Menikmati Masa Muda

0
117 views
Ilustrasi - Anak-anak muda (Ist)

KEMARIN, Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati, misalnya.

Bacaan hari ini masih diwarnai pandangan pesimistik (sia-sia) tentang kehidupan, khususnya bagi kaum muda. Rupanya, ini nasihat dari kaum lanjut usia.

“Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan.” (Pengkhotbah 11: 9).

Diawali dengan anjuran positif, diakhiri dengan pengadilan Tuhan.

Kaum muda diajak untuk menikmati masa muda. Namun itu sia-sia. “Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.” (Pengkhotbah 11: 10).

Membuang kesedihan dan menjauhkan diri dari penderitaan itu juga sia-sia.

Pada masa mudanya orang diajak untuk ingat akan Sang Pencipta agar hidup bijaksana sebelum hari yang malang tiba (Pengkhotbah 11: 11).

Kenikmatan masa muda tidak dapat dinikmati selamanya. Semua akan lewat dan terasa sia-sia (Pengkhotbah 12: 8).

Agar menemukan makna di balik yang tampak sia-sia, manusia perlu ingat akan kata-kata pemazmur, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kamì beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90: 12).

Jangan sampai masa tua diwarnai penyesalan atas perilaku buruk di masa muda.

Jika tidak, masa tua bukanlah saat yang membahagiakan, melainkan sisa hidup yang dihantui dengan rasa takut akan kematian. Di sana kaum tua menyesali masa mudanya. Hidupnya makin meredup dan penuh rasa sakit “sebelum debu kembali menjadi tanah.” (Pengkhotbah 12: 7).

Hidup ini, baik di masa muda dan saat lansia bukanlah untuk mencari kenikmatan dunia; menghindari kesusahan atau penderitaan.

Hidup ini adalah kesempatan untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan yang sanggup memberikan yang sejatinya dirindukan setiap lubuk hati.

Di tengah dunia yang diwarnai hedonisme dan materialisme hidup semacam itu sulit dimengerti. Para murid Yesus juga tidak menangkap ketika Dia menunjukkan tujuan dan misi hidup-Nya, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” (Lukas 9: 44).

Dia memenuhi yang dikatakan-Nya di kayu salib dalam usia muda. Demikianlah Dia mempersembahkan hidup kepada Tuhan.

Sabtu, 24 September 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here