenis lukisan ‘mapan’ lainnya).

Apresiasi dari pengunjung pameran.

Padahal sejak awal saya memperjuangkan dengan tindakan (baca: laku tindak) bahwa sketsa itu sendiri sudah merupakan lukisan.

Maksudnya, saat seniman mensketsa hitam putih, ia curahkan dengan jemarinya yang menarik garis, memberi sentuhan rasa dan keringatnya pada sketsa itu semisal, sketsa hitam putih salib, saya menarik garis dalam penghayatan rasa dan hati yang mengalami renungku mengenai makna salib.

Maka judul Di salib di ibu kota, yang hitam putih, di sana sketsa melukiskan peristiwa dan fenomena disalibnya Tuhan oleh beton-beton bangunan runcing pongah tak manusiawi, apalagi tidak peduli pada orang-orang pinggiran compang-camping.

Tuhan disalib di kemacetan jalan saling serobot bila lampu hijau, hingga pesepeda motor jadi sasaran kekejaman roda empat, apalagi yang jalan kaki di pedestrian trotoar jadi sasaran motor-motor naik ke trotoar tanpa peduli nabrak sesamanya yang sedang jalan.

Dengan sketsa itu sendiri sebagai lukisan hitam putih, saya tulis credo lukisanku sebagai berikut: ‘bila kenyataan hidup atau realitas hidup kita disepakati sebagai abu-abu atau grey area, maka ketika kita melukis warna putih lebih banyak pada kelabu abu-abunya realitas itu, maka akan berkuranglah hitamnya dan bertambahlah putihnya.

Hitam-putih

Sebaliknya, bila kita menoreh warna hitam pekat pada realitas abu-abu itu, maka semakin lebih hitamlah kenyataan hidup itu.

Dalam hal ini, hitam adalah simbolisasi jahat dan putih adalah yang baik. Dalam kenyataan pendidikan agamis, kita sejak kecil sudah ditanam dalam-dalam dikhotomi tajam yang diajarkan dalam moralitas antara pahala masuk surga dan hukuman masuk neraka dalam wajah kaku hukum agama.

Sketsa hitam putih.

Ketika nasehat untuk menorehkan yang putih atau yang baik di masa pandemik ini, kita temukan di banyak media sosial, meskipun kabar bohong hitam juga bertahta meracuni, benarkah perumpamaan warna abu-abu sebagai kenyataan nyata samar-samar antara baik (putih) yang campur dengan jahat atau hitam.

Di saat banyak ajakan renungan tulis dan penuh kalimat yang nyaris membuat kita dibawa ke suasana iklim verbalisme (penuh kata atau ekstrim prosa), maka dibutuhkanlah bisik yang lebih hening mengajak berhenti sejenak dalam langkah hidup melalui puisi.

Karena itu dalam sketsa, lalu dicantumkan doa (baca: penggalan puisi tulus syukur, atau jerit keluh pinta tolong ke Tuhan) untuk mendukung: encouraging pesan sketsa itu lebih menyapa dan menggugat.

Dalam sketsa Di bawah salib Yesus 2020, berjudul ‘mereka setia’, di sana saya taruh doa dalam puisi:

Tapak-tapak langkah yang diserahkan adala kepasrahan mempercayai Dia     

Dalam sketsa salib Yesus tergantung corpusnya di kayu silang, saya tulis: Doa Malam

Tuhan yang teduh kuhunjukkan riuh budi, gaduh hati dalam luruhMu

Juga dalam corpus Yesus bergantung di salib (sketsa 6/10/2009), saya tuliskan doa yang banyak dimohon di saat-saat pagebluk berat dan gelap ini.

Tuhan, moga mata baik-Mu menguduskan dalam kebenaran, hingga yang emas benar emas. Luputkanlah pula dari yang jahat agar kami berani beriman dan berharap pada mataMu mata kerahiman.

Bila dirangkum, bahasa prosa atau esai ketika butuh diheningi, maka mendorong saya menulis dalam bahasa visual sketsa.

Saat sketsa dilukis sebagai doa visual, maka pesan makna menjadi lengkap manakala disertai puisi doa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here