CIA: Metode Ignatius Mengenal Allah (13)

0
1,664 views

BERDASARKAN pengalaman pribadinya, Ignatius mengenalkan suatu metode yang sangat khas agar mereka yang menjalani latihan rohani dapat mengenal Allah yang dikenal, diimani dan diikuti oleh Ignatius. Metode yang diperkenalkan oleh Ignatius adalah kontemplasi dan aksi. Atau lebih tepatnya adalah  kontemplasi di dalam aksi (contemplatio in actione/CIA).

Lewat kontemplasi kita dibantu untuk semakin mengenal Allah agar kita dapat semakin mengikuti dia. Lewat aksi atau tindakan, kita dibantu untuk semakin mampu mengikuti jejak Allah yang kita imani agar kita semakin mengenal Dia.

”Tindakan” yang dimaksudkan oleh Ignatius bukanlah sembarang tindakan, melainkan pola hidup miskin seperti dulu dipilih dan dihayati oleh Yesus sendiri.

Melawan ”Mammon”

Bagi Yesus  (dan juga bagi Ignatius), pola hidup miskin bukan sekedar penolakan terhadap harta kekayaan, melainkan pilihan hidup untuk melawan mammon, musuh terbesar Allah.  Menurut Romo Aloysius Pieris SJ –seorang Yesuit Srilanka– mammon ternyata mempunyai cakupan yang jauh lebih luas dari pada uang dan kekayaan.

Menurut dia, mammon adalah apa dan bagaimana kita berbuat terhadap kekayaan; apa dan bagaimana kekayaan itu telah ”memperlakukan” diri kita. Mammon adalah apa yang dijanjikan dan diberikan terhadap diri kita oleh kekayaan yang kita miliki. Itu bisa jadi merupakan rasa aman dan keberhasilan, kuasa dan prestise, maupun kedudukan.

Mammon juga dapat berupa keinginan yang tak terbendung untuk dihormati. Keinginan dan ambisi besar untuk diperlakukan sebagai pembimbing dan guru atau dipilih untuk selalu menjadi “pemimpin”.

Bagaimana memaknai harta

Memilih pola hidup miskin berarti secara sadar memilih cara hidup yang dilandasi oleh semangat sharing agar tidak ada orang yang hidup berlebihan sehingga orang lain hidup serba kekurangan. Kekayaan sendiri pada dasarnya baik, namun kekayaan akan menjadi jahat bila ditumpuk untuk kepentingan diri sendiri.

Berkaitan dengan hal ini, Romo Aloysius Pieris SJ lalu menulis: ”Kekayaan, karenanya, menjadi jahat bila ditumpuk.  Roti pun merupakan “dosa melawan Tubuh Kristus (yakni: jemaat)” bila hanya dimakan oleh segelintir orang, sementara mayoritas yang lain kelaparan (1Kor 11:21; 27).

Tetapi bila roti itu dipecah-pecah dan dibagikan, akan menjadi Tubuh Tuhan yang kita santap.  Demikian pula kekayaan. Bila dibagi-bagi “menurut kebutuhan” sehingga “tidak ada yang kekurangan” (Kis 4:34-35), kekayaan akan berhenti menjadi mammon, dan berubah menjadi sakramen.

Karenanya benarlah apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja (misalnya Yohanes Chrysostomus,  Hieronimus, Ambrosius, Augustinus), yang mengatakan sebagai berikut: ”Kalau ada orang yang miskin, hal itu disebabkan karena ada orang lain yang memiliki “lebih”.  Dn yang “lebih” ini tetap merupakan harta yang dicuri, sampai hal itu dibagi-bagikan kepada orang miskin.” (Bersambung)

Romo Ignatius L. Madya Utama SJ, pastor Yesuit dan dosen teologi STF Driyarkara Jakarta dan Pusat Pastoral Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here