Tidak Mau Tahu

0
281 views
Ilustrasi - Mau lain beda sendiri. (Ist)

Renungan Harian
Jumat, 22 Oktober 2021
Bacaan I: Rom. 7:18-25a
Injil: Luk. 12: 54-59
 
“ROMO, hati saya sungguh-sungguh hancur. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana. Saya berdosa, amat berdosa. Saya benar-benar salah. Seandainya saya berani lebih tegas dan mau sedikit ribut, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
 
Romo, suami saya tahu bahwa pandemi covid ini amat berbahaya dan penularannya juga sudah kemana-mana.

Ia juga bercerita kalau beberapa temannya sudah terpapar dan harus dirawat di rumah sakit.

Ia juga bercerita bagaimana teman-temannya menderita karena terpapar virus ini. Bahkan ia juga menceritakan beberapa temannya sampai meninggal karena virus corona.
 
Romo, ia sadar bahwa semua orang bisa terpapar covid sehingga dia selalu menjaga kami, saya, dan anak-anak. Ia selalu menjelaskan harus bersih, harus jaga jarak dan semua hal agar kami semua selamat.

Bahkan ia melarang kami untuk membeli makanan dari luar. Anak-anak juga dilarang jajan. Ia minta saya untuk selalu memasak di rumah dan bikin camilan untuk anak-anak.

Saya melakukan semua itu, karena saya tahu semua demi kebaikan kami.
 
Tetapi, sikap dia terhadap dirinya, soal menghadapi pandemi ini yang sering bikin kami ribut sehingga pada titik tertentu saya mengalah, karena tidak mau ribut terus.

Ia yang tahu dan sadar akan bahaya virus ini. Tapi ia justru abai dengan segala yang dia katakan pada kami.

Ia mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang sehat, punya antibodi yang baik sehingga dia tidak akan tertular. Ia selalu marah kalau saya ingatkan agar tidak kumpul-kumpul dengan temannya.

Ia selalu mengatakan agar saya tidak parno, dan minta saya untuk mengerti bahwa dia dan teman-temannya adalah orang-orang sehat dan punya kekebalan tubuh yang baik.
 
Sampai kemudian dia terpapar dari temannya yang juga meninggal karena covid. Saya menyesal dan selalu dibayangi dosa besar.

Seandainya saya tidak menyerah, seandainya saya mau ribut setiap hari demi keselamatan dia, pasti dia sekarang masih bersama kami.

Romo, hari-hari saya terasa gelap dan airmata ini rasanya sudah kering,” seorang ibu bercerita saat saya merayakan ekaristi mengenang tujuh hari suaminya dipanggil Tuhan.
 
Mendengar cerita ibu itu, saya seperti ditegur keras juga.

Betapa di dalam banyak hal saya tahu, saya sadar bahkan saya bisa memberi tahu orang lain, tetapi untuk diri sendiri tidak peduli, tidak mau tahu, malas tahu. Di dalam banyak segi kehidupan itu yang sering terjadi, termasuk dalam hidup beriman.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas: “Kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”
 
Bagaimana dengan aku?

Apakah aku sadar akan tanda-tanda yang diberikan kepadaku dan telah memutuskan dengan benar?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here