Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Di kala Domba Tersesat Di Luar Jalur

0
68 views
Ilustrasi: Anak domba Allah.

Mat 18:12-14

Apakah saudara dan saudari kita yang memilih pindah Gereja atau pindah agama atau vakum dari Gereja, atau pindah menjadi ateis bisa disebut atau dikategorikan sebagai “domba” yang tersesat dan apa ukuran bagi Yesus bila ada “domba-Nya” tersesat?

Umumnya, dalam pandangan magisterium dan ajaran Gereja menyatakan: “Mereka yang tidak mengakui atau menyangkal iman kepada Yesus Kristus, melalui Injil, tradisi Gereja Para Rasul, dan ajaran magisterium yang diwakili oleh Paus dan Uskup-uskup adalah orang tersesat.

Dalam nada bahasa yang sedikit menohok mereka yang tidak mengakui ini disebut orang “murtad”.

Kesesatan juga bisa dikenakan kepada mereka yang melawan dan menyangkal dogma Gereja Katolik yang berkaitan dengan ke-Ilahian Yesus dan Maria sebagai Bunda Allah yang tetap perawan.

Mereka yang melawan dan menyangkal ini oleh Gereja Katolik disebut heresi atau bidaah.

Bagaimana respon Gereja terhadap mereka sebagai pihak yang dianggap sesat ini?

Dulu ada adagium Gereja yang menyatakan, “Di luar Gereja Allah atau di luar “bahtera Nuh” tidak ada keselamatan”.

Oleh otoritas Gereja, pihak yang dianggap sesat dan pembangkang diyakini sebagai pihak yang tidak mempunyai akses kepada keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.

Dulu otoritas Gereja, mengeluarkan sikap ketegasan tanpa ada toleransi sedikit pun kepada pihak-pihak yang berseberangan ini yaitu, diekskomunikasi dan dikutuk.

Seiring dengan perkembangan zaman, refleksi Gereja pun ikut berkembang dalam meresponsif pihak-pihak yang ada di luar Gereja.

Persisnya, sejak Konsili Vatikan ll tahun 1963, Gereja lebih lunak dan terbuka untuk berdialog dengan pihak-pihak yang ada di luar Gereja.

Responnya terhadap mereka yang ada di luar Gereja, tidak seserem di zaman sebelum Konsili Vatikan II.

Apa yang mendasari Gereja sehingga refleksinya bisa berubah seperti itu? Sangat mungkin, dia belajar dari sikap Sang Guru Agung yang lebih mengutamakan sikap bijak dan rendah hati.

Di kala Tuhan Yesus bertanya pada Gereja, “apa responmu ketika “domba”-Ku ada yang meloncat pagar dan hidup tersesat di luar”?

Apakah kamu marah, mengumpat, menghakimi, mengutuk, menghina dan membuang?

Gereja mesti sehati dan seperasan dengan cara kerja Tuhan Yesus yaitu, mencari, berdialog, mengajak membawa dia dengan hati yang lembut untuk pulang “ke rumah”, sehingga dia mendapatkan kembali hidupnya.

Sikap kelembutan tidak hanya bisa melunakkan, menjinakkan dan melemahkan kekerasan hati. Lebih dari itu, kelembutan bisa mengalahkan kekerasan.

Kadang mereka yang kita anggap “tersesat” dan hidup di luar Gereja, bisa saja dipakai alat oleh Tuhan Allah untuk menyiksa demi menguji sikap kelemah-lembutan dan sikap kesabaran Gereja (bdk. Keb 2:22).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk belajar bersikap seperti Tuhan Yesus.

Pesta sukacita untuk menyambut mereka yang sudah pulang “kerumah” tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang pulang setelah sekian lama tinggal di luar “kandang”, tetapi pesta itu juga meliputi mereka yang berhasil membawa pulang “domba-domba” yang tersesat itu.

Renungan: Maukah anda menjadi bagian dari pesta sukacita yang dirayakan Tuhan untuk menyambut kembalinya domba yang hilang?

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 10.12.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here