Mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Baik dan Benar (1)

0
418 views
Seminaris sangat antusias menyimak penjelasan Romo Juli tentang hal-ikhwal tata Perayaan Ekaristi. (Noell)

KEBANYAKAN orang Katolik biasanya menganggap Misa atau Liturgi Ekaristi merupakan hal yang membosankan.

Kecenderungan orang-orang datang dalam perjamuan Ekaristi hanya sekedar kewajiban belaka. Datang tanpa persiapan, duduk dan mendengarkan lalu pergi begitu saja tanpa membawa apa-apa.

Kehampaan seperti ini dirasakan karena ketidaktahuan umat pada Ekaristi itu sendiri.

Romo Matheus Juli Pr dalam rekoleksi para Seminaris St. Laurensius Ketapang mengungkapkan betapa indahnya Ekaristi bagi umat Katolik. Khususnya bagi para calon imam diosesan ini.

Pertanyaan yang sangat menohok bagi sebagian besar umat Katolik yang belum menemukan makna terdalam dari Ekaristi. Apakah selama ini kita sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana Ekaristi bisa menjadi hal yang sangat penting bagi iman Katolik?

Hal tersebut penulis dengar dan tuliskan melalui rekoleksi dua hari dari romo yang telah berkarya sekitar 32 tahun di Keuskupan Ketapang ini.

Hasil refleksi pribadi

Romo Matheus Juli selanjutnya menggambarkan Ekaristi sebagai hal yang sangat indah melalui refleksi pribadinya. Ia menyebut,  Ekaristi merupakan puncak atau sumber kehidupan orang beriman. Apalagi bagi seorang calon imam. Hampir tidak mungkin, apabila ada calon imam yang tidak pernah mengikuti Ekaristi.

Ekaristi sering kali disebut Misa Kudus yang dengan daya ilahi mampu menimba kehidupan rohani selanjutnya dialirkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi masalah di sini, kebanyakan dari umat Katolik tidak mengerti bagaimana mengikuti Perayaan Ekaristi yang baik dan benar.

Romo Matheus Juli Pr.

Romo Juli menambahkan,  umat mengira Ekaristi itu hanya tentang pastor berkotbah, koor yang baik, menarik dan lain sebagainya. Tujuan rekoleksi ini adalah bagaimana kita semua dapat mengerti, memahami, memaknai, mendalami bahwa Ekaristi merupakan undangan Kristus sendiri untuk datang atau hadir di dalam pesta-Nya.

Selanjutnya, apakah dalam perayaan Misa kita perlu mempersiapkan sesuatu? Atau pernahkah dari kita semua yang datang dalam perayaan Ekaristi hanya dengan pakaian seadanya?

Bandingkan apabila kita diundang dalam pesta ulang tahun pernikahan, atau diundang oleh pejabat untuk mengikuti pesta, tentu orang akan mempersiapkan dirinya dengan baik.

Orang akan mengenakan pakaian terbaik, wangi-wangian, rambut yang diminyaki dan penampilan yang terbaik.

Kita semua sadar dan tahu bahwa dalam acara demikian, kita harus mengenakan pakaian yang pantas. Demikian pula Ekaristi yang merupakan undangan pesta Kristus di mana kita perlu melakukan persiapan, biarpun itu hanya misa harian.

Persiapan

Persiapan yang perlu dilakukan oleh umat adalah persiapan fisik dan persiapan batin.

Persiapan fisik bertujuan agar kita tentu siap untuk hadir dalam hadirat Tuhan. Bentuknya dalam persiapan fisik biasa seperti mandi yang bersih dan berpakaian yang layak, rapi dan pantas.

Dalam Mazmur 112:1 dikatakan “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”

Maka dari itu persiapan batin adalah persiapan yang sangat penting agar kita layak dan pantas untuk menghadiri undangan pesta sang mempelai yaitu Kristus sendiri (bdk. Mat 22:12).

Keindahan Ekaristi

Romo Matheus Juli Pr selanjutnya mengajak para Seminaris dan staf  melihat lebih dalam prosesi Ekaristi mulai dari awal hingga akhir.

Yang paling pertama dibahas adalah tata gerak dan alasan mengapa sebelum masuk Gereja, umat harus mengambil air kudus terlebih dahulu. 

Kepada seminaris di Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang, Romo Juli menjelaskan apa dan bagaimana tentang Perayaan Ekaristi.

Romo Juli menjelaskan bahwa air kudus sendiri merupakan lambang dari pembabtisan yang menjadikan seseorang sebagai anggota persekutuan umat Allah.

Air kudus yang diletakkan dalam suatu wadah di gereja atau kapel diambil dengan ujung jari tangan (minimal tiga jari) di mana posisi orang tersebut harus mengarah kepada Tabernakel di mana Allah bertahta di dalamnya.

Tanda salib dibuat mulai dari dahi, dada kemudian pundak kiri dan kanan). Tanda salib dimulai dari dahi berarti Allah menguasai pikiran yang merupakan bagian terpenting dari manusia.

Selanjutnya turun ke bagian dada yang melambangkan hati nurani di mana Yesus Kristus menderita, mati serta bangkit dan hanya bisa dirasakan melalui hati. Sementara di pundak berarti Yesus yang mengurus Roh Kudus sebagai kekuatan untuk berjuang dalam kehidupan di bumi ini.

Tanda salib

Penjelasan lebih jauh, Romo Juli mengatakan bawah tanda Salib adalah tanda kemenangan Kristus.

Maka tanda salib bukanlah tanda bagi iblis, bagi rasa takut, dan penderitaan daging sebab bagi Kristus itu tidak ada apa-apanya dibandingkan ketaatan-Nya kepada rencana Allah. Maka, tidak mungkin ada seorang Katolik tanpa tanda salib.

Apalagi jika sampai malu untuk membuat tanda salib, membuat tanda salib sembunyi-sembunyi karena malu dilihat orang. Sebab itu merupakan penyangkalan Kristus sendiri di hadapan manusia apabila kita malu untuk membuat tanda salib. (Bdk. Mat. 10:33)

Saat mengambil air kudus, bukan hanya sekedar memasukkan tangan ke dalam wadah, mengambil air dan membuat tanda salib.

Romo Juli mengatakan bahwa ketika mengambil air kudus, umat juga harus mengatakan ke dalam hatinya,”Ya Bapa, sucikanlah badanku, dan kuduskanlah jiwaku karena aku akan masuk ke rumah-Mu.”

Sebab di dalam rumah Tuhan, Kristus khusus hadir dan umat wajib menghormati-Nya.

Pertanyaannya, mengapak perlu menyucikan badan dan hati?

Romo Juli menjelaskan bahwa kemungkinan umat melakukan dosa dalam kesehariannya maka ia perlu menyucikan tubuh dan jiwanya dengan mengingat kembali pembabtisan melalui air kudus. Di dalam pembabtisan sebelumnya, ia ditenggelamkan dan dibersihkan dari lumpur dosa dan menjadi manusia baru.

Maka dari itu, mengambil air kudus sendiri haruslah dengan sikap hormat di hadapan tabernakel.

Sesudah itu, umat kemudian duduk di bangku yang telah disediakan dan melakukan persiapan.

Persiapan apakah yang dimaksud? Kebanyakan kebiasaan yang terjadi pada umat saat duduk di bangku adalah ngobrol, sibuk sendiri, melihat gadget, rosario, koronka dan lain-lain.

Namun sikap yang tepat yang dianjurkan oleh Romo Juli yaitu mengumpulkan persoalan-persoalan hidup sejak seminggu lalu hingga saat berjumpa dengan Allah seperti mengumpulkan sebuah proposal, ujud-ujud doa pribadi, kelalaian dan dosa-dosa yang membuat kita mengingkari janji kita kepada Tuhan.

Maka dari itu, sangat tidak dianjurkan untuk datang terlambat pada saat misa. Minimal tiga menit untuk mempersiapkan proposal-proposal doa tadi dan merenungkannya.

Ada pengecualian misalkan seorang ibu yang ingin datang awal ke gereja, namun harus terlambat karena mengurus anaknya, atau seorang anak yang sedang mengurus ayahnya yang sedang sakit sehingga terpaksa terlambat untuk misa.

Alasan seperti di atas masih dapat ditoleransi, namun tidak ada toleransi untuk alasan terlambat misa yang dibuat-buat.

Romo Juli membawakann rekoleksi kepada para seminaris bertema Ekaristi.

Romo Juli juga menegaskan apabila ada umat yang datang terlambat dengan alasan yang dibuat-buat, sebaiknya jangan menerima komuni daripada mengalami dosa dan mencemari Tubuh Kristus.

Pada pernyataan tobat apabila umat tidak mempersiapkan dirinya, ia akan mengakukan tobat tanpa mengetahui dosa apa yang ia pikirkan, lakukan dan katakan.

Lebih konkretnya, dosa apakah yang mau diakukan jika tidak dipersiapkan. Mengapa umat perlu mengakukan dosanya?

Doa Tobat

Romo Juli mengatakan bahwa dosa-dosa kita membuat Tubuh Kristus menjadi cacat atau tercemar. Maka supaya layak dan pantas perlu mengakukan dosa dan mendapatkan absolusi dari Imam melalui Doa Tobat.

Dengan Doa Tobat, kita mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan Allah, Santa Maria, para malaikat, orang kudus dan juga kepada seluruh umat. Selanjutnya Imam akan memberikan absolusi umum dari daftar dosa-dosa yang telah dipersiapkan sejak awal saat duduk di bangku Gereja tadi.

“Semoga Allah mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal” dan dijawab oleh umat dengan kata “Amin.”

Romo Juli selanjutnya menjelaskan mengenai pembacaan Sabda atau Injil.

Umat Allah yang ditugaskan untuk membacakan sabda Allah diberikan kehormatan untuk menyampaikan perkataan Allah sendiri.

Kenyataan yang terjadi menurut pengalaman Romo Juli adalah masih ada umat Katolik yang menolak ketika ditugaskan untuk membacakan sabda Tuhan. Tetapi kebalikannya, ketika membacakan surat dari pejabat penting, orang merasa bangga.

Petugas pembacaan sabda (lektor) haruslah mempersiapkan dengan baik jauh, sebelum ia bertugas supaya bisa mengetahui isi sabda, artikulasi, pemenggalan kalimat dan lain-lain.

Karena membacakan sabda ini bukan untuk sendiri, maka petugas lektor perlu menatap ke arah umat sebab yang ia sampaikan adalah sabda Tuhan yang harus didengarkan dan diperhatikan oleh seluruh umat.

Dalam pembacaan Injil, Romo Juli menjelaskan bahwa umat diajak untuk mendengarkan Kabar Gembira dengan mengenakan tanda salib kecil di dahi, bibir dan dada dengan doa-doa.

Tanda salib di dahi, kita mengucapkan doa, ”Tanamkanlah Injil-Mu dalam pikiranku…”, kemudian di bibir,” Semoga Firman-Mu disampaikan dengan bibirku…”, dan di dada,”…dan kuresapkan di dalam hatiku.”

Maka setelah itu, umat harus memperhatikan Injil tersebut dengan seksama sebab Tuhan Yesus sendirilah yang bersabda dalam Injil itu.

Homili

Bagian yang paling sering mendapatkan penilaian dari umat menurut Romo Juli adalah homili. Umat sering mengarahkan kotbah pada imam yang menyampaikan cara homilinya, isinya yang bertele-tele dan membosankan.

Padahal homili sendiri merupakan bagian dari pengajaran sesuai pesan dan bacaan pada hari itu.

Romo Juli menggambarkan pengkotbah atau pembawa homili sebagai seorang guru yang memiliki cara mengajar yang berbeda-beda.

Homili sendiri harus disampaikan dengan baik dan benar, berwibawa, dan boleh juga secara jenaka sebagai pemanis.

Setelah mendengarkan sabda Tuhan dan homili dari imam. Umat kemudian berdiri untuk mengucapkan Doa Aku Percaya. Doa ini merupakan simpulan yang diakui melalui iman, kesadaran iman, pengakuan akan kebaikan Allah yang kita yakini.

Doa Umat

Barulah setelah itu, umat menyampaikan doa-doa permohonan mereka melalui Doa Umat. Romo Juli selanjutnya memaparkan isi pokok yang secara umum ada pada doa umat.

  • Yang pertama adalah doa kepada Paus dan para uskup atau pemimpin Gereja.
  • Kedua adalah doa bagi pemimpin negara.
  • Ketiga adalah doa bagi fakir miskin, janda dan yatim piatu atau ujud lainnya sesuai dengan tema perayaan misa tersebut.
  • Keempat adalah doa bagi kepentingan Gereja atau paroki dan terakhir adalah ujud doa bagi kepentingan pribadi yang berisi proposal-proposal atau daftar-daftar doa yang sejak awal sudah dipersiapkan.

Persiapan inilah yang harus dilakukan umat agar tidak terkesan datang misa dengan pikiran yang kosong.

Kolekte

Selanjutna Romo Juli mengupas lebih detil mengenai persembahan. Persembahan sendiri dimulai dengan kolekte.

Kolekte sendiri diperoleh dari hasil jerih payah, cucuran keringat entah berupa uang atau pun barang-barang. Barulah setelah itu, imam mulai melakukan persiapan persembahan dengan menggabungkan persembahan-persembahan tersebut ke dalam roti dan anggur yang akan dikonsekrasikan.

Dalam persiapan persembahan, imam mengucapkan doa:

“Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti (anggur) yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi (pohon anggur) dan dari usaha manusia, yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan (minuman rohani). Yang selanjutnya ditanggapi oleh umat dengan mengatakan,”Terpujilah Allah selama-lamanya.”

Selanjutnya Imam mencuci tangan dengan air sebagai lambang untuk menyucikan dirinya agar layak memegang roti dan anggur yang dipersembahkan tersebut sambil berkata dengan rendah hati, ”Ya Tuhan, bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan sucikanlah aku dari dosaku.”

Romo Juli menjelaskan bahwa itu dilakukan agar Imam benar-benar bersih dan layak untuk mempersembahkan kurban Anak Domba Allah tersebut.

Imam kemudian mengucapkan doa:

”Semoga persembahanku dan persembahanmu, berkenan kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa.”

Selanjutnya umat berdiri, lalu menanggapinya dengan berkata,” Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus”.

Romo Juli mengulangi kembali mengenai hal ikhwal tentang kolekte dengan pertanyaan apabila ada umat yang tidak memberikan kolekte khususnya seperti para seminaris, frater, suster dan bruder, apakah yang mereka persembahkan?

Romo Juli menjelaskan bahwa umat tersebut harus mempersembahkan dirinya sendiri dengan cara mengikuti misa dengan baik, menghayati imannya dengan sungguh melalui Ekaristi Kudus.

Refleksi para seminaris

Materi mengenai Ekaristi ini belum sampai pada Doa Syukur Agung. Maka pada Sesi ketiga pada hari Minggu, Romo Juli akan melanjutkan untuk mengupas tuntas Ekaristi pada esok hari.

Selanjutnya, misa ditutup dengan Kidung Simeon dan berkat penutup dari Romo Matheus Juli, Pr.

Para seminaris sangat amat antusias membahas tentang Ekaristi. Tidak sedikit yang bertanya jawab, memahami lebih dalam dan mencatat materi tersebut di buku catatan mereka masing-masing.

Turut hadir pula Romo Fransiskus Suandi (Wakil Rektor) bersama Frater Alfa Amorista (Minister Seminari Menengah St. Laurensius) yang juga ikut serta menyimak materi mengenai Ekaristi tersebut.

Pertanyaan refleksi yang dilontarkan Romo Juli kepada para seminaris; Apakah sikap saya selama ini sudah benar dalam mengikuti Ekaristi? Pertanyaan ini agaknya sangat relevan bagi kita semua khususnya umat Katolik di manapun berada. (Berlanjut)

Kredit foto: Noell

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here