Lectio Divina 16.09.2020 – Suling Kutiup, tapi Kamu Tak Menari

0
315 views
Ilustrasi -- Meniup seruling (Ist)

Rabu. Peringatan Wajib Santo Cornelius, Paus Sipirianus (M)

  • 1Kor.12:31-13:13
  • Mzm 33:2-3a,3b-4,5.12-22
  • Luk. 7:31-35

Lectio

31  Kata Yesus: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? 32 Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.

33 Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. 34 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. 35 Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

Meditatio-Exegese

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?

Penolakan tidak hanya pada pesan Yesus tentang Kerajaan Allah, yang selalu membawa suka cita. Tetapi juga, pesan Yohanes Pembaptis, yang mengajak setiap orang untuk bertobat dan kembali kepada Allah.

Pesan kedua tokoh besar itu seolah seperti bencana yang melanda dan memporak porandakan hidup para penolaknya.

Para Farisi dan ahli Kitab, pada waktu itu, misalnya, berhasil membangun argumentasi bahwa pesan Yohanes Pembaptis sama dengan pesan dari setan dan Yesus dianggap sebagai mesias palsu. Usaha mereka berhasil menghalangi rencana keselamatan Allah.

Sebaliknya, Yesus sangat mahir dalam menemukan ungkapan perbandingan yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

Saat pesan yang disampaikan-Nya ditolak, Yesus seolah-olah mengeluh, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?” (Luk. 7:31).

Keluhan-Nya menyingkapkan ketidakmampuan dan ketiadaan kehendak untuk menerima kerahiman dan belas kasih Allah.

Seumpama anak-anak yang duduk di pasar. Anak-anak nampaknya memiliki tanggapan yang sama atas ketidak-sukaan. Mereka merajuk, ngambek, menangis, marah kalau keinginan tidak terpenuhi.

Ungkapan ketidaksukaan mereka pada Yesus terungkap dalam Luk. 7:32, Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.”, Cantavimus vobis tibiis, et non saltastis; lamentavimus, et non plorastis!

Penolakan atas Yohanes Pembaptis didasarkan pada anggapan yang kekanak-kanakan. Ia dianggap sebagai orang yang kerasukan setan, walaupun seluruh hidupnya diisi dengan mati raga.

Yohanes memang menuntut para muridnya untuk hidup dengan cara yang lebih keras untuk menghadapi pengadilan Tuhan. Tetapi cara hidup saleh itu menyebabkan dia dianggap kerasukan setan, “Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.” (Luk 7:33).

Sedangkan Yesus, yang datang kemudian, mendekati umat dengan cara hidup yang lebih lunak, kelihatannya, dianggap sebagai pemabuk, pelahap dan bersekongkol dengan para pendosa (Luk. 7:34).

Sabda-Nya, “Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”, venit Filius hominis manducans et bibens, et dicitis, “Ecce homo devorator et bibens vinum, amicus publicanorum et peccatorum!”

Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Penolakan terhadap pesan Yohanes dan, terutama, pesan Yesus mengingatkan akan kebodohan yang tak perlu dibuktikan.

Hal ini mengingatkan pada dua orang sahabat Ayub yang percaya diri akan kebijaksanaan mereka. Padahal, sebenarnya, “Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu.” (Ayb 13: 5).  Kebenaran Kerajaan Allah dan pesan Yohanes dibuktikan oleh mereka yang menerima dengan tangan dan hati terbuka.

Katekese

Madah dan tarian para nabi. Santo Ambrosius dari Milan, 339-397:

“Maka, kebijaksanaan dibenarkan oleh semua anaknya.” Dengan tepat Ia bersabda, “oleh semua”, karena keadilan dilaksanakan sepenuhnya. Agar penerimaan dari yang percaya terjadi, penolakan dari yang tidak percaya harus terjadi.

Banyak orang Yunani berkata seperti ini, “Kebijaksanaan dibuktikan oleh pekerjaannya”, karena tugas keadilan adalah menjaga tolok ukur atas balas jasa bagi masing-masing pihak. Dengan tepat kebijaksanaan asing itu berkata, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari.”

Musa memadahkan kidung ketika ia menghentikan gelombang dan membelah Laut Merah agar umat Israel dapat menyeberang (Kel. 15:1-18); dan ombak lautan yang sama mengelilingi kuda-kuda orang Mesir dan, saat kuda-kuda itu jatuh, menenggelamkan  mereka yang menaikinya.

Nabi Yessaya memadahkan kidung tentang kebun anggur yang dikasihiNya (Yes 5:1-7), saat menyingkapkan bahwa umat yang telah menghasilkan buah keutamaan yang melimpah akan diasingkan melalui tindakan yang membawa malu.

Orang-orang Ibrani melambungkan madah ketika telapak kaki mereka menjadi dingin saat menyentuh api yang menyala-nyala; sedangkan orang lain di luar dapur api merasa terbakar; api yang tak berbahaya membelai mereka dan tak menghanguskan (Dan 3:19-25).

Nabi Habakuk juga belajar meredakan kegalauan hati seperti dialami semua manusia dengan madah dan bernubuat tentang perasaan Allah yang lembut dan menyelamatkan yang akan dipenuhi di masa depan bagi umat (Hab 3:13).

Para nabi mengidungkan madah dengan laku kerohanian, karena menggemakan nubuat akan keselamatan seluruh semesta dan manusia.

Para nabi meratap, karena melembutkan hati orang Yahudi yang membatu dengan ratapan sedih (Yes 46:12).” (dikutip dari Exposition Of The Gospel Of Luke 6.6-7)

Oratio-Missio

  • Tuhan, bukalah telingaKu untuk mendengarkan Kabar Suka Cita Kerajaan-Mu dan jadikanlah hatiku lembut untuk melayani-Mu dengan suka cita. Semoga tidak ada satu pun penghalanang untuk mengikuti-Mu dengan segenap hati, budi dan kekuatanku. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk melunakkan hatiku agar Ia bersemayam di hati?

Et iustificata est sapientia ab omnibus filiis suis – Lucam 7: 35

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here